SELAMAT DATANG SAHABAT

SELAMAT DATANG SAHABAT

Anda adalah pengunjung yang ke .....

Counter

video denmas

Senin, 19 November 2007

Rabb

Rabb
Dahulu, saat awal penciptaanku, aku takut turun ke bumi. Aku takut sendiri. Tapi Kau menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang selalu menjagaku dengan kelembutan dekapannya, bahkan sampai rela mengorbankan jiwanya.


Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku khawatir bahwa bumi tak seindah surga. Tapi, Allah menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang mengajakku menikmati indahnya dunia dengan iman.

Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku takut tidak bisa berjumpa denganMu lagi. Tapi Allah menjanjikanku, bahwa nanti di bumi, akan ada malaikat yang membimbingku tuk mengenal Islam.

Duhai jiwa, terkenanglah kembali sosok malaikat itu. Ibu...

Lahirku ke dunia, berhutang darah dan nyawa pada ibuku. Perjuangan yang melalui garis batas antara hidup dan mati. Pengorbanan yang bukan dilakukan oleh pria yang gagah-perkasa, tapi oleh wanita dengan segala kelemahannya.

Ibu, maafkan aku...

Lahirku ke dunia, belum mengenal rintihan sakit yang kau derita. Lahirku ke dunia, belum mengenal hebatnya perdarahan yang kau alami. Dan lahirku di dunia pun, belum mengenal perih yang kau rasa.

Ibu, maafkan aku...

Kecilku dulu, aku belum mengenal kantukmu yang terbangun karena tangisanku. Pun aku belum mengenal lelahmu merawat dan membesarkanku. Ya, aku masih belum mengenal air mata yang selalu mengalir tiap saat kau mendo'akanku.

Ibu, maafkan aku...

Saat ku mulai bersekolah, aku masih saja belum menyadari bahwa kenakalanku cukup menguras kesabaranmu. Kejengkelan hatiku saat kanak-kanak dahulu, pernah berbuah bentakan padamu. Ibu, aku belum menyadari bahwa hatimu terluka, teriris perih, tapi kau tetap membelaiku lembut tanpa ada beda dari sebelumnya. Kontras dengan kerasnya intonasi ucapanku saat itu padamu.

Ibu, maafkan aku...

Remajaku dulu, aku masih belum mengenal bahasa penjagaanmu padaku. Kau larang aku pergi malam, kau menyuruhku tuk tetap tinggal, menemanimu yang tengah sendiri di rumah. Tapi aku lebih memilih keceriaan bersama teman. Aku lebih memilih kebersamaan bersama mereka.

Duhai Ibu, sekali lagi, maafkan anakmu, aku belum mengerti betapa berharganya kehadiranmu dalam segmen-segmen hidupku.

***

Mendungnya kota Pontianak sore ini, mengajak hatiku tuk merindu. Kelembutan awan kali ini, mengingatkanku akan kelembutan kasih sayang ibu. Keteduhan langit kali ini, membawaku teringat kembali akan keteduhan sorot mata ibu. Dingin yang kurasa ini, mengingatkanku akan hangatnya pelukan ibu.

Rabb, aku tak ingin mengenalnya kala ia telah tiada. Dewasaku kini, tak ingin terlambat mengenalnya. Aku tak ingin terlambat lagi memahami kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusannya.


Ibu...

Jagalah ia selalu, Rabb. Cintailah ia melebihi cintanya padaku. Hadirkan selalu keridhaanMu, sebagaimana ia selalu menghadirkan kebahagiaan dalam relung jiwaku. Tuntunlah ia menapaki jalan syurgaMu, sebagaimana ia selalu menuntunku tuk semakin mengenalMu. Dan baikkanlah akhir hayatnya, Rabb, melebihi baiknya kemuliaan akhlak yang ia ajarkan padaku.

Gaji Papa Berapa?

Untuk para orangtua yang selalu sibuk, mungkin bisa jadi renungan...
Untuk para calon orangtua, mungkin bisa dijadikan sebagai pegangan..


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu
dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu
bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji
Rp.

40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini
? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan
Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup
untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

Ibu

Ibu

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.
Kini giliran
diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri
Tuhan dan berkata
lembut: "Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan
untuk menciptakan
ibu ini?" dan Tuhan menjawab pelan: "Tidakkah kau
lihat perincian yang
harus dikerjakan?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi          kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! --- Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang         tangan....? tsk tsk tsk" ---
        "Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana
        sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik...." balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
       "Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran. Tuhan mengangguk- angguk.
       "Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang     tertutup rapat dan bertanya:
       "Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah          mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang          kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat          apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut          seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus          berkata:
         "Saya mengerti dan saya sayang padamu"Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
         "Tuhan", kata malaikat itu lagi,"Istirahatlah"
         "Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....

Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
"Terlalu lunak", katanya memberi komentar."Tapi kuat", kata Tuhan bersemangat.
"Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita. "Apakah ia   dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
 "Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi" , kata    Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh, ada kebocoran disini"
"Itu bukan kebocoran", kata Tuhan. "Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan,
airmata...., airmata.. .."

Akhirnya Malaikat berkata pelan pada pembaca..... ....:
" JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI
KEPADA ORANG LAIN,
AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI,
MENCINTAI &
MENYAYANGI IBUNYA"

Minggu, 18 November 2007

Naik-turun...

Naik-turun...


- Betapa senang hati Jon Koplo dan Tom Gembus ketika diterima sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas markotop di Surakarta. Namun masalah mulai muncul ketika masuk kuliah pertama.
Ndilalah ruang kuliahnya ada di lantai tiga, sehingga untuk menuju ke sana harus melalui lift. Padahal sak jeg jumleg yang namanya lift mereka belum pernah srawung. Celakanya lagi, untuk bertanya ke orang lain mereka gengsi, takut dikira wong ndesa.
”Tenang wae Mbus. Nanti kalau ada orang masuk, kita ikut saja,” siasat Koplo.
Bener saja, tak lama kemudian ada orang masuk lift. Jon Koplo dan Tom Gembus langsung nginthil di belakangnya. Berlagak sopan, Koplo mempersilakan orang tadi untuk menekan tombol mesin jalan. Ketika orang tadi keluar, Koplo dan Gembus sebenarnya mau ikut keluar tapi ragu sampai di lantai berapa. Mau tanya ke orang tadi, mereka gengsi.
Sekarang giliran seorang cewek masuk. Seperti sebelumnya, dengan menggunakan bahasa isyarat tangan mereka mempersilakan cewek tadi menjalankan lift. Beberapa saat kemudian ketika pintu lift dibuka, mereka malah kaget. ”Lho Plo, ini kan lantai dasar yang tadi?” Gembus heran.
Sementara di depan pintu lift beberapa orang sudah antre akan naik. Koplo dan Gembus pun melanjutkan rencananya untuk naik ke lantai tiga. Ketika orang-orang keluar Koplo dan Gembus ikut keluar. Kali ini mereka memberanikan diri bertanya kepada seseorang yang ada di lantai tersebut. Ternyata lantai yang mereka ambah adalah lantai empat. Mereka pun segera masuk ke lift lagi. Dan ketika pintu terbuka, we lhadalah, lagi-lagi mereka kembali ke lantai dasar lagi. Jengkel campur judheg, Koplo dan Gembus keluar dari lift tersebut.
”Kesel aku Mbus. Wis-lah, ora sah kuliah dina iki. Paling-paling ya wis telat,” keluh Koplo.
Tiba-tiba seorang Satpam datang menghampiri mereka. ”Eh, Mas, sampean berdua ini mau ke mana? Dari tadi saya perhatikan kok naik turun lift?” tanya Satpam tersebut.
”Ohhh... Anu kok Pak, tadi kami mau kuliah ke lantai tiga, tapi katanya kosong, jadi ya turun lagi. Lha sampai di sini ternyata saya di-SMS teman, katanya kuliahnya pindah di lantai empat. Setelah kami ke sana, eee ternyata sepi tidak ada orang. Ya terus kami turun lagi,” terang Jon Koplo beralasan. Gembus pun menimpali, ”Iya Pak, he-he-he... sekarang kami mau pulang dulu... Mari, Pak...!”
Keduanya pun segera angkat kaki meninggalkan Pak Satpam yang masih gedhek-gedhek penuh tanda tanya.

Gembusnya ada 2

Gembusnya ada 2


- Omong-omong soal salah sambung, bukan hanya Jon Koplo yang mengalami, seperti lakon Ah Tenane kemarin. Kejadian itu juga menimpa Lady Cempluk, seorang reporter magang yang bekerja di sebuah penerbitan di Solo.
Alkisah, beberapa waktu lalu Keraton Surakarta Hadiningrat kesripahan kerbau piaraannya yang bernama Kyai Slamet.
Oleh redaktur yang mengampu halaman Kota di koran tersebut, Cempluk ditugaskan untuk meliputnya. Ia diminta untuk konfirmasi dengan pihak keraton perihal kematian kerbau yang dianggap keramat tersebut.
”Pluk, coba kamu hubungi kerabat keraton yang namanya Bapak Tom Gembus,” perintah redakturnya melalui HP.
Namanya saja reporter magang, masih semangat-semangatnya bekerja, Lady Cempluk pun cuma nggah-nggih-nggah-nggih saja. Sebelum meliput ke keraton, Cempluk berinisiatif ngebel dulu ke Pak Gembus. Cuma sayangnya, Cempluk belum tahu nomor teleponnya. Makanya ia minta informasi kepada Gendhuk Nicole, rekan senegaranya.
Nah, di sinilah letak kelucuan itu terjadi. Ternyata oh ternyata, nama ”Gembus” yang diinformasikan Gendhuk Nicole itu bukannya Tom Gembus kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, melainkan Jon Gembus pejabat Dinas Pasar Surakarta. Memang kebetulan nama beliau-beliau itu nyaris sama.
”Selamat siang, Pak. Apa benar saya bicara dengan Bapak Gembus?” tanya Cempluk melalui telepon.
”Ya, saya sendiri Pak Gembus. Ini siapa?” Pak Gembus balik tanya.
”Saya Lady Cempluk Pak. Cuma mau konfirmasi saja Pak, apa betul kerbau milik Bapak baru saja meninggal?” tanya Cempluk.
”Apa? Kerbau? Kerbau yang mana? Saya tidak punya kerbau kok,” elak Pak Gembus.
Kurang puas dengan jawaban Pak Gembus, Cempluk pun masih ngoyak, ”Maaf Pak, Bapak tidak sedang bercanda kan? Saya baru saja mendapat informasi, bahwa kerbau Kyai Slamet milik Bapak baru saja meninggal. Betul begitu?”
”Lho, kalau soal itu kenapa tidak tanya ke pihak keraton saja? Adik tidak sedang bercanda kan?” balas Pak Gembus.
Sampai di sini Lady Cempluk mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
”Maaf Pak, apa betul saya ini bicara dengan Pak Tom Gembus, kerabat Keraton Kasunanan Surakarta?” Cempluk meyakinkan.
”Oooh, salah sambung Dik. Saya Jon Gembus, Dinas Pasar Surakarta, bukan kerabat keraton,” jawab Pak Gembus sambil tertawa.
Mak dheg! Lady Cempluk baru ngeh kalau tadi rupanya salah sambung. Sembari minta maaf, Cempluk menutup telepon dengan perasaan malu yang nggak ketulungan.