SELAMAT DATANG SAHABAT

SELAMAT DATANG SAHABAT

Anda adalah pengunjung yang ke .....

Counter

video denmas

Kamis, 10 April 2008

Ikan Aneh dari Ambon Punya Mata Seperti Manusia


Ikan Aneh dari Ambon Punya Mata Seperti Manusia



Seekor ikan yang ditemukan di perairan Ambon sangat aneh karena memiliki mata seperti manusia. Tidak seperti ikan lainnya, kedua matanya menghadap ke depan di permukan mukanya yang rata. Sirip punggung, sirip ekor, dan sirip bawah dilapisi kulit yang lembut dan tipis yang bergaris-garis coklat muda dan putih. Hewan seukuran genggaman tangan manusia ini sangat luwes menyelinap di antara celah karang sehingga jarang ditemui.

Secara umum ikan tersebut dikelompokkan sebagai ikan penjerat (anglerfish) atau ikan katak (frogfish) yang suka berdiam di satu tempat dan memancing mangsanya datang. Namun, sosoknya yang aneh tak dijumpai dalam literatur ikan manapun. Ikan tersebut ditemukan pertama kali oleh pemandu selam Toby Fadilsyair lima belas tahun lalu. Namun, sampai sekarang proses identifikasi terhadap ikan tersebut belum pernah dilakukan karena sulitnya merekamnya dari dekat.

Beruntung, pada Januari 2008 lalu, penyelam Mark Snyder dari Maluku Divers berhasil memotret seekor di antaranya dari dekat dan dari berbagai sudut. Foto-foto tersebut kemudian dikirim kepada Profesor Theodore Pietsch, pakar ikan dari Sekolah Kelautan dan Ilmu Perikanan Universitas Washington untuk diidentifikasi.

"Begitu saya melihat foto tersebut, saya tahu bahwa ia jenis anglerfish karena sirip-sirip di sisi badannya yang mirip kaki," ujar Pietsch. Sirip yang khas ini berfungsi untuk membantu ikan tersebut merayap di dasar laut daripada berenang untuk berpindah ke tempat lain. Namun, tidak seperti ikan penjebak umumnya, ia tak memiliki semacam pancing di atas kepalanya untuk menarik perhatian mangsa.

Mukanya yang rata dan dua mata yang menghadap ke depan membuatnya kaget karena tidak pernah ditemuinya selama 40 tahun mempelajari karakteristik ikan. Kebanyakan ikan memiliki mata yang menghadap ke kanan dan kiri badannya. Sepasang mata yang menghadap ke depan membuat ikan tersebut memiliki kemampuan melihat secara binokuler layaknya manusia. Sepasang mata yang melihat objek sama seperti ini sangat berguna karena dapat menentukan jarak objek di depannya dengan lebih tepat.

Meski bukti-bukti cukup kuat, perlu identifikasi langsung baik secara moefologi maupun tes DNA untuk memastikan apakah ikan ini dapat dimasukkan sebagai kelompok tersendiri. Sejauh ini para ilmuwan telah mengelompokkan ikan-ikan penjerat ke dalam 18 familia dan Pietsch yakin ikan ini masuk ke dalam familia ke-19. Untuk mengungkapnya, Pietsch telah mendapat sokongan dari lembaga riset AS National Sience Foundation.
(AP/LIVESCIENCE/WAH) foto: M. Snyder © 2008 Kompas

Minggu, 20 Januari 2008

Cara Mudah Memutihkan Gigi

Cara Mudah Memutihkan Gigi

Gigi yang putih tentu menjadi dambaan banyak orang. Sayangnya, minuman dan makanan yang kita makan bisa menyebabkan noda pada gigi. Menyikat gigi ternyata sering juga tak mampu menghilangkan noda membandel pada gigi. Cara termudah adalah menghindari makanan yang bisa meninggalkan noda. Berikut ini tips mudah menjaga gigi agar tetap putih.

Pertama, gunakan sedotan jika minum kopi, teh, coca-cola dan anggur merah. Dengan demikian, minuman tak perlu langsung mengena pada gigi.

Kedua, perbanyak makanan yang bisa berperan sebagai pemutih gigi secara alamiah seperti buah dan sayuran. Apel, wortel dan seledri terbukti cukup efektif untuk ‘membersihkan' gigi.

Ketiga, sejumlah makanan menciptakan lapisan ‘film' yang akan melindungi gigi dari terbentuknya noda. Brokoli, daun selada dan bayam adalah makanan yang bisa mencegah terbentuknya noda gigi.

Keempat, buah strawberry punya kekuatan tersendiri untuk memutihkan. Hancurkan buah strawberry, kemudian dengan menggunakan jari, tempelkan pada gigi dan biarkan selama satu atau dua menit. Setelah itu gosok dengan sikat gigi secara menyeluruh.

Kelima, di pasaran juga tersedia berbagai produk pemutih gigi. Umumnya pemutih gigi ini berbahan aktif carbamide peroxides yang akan bekerja dengan mengoksidasi noda yang menempel pada gigi. Umumnya butuh waktu sekitar dua minggu untuk melihat hasilnya dan perlakuan ini seringkali perlu diulang setiap enam bulan.

Senin, 07 Januari 2008

Rumah Lelaki

Rumah Lelaki
Yusuf Arifin

Sejak kecil ia selalu dicekoki oleh orangtuanya bahwa rumahlah pelabuhan hidup. Dari sebuah rumahlah seseorang pergi berlayar dan kembali ke rumahlah ia akan berlabuh. Dunia menyediakan petualangan tetapi rumah adalah tempat berlindung ketika seseorang perlu berkeluh kesah atau untuk berbagi kegembiraan. Hancurnya sebuah rumah adalah pertanda hancurnya dunia yang melingkupi orang.

Ia memang tak pernah membantah cekokan itu. Masa kecilnya membahagiakan. Orang tuanya sempurna dalam segalanya, kakak dan adiknya tanpa cacat. Kehidupan berjalan tanpa riak yang berarti. Kesedihan kadang-kadang terjadi, seperti ketika ayahnya meninggal, tetapi kegembiraan adalah yang utama mewarnai hidupnya. Lagipula apalah arti kebahagiaan tanpa adanya kesedihan dan kegembiraan yang datang bergantian. Bukankah kebahagiaan adalah pastinya hati untuk menyambut ketika kegembiraan dan kesedihan datang?

Dengan bekal itulah ia kemudian memutuskan tiba waktunya untuk membuat pelabuhan sendiri, rumahnya sendiri. Ia harus keluar merengkuh dunia sebelum ia bisa membangun rumahnya sendiri. Sudah 24 musim dedaunan gugur ketika ia memutuskan itu. Kakak-kakaknya sudah mapan dengan rumah mereka sendiri. Masih ada beberapa adiknya di rumah namun mereka belum saatnya untuk pergi.

Ibunya mencium dengan kasih sayang. ''Bila sudah kokoh tiang rumahmu, undanglah aku dengan segera,'' pesan ibunya ketika ia pamit.

Ia tertunduk, matanya membening oleh air mata, tangannya mengelus tangan ibunya yang mulai penuh kerutan.

Dan begitulah. Waktupun berjalan persis seperti jutaan tahun sebelumnya. Matahari dan bulan tenggelam dan muncul bergantian sesuai garis edarnya.

Satu hari adalah 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Kadang sepertinya berjalan lebih lambat, kadang sepertinya lebih cepat, tetapi hatilah yang mengatakan itu, bukannya waktu. Waktu bergerak tanpa perasaan apapun juga. Berapa ribu kali langit berganti dari gelap ke terang, dari terang ke gelap.

Dan ia yang sudah meninggalkan rumah menyusuri dunia bersama waktu. Dari ujung ke ujung, dari batas ke batas, dari mana nafkah hidup mengulurkan tangan. Begitulah ia. Tentu saja ia tak lupa, masih jelas terngiang dibenaknya mengapa ia pergi, rumahlah pada akhirnya pelabuhan perjalanan ini, rumahnya sendiri.

''Rumahku sendiri. Bagaimana cara memulainya,'' gumamnya pelan.

Setiap kali ia merenungkan hal itu, setiap kali pula otaknya bergegas memulai perjalanannya kembali. Matanya menatap awas ke sekitar tetapi pikirannya melayang-layang. Tertanam betul nasehat ayahnya.

''Fondasi rumah harus kuat. Karena tanpa fondasi yang kuat rumah akan mudah rubuh. Inilah awal dari segala awal. Yang paling penting.''

Ia tersenyum. Ratusan kali ayahnya mengatakan hal itu. Yang pasti dilanjutkan dengan betapa tidak bedanya fondasi rumah dengan fondasi perkawinan. Fondasi rumah yang kuat akan mampu menghadapi angin ribut dan gempa. Fondasi perkawinan yang kuat akan mampu mengarungi tantangan yang seberapapun beratnya.

Ayahnya memang selalu mengaitkan rumah dengan perkawinan. Ah ... ayahnya memang seorang yang bijak. Ia masih sering merindukannya.

Ia menjadi teringat akan ruang keluarga rumahnya yang besar, hangat dan nyaman. Dua sofa yang besar menjadi titik pusatnya. Beberapa bantal besar teronggok di kaki sofa, siap menerima siapun yang ingin rebah diatasnya. Ada beberapa foto keluarga dan foto ayah dan ibunya saat masih muda. Entah berapa ribu jam ia habiskan waktu di ruang itu sekeluarga.

''Kalian tahu mengapa ruang keluarga ini aku buat senyaman mungkin?'' pernah ayahnya bertanya. ''Karena inilah tempat kita bersilaturahmi sebagai satu keluarga. Suka dan duka kita bagi bersama di tempat ini. Kalau kita punya persoalan kita pecahkan di tempat ini. Kalau kalian ingin menangis atau tertawa inilah tempatnya.

''Ia bersama kakak dan adiknya tak perlu bertanya tentang ruang lain di rumah, karena tanpa diminta ayahnya mulai berceramah.

''Rumah... rumah....rumah. Rumahlah segalanya. Aku buatkan kalian semua kamar sendiri agar kalian belajar bertanggungjawab. Harus kalian bersihkan dan tata sendiri, karena pada akhirnya kalian harus hidup sendiri-sendiri terpisah dari aku dan ibumu. Aku dan ibumu pasti suatu saat akan mati.

''Matanya akan memerah, suara sedikit pelan dan bergetar. Ia sekeluarga akan terdiam sendu. Adiknya yang paling bungsu selalu bergeser mendekat dan kemudian memijat-mijat kaki ayahnya.

Ayahnyapun kemudian akan mengelus-elus pundak ibunya sambil berkata, ''Tentu saja aku juga membuat kamar untuk aku sendiri dan ibumu. Kalianpun nanti akan begitu. Kami, ayahmu dan ibumu, perlu ruang pribadi. Untuk memadu cinta, untuk saling marah kadang-kadang, dan untuk membicarakan kalian tanpa kalian tahu.''

Kata-kata memadu cinta selalu membuat ibu tersenyum. Ia, kakak-kakaknya dan adik-adiknya juga ikut tersenyum.

''Ah ayah kalian memang kurang kerjaan,'' begitu selalu kata ibunya tersipu. Tetapi tak pernah ia mendengar ibunya tak mengiyakan perkataan ayahnya.

Percakapan mereka selalu kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang atap rumah mereka. ''Sengaja aku bikin lancip ke atas sebagai simbol. Untuk mengingatkan pada aku dan ibu kalian bahwa perkawinan antara aku dan ibu kalian semoga saja merupakan tangga titian ke sorga. Menuju ke atas.''

Wajah ayahnya akan tiba-tiba serius dan ibunya akan menepuk paha ayahnya dengan perlahan sambil tersenyum gembira.

''Rumah....rumah...rumah,'' helanya perlahan. Walau rutin berkabar ke ibunya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk berkabar ibunya di rumah saat itu juga. Tetapi apa yang mau dikatakannya? Tiba-tiba teringat percakapan mereka dulu dengan ayahnya? Kedengarannya sangat sentimentil untuk seorang lelaki seperti ia.

Minggu, 06 Januari 2008

Jauhkan Bayi dari TV!

Jauhkan Bayi dari TV!

Lihat Gambar

KapanLagi.com - Meski sudah banyak diciptakan acara khusus televisi dan rancangan film untuk bayi, tetap tak bisa mengubah pemikiran bahwa televisi bisa membawa dampak buruk bagi otak si kecil. Menurut sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini secara tegas menyebutkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi.

"Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi," demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.

Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi.

Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.

Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.

Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya. Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.

Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. (kpl/boo)

Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa

Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa

Lihat Gambar






Dan kemalangan yang dialami seseorang di masa kanak-kanak memberikan kontribusi besar pada kemiskinan hidup yang dialaminya di saat dewasa, kata seorang peneliti Universitas Monash Australia.

Korelasi erat antara pengalaman buruk masa kanak-kanak dan kemiskinan itu diungkapkan Direktur Pusat Nasional Riset Pencegahan Penganiayaan Anak (NRCPCA) Universitas Monash, Prof.Chris Goddard, berdasarkan hasil riset terbaru pihaknya.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di Jurnal Internasional Child Abuse Review itu, katanya, mendapati pengalaman buruk dan malang di masa kanak-kanak berhubungan erat dengan fungsi keluarga, seperti penganiayaan terhadap anak, kekerasan keluarga, kehidupan keluarga yang porak-poranda serta anak-anak lari dari rumah di usia belia mereka.

Prof.Goddard mengatakan, semua pengalaman buruk tersebut memberikan sumbangan besar terhadap terjadinya kemiskinan sebagaimana dialami sekelompok orang yang hidupnya miskin di usia dewasanya.

Dari hasil kajian yang menggunakan metode wawancara berkedalaman dengan para respondennya itu, terungkap bahwa akumulasi kemalangan hidup di masa kanak-kanak tersebut tidak hanya membawa masalah kesehatan fisik dan kejiwaan tetapi juga memengaruhi kemampuan orang bersangkutan untuk bisa mencapai sukses dalam mengikuti sistem pendidikan dan lapangan kerja.

Akibatnya, mereka yang mengalami kemalangan dan hal-hal buruk lainnya semasa kanak-kanaknya akan menghadapi persoalan dalam kemampuan fisik, kejiwaan dan ekonominya di dalam kehidupan mereka kelak, katanya.

Sementara itu, Peneliti senior NRCPCA, Dr.John Frederick berpendapat, untuk membantu mereka yang mengalami masa kanak-kanak yang suram sehingga terhindar dari kemungkinan masuk ke dalam jurang kemiskinan, instansi terkait, seperti lembaga pelayanan perlindungan anak, perlu memberikan dukungan kepada mereka secara efektif sejak dini.

Intervensi yang efektif semacam itu merupakan modal terbaik bagi mereka, katanya. (*/cax)

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Lihat Gambar

Khawatir merupakan salah satu aktivitas yang paling tak berguna yang biasanya kita lakukan. Rasa khawatir yang didasarkan emosi apalagi, malah akan membuat keadaan jadi semakin buruk. Bahkan, menurut sebuah penelitian menunjukkan kalau beberapa penyakit dan masalah kesehatan disebabkan oleh rasa khawatir ini. Setiap orang pasti merasakan khawatir akan banyak permasalahan kehidupan ini. Dan mengatasi emosi berbahaya ini adalah salah satu cara yang berguna untuk menjaga kesehatan Anda.

- Semua orang dalam hidup ini pasti pernah menghadapi situasi yang sulit. Orang-orang yang mampu mengatasi keadaan ini, lebih sukses, sehat dan bahagia. Tapi yang membiarkan dirinya ditelan habis-habis oleh rasa khawatir ini, akan mengalami kehidupan yang penuh dengan tekanan.

- Banyak guru spiritual sepanjang sejarah telah mengajarkan nilai pelajaran dari fokus pada saat ini. Melakukan hal ini akan mengurangi rasa khawatir secara instant. Orang biasanya merasa khawatir saat mulai memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari soal masalah yang dihadapi saat ini. Setiap individu tak punya pilihan tapi bukan berarti membayangkan hal-hal yang belum terjadi akan membut masalah jadi selesai. Akan lebih mudah bagi kita untuk bertahan pada SAAT INI. Sering-sering lah berlatih seperti ini.

- Pikiran manusia itu sebuah mesin yang kreatif. Saat orang membayangkan masa depan, mereka akan terdorong membayangkan juga 'skenario buruk.' Banyak pengalaman yang menunjukkan biasanya keadaan sebenarnya jauh berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan. Kebanyakan masalah yang kita hadapi terpecahkan dengan cara yang layak sesuai dengan penerimaan kita. Sebenarnya, kita sendiri yang selalu mendorong diri sendiri untuk merasa takut dan khawatir.

- Cara termudah mengatasi rasa khawatir adalah menjawab tiga pertanyaan. Menggunakan tiga proses ini akan membantu Anda mengambil tindakan penting mengatasi rasa takut dan melakukan tindakan. Lakukan dalam hidup Anda, dan lihat hasilnya. Tiga pertanyaan tersebut adalah:

1. Tanyakan pada diri Anda hal buruk apa yang akan terjadi dalam masalah ini? Biasanya, jawabannya datang secara alamiah. Dalam hal ini, proyeksi negatif juga membantu. Bayangkan hal buruk apa yang bisa terjadi.

2. Tanyakan pada diri Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi keadaan ini? Kalau muncul bayangan-bayangan buruk sebagai hasilnya, yakinkan diri Anda pasti mampu bertahan dengan keadaan itu. Apa pun yang terjadi yang bisa Anda bayangkan pasti lebih mudah untuk Anda atasi.

3. Akhirnya, tanyakan pada diri Anda langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk memastikan skenario-skenario buruk itu tak akan pernah terjadi? Dengan melakukan tindakan untuk mencegah kesimpulan buruk terjadi, kita bergerak ke hasil yang lebih baik. Kebetulan, tindakan adalah pemecahan paling konsisten dalam mengatasi rasa khawatir.

Saat kita menghadapi situasi buruk, biasanya memang cenderung terus-menerus memikirkan situasi yang salah itu, dan mendorong kita jadi stress berat. Jadi mudah saja, tiap kali kekhawatiran menyerang praktekkan langkah-langkah tadi. (kpl/erl)

Jari Manis Peneropong Segalanya

Jari Manis Peneropong Segalanya

Lihat Gambar

Wanita yang memiliki jari manis lebih panjang ada baiknya mulai berhati-hati, pasalnya penelitian terbaru menyebutkan wanita dengan ukuran jari manis lebih panjang dari jari telunjuknya rentan mengalami gangguan radang sendi (arthritis).

Pada umumnya jari telunjuk dan jari manis pada wanita memiliki panjang yang sama, sementara pada pria jari manis cenderung lebih panjang dari jari telunjuknya.

Ilmuwan mendapati wanita yang memiliki jari manis lebih panjang beresiko ganda mengidap osteoarthritis (penyakit degeneratif pada persendian), dibanding mereka yang memiliki jari berukuran standar.

"Wanita yang memiliki jari manis dengan pola pria atau jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk beresiko menderita osteoathritis pada lutut. Mekanisme dasarnya belum jelas dan masih dibutuhkan penelitian lebih jauh tentang hal ini," jelas Professor Michael Doherty, ketua penelitian, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Jumat (04/01/08).

Untuk riset ini, para peneliti dari Universitas Nottingham menganalisa jemari tangan 2 ribu penderita radang sendi dan seribu orang tanpa gangguan arthritis di usia ke-60.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism ini menggunakan bantuan sinar X pada kedua tangan responden dan mengukur panjangnya jari menggunakan tiga metode yang meliputi perbandingan jarak pangkal di antara dua jari, mengukur rasio dari pangkal sampai ujung jari, dan mengukur rasio panjang tulang jari manis dan telunjuk.

Faktor-faktor lain juga dilibatkan dalam riset ini, seperti kurangnya berolah raga atau kemungkinan cedera yang pernah dialami responden.

Dan hasilnya mayoritas penderita arthritis dijumpai pada wanita yang memiliki jari manis lebih panjang.

Panjang Jari dan Homoseksualitas

Studi perbandingan dua jari (jari manis dan jari telunjuk) dan radang sendi ini baru pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya penelitian tentang perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis terhadap tingkat kecerdasan pernah dilakukan pada awal 2007 lalu.

Meski belum bisa menemukan penyebab pastinya, namun ilmuwan yakin faktor genetik juga turut berperan. Sementara yang lainnya mengkaitkan hubungan hormon testosteron dalam kandungan.

Teori ini didasarkan pada kenyataan tingkat testosteron dan estrogen yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil, dan tentu saja juga berbeda pada tingkat pertumbuhan otak dan pertumbuhan jari bayi yang dikandung.

Sebelumnya ilmuwan dari University of Liverpool menyatakan hubungan panjang jari-jari manusia dengan kepribadian manusia. Mereka menemukan tendensi depresi dan homoseksual pada pria yang memiliki jari telunjuk lebih pendek dari jari manis, dan hal yang sama juga berlaku juga pada perempuan yang memiliki jari manis lebih panjang.

Sementara itu, sebuah studi di Kanada pada 2005 lalu menemukan jari telunjuk yang lebih pendek menunjukkan tingkat agresif pada anak-anak.

Dan tahun lalu, para psikolog dari Bath University mengukur tingkat kecerdasan anak-anak dilihat dari panjang jari mereka. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan berhitung lebih tinggi dibanding kemampuan verbal dan bahasa. Sebaliknya, anak yang jari telunjuknya lebih panjang memiliki kemampuan verbal dan membaca yang lebih baik. (dailymail/rit)

Kabar Penting

Bagi anda yang menginginkan kabar tentang sertifikasi guru, khususnya yang dari Kalimantan Barat. Cukup dari sini saja anda sudah dapat mengetahui semuanya.
Silahkan dicoba.

Senin, 19 November 2007

Rabb

Rabb
Dahulu, saat awal penciptaanku, aku takut turun ke bumi. Aku takut sendiri. Tapi Kau menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang selalu menjagaku dengan kelembutan dekapannya, bahkan sampai rela mengorbankan jiwanya.


Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku khawatir bahwa bumi tak seindah surga. Tapi, Allah menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang mengajakku menikmati indahnya dunia dengan iman.

Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku takut tidak bisa berjumpa denganMu lagi. Tapi Allah menjanjikanku, bahwa nanti di bumi, akan ada malaikat yang membimbingku tuk mengenal Islam.

Duhai jiwa, terkenanglah kembali sosok malaikat itu. Ibu...

Lahirku ke dunia, berhutang darah dan nyawa pada ibuku. Perjuangan yang melalui garis batas antara hidup dan mati. Pengorbanan yang bukan dilakukan oleh pria yang gagah-perkasa, tapi oleh wanita dengan segala kelemahannya.

Ibu, maafkan aku...

Lahirku ke dunia, belum mengenal rintihan sakit yang kau derita. Lahirku ke dunia, belum mengenal hebatnya perdarahan yang kau alami. Dan lahirku di dunia pun, belum mengenal perih yang kau rasa.

Ibu, maafkan aku...

Kecilku dulu, aku belum mengenal kantukmu yang terbangun karena tangisanku. Pun aku belum mengenal lelahmu merawat dan membesarkanku. Ya, aku masih belum mengenal air mata yang selalu mengalir tiap saat kau mendo'akanku.

Ibu, maafkan aku...

Saat ku mulai bersekolah, aku masih saja belum menyadari bahwa kenakalanku cukup menguras kesabaranmu. Kejengkelan hatiku saat kanak-kanak dahulu, pernah berbuah bentakan padamu. Ibu, aku belum menyadari bahwa hatimu terluka, teriris perih, tapi kau tetap membelaiku lembut tanpa ada beda dari sebelumnya. Kontras dengan kerasnya intonasi ucapanku saat itu padamu.

Ibu, maafkan aku...

Remajaku dulu, aku masih belum mengenal bahasa penjagaanmu padaku. Kau larang aku pergi malam, kau menyuruhku tuk tetap tinggal, menemanimu yang tengah sendiri di rumah. Tapi aku lebih memilih keceriaan bersama teman. Aku lebih memilih kebersamaan bersama mereka.

Duhai Ibu, sekali lagi, maafkan anakmu, aku belum mengerti betapa berharganya kehadiranmu dalam segmen-segmen hidupku.

***

Mendungnya kota Pontianak sore ini, mengajak hatiku tuk merindu. Kelembutan awan kali ini, mengingatkanku akan kelembutan kasih sayang ibu. Keteduhan langit kali ini, membawaku teringat kembali akan keteduhan sorot mata ibu. Dingin yang kurasa ini, mengingatkanku akan hangatnya pelukan ibu.

Rabb, aku tak ingin mengenalnya kala ia telah tiada. Dewasaku kini, tak ingin terlambat mengenalnya. Aku tak ingin terlambat lagi memahami kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusannya.


Ibu...

Jagalah ia selalu, Rabb. Cintailah ia melebihi cintanya padaku. Hadirkan selalu keridhaanMu, sebagaimana ia selalu menghadirkan kebahagiaan dalam relung jiwaku. Tuntunlah ia menapaki jalan syurgaMu, sebagaimana ia selalu menuntunku tuk semakin mengenalMu. Dan baikkanlah akhir hayatnya, Rabb, melebihi baiknya kemuliaan akhlak yang ia ajarkan padaku.

Gaji Papa Berapa?

Untuk para orangtua yang selalu sibuk, mungkin bisa jadi renungan...
Untuk para calon orangtua, mungkin bisa dijadikan sebagai pegangan..


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu
dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu
bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji
Rp.

40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini
? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan
Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup
untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.

Ibu

Ibu

Ketika itu, Tuhan telah bekerja enam hari lamanya.
Kini giliran
diciptakan para ibu. Seorang malaikat menghampiri
Tuhan dan berkata
lembut: "Tuhan, banyak nian waktu yg Tuhan habiskan
untuk menciptakan
ibu ini?" dan Tuhan menjawab pelan: "Tidakkah kau
lihat perincian yang
harus dikerjakan?
01) Ibu ini harus waterproof (tahan air / cuci) tapi bukan dari plastik.
02) Harus terdiri dari 180 bagian yang lentur, lemas dan tidak cepat capai
03) Ia harus bisa hidup dari sedikit teh kental dan makanan seadanya untuk mencukupi          kebutuhan anak-anaknya
04) Memiliki kuping yang lebar untuk menampung keluhan anak-anaknya
05) Memiliki ciuman yang dapat menyembuhkan dan menyejukan hati anaknya.
06) Lidah yang manis untuk merekatkan hati yang patah, dan
07) Enam pasang tangan!! --- Malaikat itu menggeleng-gelengkan kepalanya "Enam pasang         tangan....? tsk tsk tsk" ---
        "Tentu saja! Bukan tangan yang merepotkan Saya, melainkan tangan yang melayani sana
        sini, mengatur segalanya menjadi lebih baik...." balas Tuhan.
08) Juga tiga pasang mata yang harus dimiliki seorang ibu.
       "Bagaimana modelnya?" Malaikat semakin heran. Tuhan mengangguk- angguk.
       "Sepasang mata yang dapat menembus pintu yang     tertutup rapat dan bertanya:
       "Apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?", padahal sepasang mata itu sudah          mengetahui jawabannya. "Sepasang mata kedua sebaiknya diletakkan di belakang          kepalanya, sehingga ia bisa melihat ke belakang tanpa menoleh. Artinya, ia dapat melihat          apa yang sebenarnya tak boleh ia lihat dan sepasang mata ketiga untuk menatap lembut          seorang anak yang mengakui kekeliruannya. Mata itu harus bisa bicara! Mata itu harus          berkata:
         "Saya mengerti dan saya sayang padamu"Meskipun tidak diucapkan sepatah kata pun.
         "Tuhan", kata malaikat itu lagi,"Istirahatlah"
         "Saya tidak dapat, Saya sudah hampir selesai"
09) Ia harus bisa menyembuhkan diri sendiri kalau ia sakit.
10) Ia harus bisa memberi makan 6 orang dengan satu setengah ons daging.
11) Ia juga harus menyuruh anak umur 9 tahun mandi pada saat anak itu tidak ingin mandi....

Akhirnya Malaikat membalik balikkan contoh Ibu dengan perlahan.
"Terlalu lunak", katanya memberi komentar."Tapi kuat", kata Tuhan bersemangat.
"Tak akan kau bayangkan betapa banyaknya yang bisa ia tanggung, pikul dan derita. "Apakah ia   dapat berpikir?" tanya malaikat lagi.
 "Ia bukan saja dapat berpikir, tapi ia juga dapat memberi gagasan, ide dan berkompromi" , kata    Sang Pencipta.
Akhirnya Malaikat menyentuh sesuatu dipipi. "Eh, ada kebocoran disini"
"Itu bukan kebocoran", kata Tuhan. "Itu adalah air mata.... air mata kesenangan, air mata kesedihan, air mata kekecewaan, air mata kesakitan, air mata kesepian, air mata kebanggaan,
airmata...., airmata.. .."

Akhirnya Malaikat berkata pelan pada pembaca..... ....:
" JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI
KEPADA ORANG LAIN,
AGAR SELURUH ORANG DI DUNIA INI DAPAT MENGHORMATI,
MENCINTAI &
MENYAYANGI IBUNYA"

Minggu, 18 November 2007

Naik-turun...

Naik-turun...


- Betapa senang hati Jon Koplo dan Tom Gembus ketika diterima sebagai mahasiswa baru di sebuah universitas markotop di Surakarta. Namun masalah mulai muncul ketika masuk kuliah pertama.
Ndilalah ruang kuliahnya ada di lantai tiga, sehingga untuk menuju ke sana harus melalui lift. Padahal sak jeg jumleg yang namanya lift mereka belum pernah srawung. Celakanya lagi, untuk bertanya ke orang lain mereka gengsi, takut dikira wong ndesa.
”Tenang wae Mbus. Nanti kalau ada orang masuk, kita ikut saja,” siasat Koplo.
Bener saja, tak lama kemudian ada orang masuk lift. Jon Koplo dan Tom Gembus langsung nginthil di belakangnya. Berlagak sopan, Koplo mempersilakan orang tadi untuk menekan tombol mesin jalan. Ketika orang tadi keluar, Koplo dan Gembus sebenarnya mau ikut keluar tapi ragu sampai di lantai berapa. Mau tanya ke orang tadi, mereka gengsi.
Sekarang giliran seorang cewek masuk. Seperti sebelumnya, dengan menggunakan bahasa isyarat tangan mereka mempersilakan cewek tadi menjalankan lift. Beberapa saat kemudian ketika pintu lift dibuka, mereka malah kaget. ”Lho Plo, ini kan lantai dasar yang tadi?” Gembus heran.
Sementara di depan pintu lift beberapa orang sudah antre akan naik. Koplo dan Gembus pun melanjutkan rencananya untuk naik ke lantai tiga. Ketika orang-orang keluar Koplo dan Gembus ikut keluar. Kali ini mereka memberanikan diri bertanya kepada seseorang yang ada di lantai tersebut. Ternyata lantai yang mereka ambah adalah lantai empat. Mereka pun segera masuk ke lift lagi. Dan ketika pintu terbuka, we lhadalah, lagi-lagi mereka kembali ke lantai dasar lagi. Jengkel campur judheg, Koplo dan Gembus keluar dari lift tersebut.
”Kesel aku Mbus. Wis-lah, ora sah kuliah dina iki. Paling-paling ya wis telat,” keluh Koplo.
Tiba-tiba seorang Satpam datang menghampiri mereka. ”Eh, Mas, sampean berdua ini mau ke mana? Dari tadi saya perhatikan kok naik turun lift?” tanya Satpam tersebut.
”Ohhh... Anu kok Pak, tadi kami mau kuliah ke lantai tiga, tapi katanya kosong, jadi ya turun lagi. Lha sampai di sini ternyata saya di-SMS teman, katanya kuliahnya pindah di lantai empat. Setelah kami ke sana, eee ternyata sepi tidak ada orang. Ya terus kami turun lagi,” terang Jon Koplo beralasan. Gembus pun menimpali, ”Iya Pak, he-he-he... sekarang kami mau pulang dulu... Mari, Pak...!”
Keduanya pun segera angkat kaki meninggalkan Pak Satpam yang masih gedhek-gedhek penuh tanda tanya.

Gembusnya ada 2

Gembusnya ada 2


- Omong-omong soal salah sambung, bukan hanya Jon Koplo yang mengalami, seperti lakon Ah Tenane kemarin. Kejadian itu juga menimpa Lady Cempluk, seorang reporter magang yang bekerja di sebuah penerbitan di Solo.
Alkisah, beberapa waktu lalu Keraton Surakarta Hadiningrat kesripahan kerbau piaraannya yang bernama Kyai Slamet.
Oleh redaktur yang mengampu halaman Kota di koran tersebut, Cempluk ditugaskan untuk meliputnya. Ia diminta untuk konfirmasi dengan pihak keraton perihal kematian kerbau yang dianggap keramat tersebut.
”Pluk, coba kamu hubungi kerabat keraton yang namanya Bapak Tom Gembus,” perintah redakturnya melalui HP.
Namanya saja reporter magang, masih semangat-semangatnya bekerja, Lady Cempluk pun cuma nggah-nggih-nggah-nggih saja. Sebelum meliput ke keraton, Cempluk berinisiatif ngebel dulu ke Pak Gembus. Cuma sayangnya, Cempluk belum tahu nomor teleponnya. Makanya ia minta informasi kepada Gendhuk Nicole, rekan senegaranya.
Nah, di sinilah letak kelucuan itu terjadi. Ternyata oh ternyata, nama ”Gembus” yang diinformasikan Gendhuk Nicole itu bukannya Tom Gembus kerabat Keraton Kasunanan Surakarta, melainkan Jon Gembus pejabat Dinas Pasar Surakarta. Memang kebetulan nama beliau-beliau itu nyaris sama.
”Selamat siang, Pak. Apa benar saya bicara dengan Bapak Gembus?” tanya Cempluk melalui telepon.
”Ya, saya sendiri Pak Gembus. Ini siapa?” Pak Gembus balik tanya.
”Saya Lady Cempluk Pak. Cuma mau konfirmasi saja Pak, apa betul kerbau milik Bapak baru saja meninggal?” tanya Cempluk.
”Apa? Kerbau? Kerbau yang mana? Saya tidak punya kerbau kok,” elak Pak Gembus.
Kurang puas dengan jawaban Pak Gembus, Cempluk pun masih ngoyak, ”Maaf Pak, Bapak tidak sedang bercanda kan? Saya baru saja mendapat informasi, bahwa kerbau Kyai Slamet milik Bapak baru saja meninggal. Betul begitu?”
”Lho, kalau soal itu kenapa tidak tanya ke pihak keraton saja? Adik tidak sedang bercanda kan?” balas Pak Gembus.
Sampai di sini Lady Cempluk mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
”Maaf Pak, apa betul saya ini bicara dengan Pak Tom Gembus, kerabat Keraton Kasunanan Surakarta?” Cempluk meyakinkan.
”Oooh, salah sambung Dik. Saya Jon Gembus, Dinas Pasar Surakarta, bukan kerabat keraton,” jawab Pak Gembus sambil tertawa.
Mak dheg! Lady Cempluk baru ngeh kalau tadi rupanya salah sambung. Sembari minta maaf, Cempluk menutup telepon dengan perasaan malu yang nggak ketulungan.

Salah nyambung

Salah nyambung


- Ini adalah pelajaran bagi Jon Koplo dan ”Jon Koplo-Jon Koplo” lain untuk lebih berhati-hati dan tidak srogal-srogol dalam berbicara lewat telepon, apa lagi belum jelas siapa lawan bicaranya.
Peristiwa ngguyokke ini dilakoni oleh Jon Koplo, seorang pedagang makanan yang mangkal di depan kantor sebuah instansi swasta di sebelah barat perempatan Gendengan, Jl Slamet Riyadi Solo.
Seperti biasa, siang itu dagangan Koplo lumayan laris karena para karyawan kantor pada nongkrong di situ. Ada yang makan, ada yang minum-minum sambil ngemil, bahkan ada pula yang sekadar ngobrol sambil udat-udut. Jon Koplo ditemani isterinya, Lady Cempluk, tampak sibuk melayani pembeli.
Tiba-tiba seorang Satpam kantor di dekat tempat berjualan itu bengak-bengok sambil keplok-keplok memanggilnya.
”Pak Jon... Saking Pak Gembus,” kata Pak Satpam sambil memberikan gagang telepon kepada Jon Koplo.
Teringat anaknya yang bekerja di Jakarta, Koplo pun nyaut gagang telepon dan langsung bicara banter biyanget, ”Halo Mbus... Ngapa Le? Iki Bapak! Piye kabarmu? Kok suwe ora ngirim kabar? Cah-cah rak ya dha ora papa ta... bla... bla... bla...” Koplo ngecuprus tanpa spasi.
Melihat tingkah Koplo yang serius tapi ngguyokke itu, Pak Satpam langsung njawil sambil memberi tahu, ”Pak, sing tilpun niki sanes Gembus anak sampeyan sing teng Jakarta, ning Pak Tom Gembus, Bapak Pimpinan Perusahaan!”
Mak tratap, Koplo baru menyadari kepada siapa ia bicara. Sambil ketakutan campur kisinan, ia segera minta maaf berkali-kali kepada Pak Tom Gembus, bos kantor situ yang ternyata hanya akan pesan minum melalui interkom yang ada di Pos Satpam, dekat tempat Koplo berjualan. Karuan saja kelakuannya itu jadi bahan tertawaan orang-orang yang ada di situ termasuk Pak Satpam yang ngekek ra entek-entek. -

Kok mumbul...?

Kok mumbul...?


Yang namanya sinoman, tentu butuh kekompakan antara laki-laki yang bertugas sebagai pengantar makanan dan perempuan yang menyajikannya kepada para tamu. Namun tidak demikian halnya dengan Jon Koplo dan Lady Cempluk yang sedang nyinom di sebuah hajatan di daerah Sukoharjo paling selatan yang berbatasan dengan Wonogiri ini.
Seperti biasa, setiap ada orang yang punya gawe, para pemuda desa didhapuk jadi sinoman alias pengantar sekaligus penyaji makanan. Kebetulan dalam rewangan kali itu Jon Koplo berpasangan dengan Lady Cempluk. Koplo membawa makanan yang ditaruh di sebuah nampan kayu yang cukup besar, sementara Cempluk yang nanti harus menyajikan kepada para tamu. Suguhan sesi pertama berupa wedang dan snack berlangsung dengan lancar-lancar saja. Namun masalah muncul ketika makan besar keluar.
Saat itu Jon Koplo sedang berada di belakang untuk mengambil jatah makanan yang harus diantarkan, sementara Lady Cempluk sudah siap berdiri nggejejer di samping para tamu. Ndilalah-nya, beberapa tamu yang ada di sampingnya itu adalah teman-temannya. Maka sambil menunggu Jon Koplo, Cempluk pun terlibat jagongan heboh dengan tamu-tamu itu. Saking asyiknya ngecuprus dengan para tamu itulah Cempluk sampai lupa dengan tugasnya, padahal saat itu Jon Koplo sudah berada di dekatnya sambil membawa nampan berisi nasi sak cething-nya lengkap dengan piring sekaligus lawuh-nya.
Berkali-kali Koplo memanggil, namun Cempluk tidak ngrewes babar blas. Untung ada salah satu among tamu yang njawil Cempluk, ”Mbak, kuwi lho! Mesakake Mas Koplo, selak kabotan!”
Mak jegagik, Cempluk baru sadar kalau ia lagi tugas. Cempluk pun buru-buru mendekati Koplo untuk mengambil makanan yang ada di nampan. Namun entah saking semlengeren-nya membawa nampan yang super berat itu , Koplo tidak nggagas kalau isi nampannya diambil Cempluk. Ndilalah yang diambil dulu kok ya nasinya. Itu pun tidak ngomong sama Koplo. Akibatnya, mak wuuuttt... nampan yang dipegang KOplo mumbul karena jadi ringan mendadak. Piring sak lawuh-nya yang masih ada di nampan itu pun jadi tumpah semua.
Semua yang ada di situ langsung bergegas membantu Koplo, kecuali Lady Cempluk yang kamitenggengen masih berdiri terpana...

Bahasa Jawa sebagai aset budaya daerah

Bahasa Jawa sebagai aset budaya daerah


- Kondisi bahasa-bahasa daerah di Indonesia sebagai bagian dari budaya daerah nusantara sekarang ini semakin terdesak oleh perkembangan zaman dan teknologi informasi. Tidak kalah penting yang perlu perhatian khusus, terutama pada tataran golongan muda.
Namun dengan munculnya kebijakan Gubernur Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur untuk memasukkan bahasa Jawa dalam mutan lokal pada pendidikan SD, SMP, dan SMA menjadi angin segar bagi bahasa Jawa khususnya untuk berkembang.
Sekarang tergantung kita, mau diapakan,dan bagaimana cara mengajarkan, menanamkan, dan mengembangkan filosofi bahasa daerah kepada anak didik kita sebagai generasi penerus, sehingga eksistensi bahasa daerah dalam kerangka budaya di era teknologi informasi tetap maju dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa, kita memiliki dua landasan yang fundamental. Pertama, ikrar butir ketiga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bahwa “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dengan kategori “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, terkandung makna bahwa bahasa daerah termasuk bahasa Jawa memiliki hak hidup yang sama dengan bahasa Indonesia. Kedua, penjelasan Pasal 36 UUD 1945 menyatakan bahwa “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik misalnya (bahasa Jawa, Sunda, Madura, dll), bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara.
Sesuai dengan landasan tersebut, bahasa Jawa sebagai bahasa daerah di Indonesia yang terbanyak penuturnya memiliki hak sepenuhnya untuk dihormati dan dipelihara oleh negara. Oleh karena itu, perlu dipikirkan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa di era teknologi dan informasi yang semakin memprihatinkan perkembangannya.
Pertanyaannya kemudian adalah; siapa yang bertanggung jawab melestarikan eksistensi bahasa dan budaya daerah kita? Guru bahasa daerah, pemerintah daerah, atau orangtua? Jawabnya tentu saja tidak boleh saling tunjuk satu dengan yang lain tetapi bagaimana upaya kita secara bergotong-royong untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa dan budaya daerah untuk generasi penerus dan mempersiapkan SDM yang profesional dalam bidang bahasa dan budaya daerah.
Eksistensi bahasa daerah
Kedudukan bahasa Jawa bagi sebagian masyarakat Jawa merupakan bahasa pertama. Pernyataan itu dapat ditafsirkan bahwa bahasa Jawa masih merupakan alat komunikasi yang efektif di lingkungan keluarga bahkan di masyarakat luas.
Perlu disadari bahwa frekuensi pemakaian bahasa Indonesia yang makin tinggi di berbagai aspek kehidupan masyarakat dan menjangkau wilayah pemakaian bahasa semakin luas, mengakibatkan wilayah pemakaian bahasa Jawa semakin berkurang. Pertemuan yang dulu menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa berangsur-angsur beralih dengan pengantar bahasa Indonesia.
Bahasa Jawa saat ini juga semakin “dijauhi” oleh generasi muda. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa Jawa, dalam lingkungan yang menghendaki penggunaan bahasa Jawa krama mereka tidak semuanya dapat melakukan dengan baik.
Banyak faktor yang menyebabkan mengapa mereka menjadi seperti itu. Di lingkungan keluarga sendiri mereka tidak biasa menggunakan bahasa Jawa dengan benar, di sekolah mereka hanya mendapat pelajaran bahasa Jawa yang terbatas, dalam masyarakat luas mereka melihat kenyataan bahwa bahasa Jawa tidak lagi digunakan dalam aspek kehidupan masyarakat Jawa.
Seidentifikasi
Dilihat dari kosakatanya, bahasa Jawa telah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak kata baru yang masuk dalam bahasa Jawa, baik yang berasal dari bahasa Indonesia maupun yang berasal dari bahasa lainnya. Masuknya kata baru seperti itu merupakan hal yang wajar dalam bahasa yang masih hidup seperti bahasa Jawa. Merupakan hal yang aneh bila terdapat sebuah bahasa yang kosakatanya tidak bertambah sama sekali dari waktu ke waktu, kecuali bahasa yang sudah mati. Namun, pemekaran kosakata bahasa Jawa yang cepat telah menimbulkan keprihatinan bagi mereka yang berpegang pada keinginan akan kemurnian bahasa Jawa.
Masyarakat penutur bahasa Jawa adalah masyarakat dwibahasawan, yang dalam kehidupan sehari-harinya menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia secara bergantian atau bersamaan. Kondisi itu memberikan kemungkinan yang besar terhadap masuknya kata dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa dan sebaliknya. Hal itu didukung oleh besarnya peranan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Media massa yang menggunakan bahasa Indonesia pun lebih mudah dan lebih menjangkau seluruh lapisan masyarakat penutur bahasa Jawa daripada media massa yang menggunakan bahasa Jawa, sehingga sangat mudah dipahami apabila dalam bahasa Jawa banyak terlihat kata yang bersal dari bahasa Indonesia.
Masuknya kata-kata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa menjadi semakin terbuka. Bahasa Indonesia sendiri sebagai bahasa pemberi mengalami pemasukan kata dari bahasa asing.
Kata-kata asing yang menjadi kosakata bahasa Indonesia itu sebagian terserap ke dalam bahasa Jawa. Semuanya akan memperkaya kosakata bahasa Jawa. Sebagian dari kata-kata bahasa Indonesia yang masuk ke dalam bahasa Jawa semakin mantap penggunaannya dan justru dapat menggeser pemakaian beberapa kata bahasa Jawa sendiri.
Misalnya, kata pendidikan, penduduk, keluarga, hadiah, dan pemenang. Kata-kata seperti itu sulit atau tidak selalu dapat digantikan oleh kata-kata bahasa Jawa yang sudah ada. Kata-kata lain yang berasal dari bahasa asing pun mengalami hal seperti itu. Misalnya, kata transmigrasi, imunisasi, donor, target, dan kredit. Kata-kata semacam itu memang sulit digantikan oleh kata bahasa Jawa dan ada pula yang tidak perlu diganti atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.
Uraian di atas memberikan gambaran tentang betapa mudah dan pesatnya pemekaran kosakata bahasa Jawa saat ini dengan cara penyerapan. Akibat penyerapan kata itu, bahasa Jawa dalam bidang kosakata akan menemukan wajahnya yang selalu bergerak dari waktu ke waktu, sehingga keberadaan bahasa Jawa sebagai bahasa yang masih terikat oleh budaya Jawa, dihadapkan kepada kenyataan yang menantang masa depannya.

Tenang, jangan bentak anak

Tenang, jangan bentak anak


Anak bertengkar itu sudah biasa. Orangtua perlu bersikap bijak dalam menghadapi situasi itu. Anak bisa bertengkar dengan saudara kandung atau teman sebaya saat sedang asyik-asyiknya bermain.
Jika menemui anak sedang bertengkar dengan teman sebayanya orangtua sebaiknya tidak langsung bereaksi, karena bisa berakibat emosi orangtua ikut muncul.
”Jika orangtua mengetahui anaknya sedang bertengkar, tanya dulu apa permasalahannya dengan sikap tenang. Anak biasanya masih jujur dan mau bercerita kejadian sebenarnya. Sebaiknya sejak awal orangtua sudah mengantisipasi kalau anak kecil biasa bertengkar sehingga saat menemui anaknya bertengkar orangtua tidak emosi,” kata psikolog Hj Kris Pudjiatni Psi.
Kris yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) ini mengatakan pada usia dini berikan kebebasan bagi anak untuk belajar dengan lingkungan. ”Kalau anak kita salah, beritahu dia kalau apa yang dia lakukan salah dan suruh minta maaf pada temannya. Yang terpenting tindakan tersebut tidak lagi diulangi oleh anak,” ungkap Kris.
Demikian juga kalau ternyata yang salah itu temannya, anak diberitahu agar tidak melakukan apa yang dilakukan temannya itu, sambungnya.
Lebih lanjut, Kris menuturkan, selama ini masih ada perilaku yang salah dari orangtua, saat menemui anak bertengkar langsung dibentak, dimarahi dan disalahkan. ”Padahal perilaku membentak, marah-marah dan langsung menyalahkan ini akan direkam dalam benak anak dan mungkin cara itu akan dimunculkan anak saat menghadapi permasalahan berikutnya. Bisa juga cara itu akan dipakai anak saat anak dewasa kelak,” tandas Kris.
Jika perilaku yang salah ini terekam oleh anak, sambungnya, orangtua harus peka dan segera melakukan introspeksi agar tindakannya yang salah tidak dilakukan lagi. ”Namun kadang-kadang anak bisa juga melakukan pertengkaran sampai berantem karena ingin membela diri karena mungkin ada temannya yang usil atau nakal. Pantau jangan sampai tindakan anak membahayakan diri mereka,” ujarnya.
Menurut Kris, pertengkaran yang terjadi pada anak biasanya disebabkan oleh hal sepele seperti berebut mainan atau tidak mau berbagi. ”Oleh karena itu sebaiknya anak dibekali dari rumah dengan sikap saling yang positif, seperti saling menghargai, saling menghargai dan saling memberikan kesempatan pada teman yang lain,” katanya. Jika sikap saling ini mulai ditumbuhkan sejak dini maka anak akan lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungannya, baik itu di sekolah maupun di rumah, lanjut Kris.

Khasiat kemuning

Khasiat kemuning


Mengatasi bisul
Akar kemuning kering sebanyak 30 g dicuci dan dipotong-potong seperlunya. Rebus dengan 3 gelas air bersih sampai air rebusannya tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring Lalu diminum. Sehari 2 kali, masing-masing 1/2 gelas.

Mengatasi rematik, keseleo, memar
Akar kemuning kering sebanyak 15 - 30 g dicuci Lalu dipotong-potong seperlunya. Tambahkan arak dan air masing-masing 1 1/2 gelas. Lalu direbus sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring. Minum 2 kali sehari, masing-masing 1/2 gelas.

Makan bersama di luar rumah Membangun suasana segar dalam keluarga

Makan bersama di luar rumah
Membangun suasana segar dalam keluarga



Menikmati suasana malam sambil menyantap makanan bersama keluarga sangat mengasyikkan. Apalagi jika seluruh anggota keluarga bisa berkumpul dalam kesempatan tersebut. Untuk menghindari rasa bosan dan refreshing tak ada salahnya sesekali makan bersama keluarga di luar rumah. Lantas sejauh mana pentingnya momen tersebut?
Canda tawa antara Ayu dan Hendra, dua bersaudara yang tengah asyik menikmati santap makan malam di salah satu restoran cepat saji di Solo Square membuat suasana makan malam keluarga Indra semakin lengkap. Lebih-lebih keluarga Indra yang terdiri dari empat orang ini jarang sekali menikmati makan bersama dengan keluarga di luar rumah.
”Kebetulan kami satu keluarga pas bisa ngumpul, anak sulung saya yang kuliah di Bandung kebetulan juga pulang jadi kami ingin menikmati kebersamaan ini dengan makan di luar rumah, sekalian jalan-jalan,” ungkap Ny Indra.
Dituturkan Ny Indra, sebelumnya mereka juga sering makan bersama di luar rumah sebulan atau dua pekan sekali. ”Kalau ingin keluar makan di luar rumah biasanya mendadak, tidak direncanakan karena biasanya spontan dari anak-anak atau suami,” lanjutnya.
Menurut ibu dua anak ini, makan bersama keluarga di luar rumah manfaatnya sangat besar, mereka bisa melepas kepenatan aktivitas masing-masing. ”Terutama bagi kami selaku orangtua bisa mendengarkan keluh kesah atau unek-unek anak-anak yang keluar secara spontan. Namun biasanya hanya sekadar untuk refreshing,” papar Ny Indra yang tinggal di Permata Puri, Colomadu ini.
Hal senada diungkapkan Adi, pria dua anak ini juga merasakan perbedaan yang sangat besar antara makan bersama keluarga di luar rumah dengan makan di rumah. ”Awalnya saya ingin menyenangkan anak, selain itu isteri saya juga bisa istirahat. Ternyata anak-anak merasa enjoy, demikian pula isteri saya, Akhirnya minimal sebulan sekali kami makan bersama di luar rumah,” lanjutnya.
Menurut Adi, makan di luar rumah tidak harus mahal, yang penting semua anggota keluarga bisa kumpul. ”Entah hanya sekadar makan bakso atau nongkrong sambil menikmati jagung bakar di alun-alun. Saya merasakan memang ada suasana lain,” akunya.
Suasana berbeda dirasakan pula oleh keluarga Ny Maria. Menurutnya, untuk lebih mengakrabkan hubungan orangtua dengan anak sesekali dia makan bersama di luar rumah. ”Lebih-lebih kami berdua kan seharian bekerja, jadi kalau hari Minggu kesempatan untuk kumpul bersama anak-anak dan suami,” ungkap Ny Maria.
Biasanya Ny Maria mengajak anaknya menikmati ayam goreng cepat saji di salah satu restoran di Solo. Namun bisa juga hanya sekadar menikmati nasi goreng di kaki lima. ”Yang terpenting bukan tempatnya atau mahal tidaknya makanan tapi kebersamaan yang jarang kami temukan setiap hari. Kesempatan makan ini bisa jadi ajang untuk saling membuka diri, termasuk antara saya dan suami,” lanjutnya.
Hal serupa juga dialami oleh Ninik, karyawan perusahaan swasta yang masih berstatus lajang ini mengaku tidak setiap saat bisa kumpul bersama seluruh keluarga karena masing-masing memiliki kesibukan sendiri. ”Sebisa mungkin saya kalau ada waktu menyempatkan makan bareng keluarga, apalagi jika ada kesempatan makan bersama di luar rumah karena bisa jadi ajang melepas kangen. Apalagi empat kakak saya sudah berkeluarga, jadi jarang bertemu,” kata Ninik. -

Rabu, 14 November 2007

Pernikahan, masihkah akan indah?

Pernikahan, masihkah akan indah?


Kini, hatimu mungkin merasa miris melihat sejumlah rumahtangga selebritis Indonesia berakhir dengan perceraian. Padahal tak sedikit dari mereka yang selalu terlihat mesra di depan publik. Sebut saja seperti pasangan Ray Sahetapi-Dewi Yull. Atau yang juga kini juga digosipkan akan bercerai, pasangan Jamal Mirdad dan Lidya Kandow.

Yang tak terekspos, tentu saja tak sedikit jumlahnya. Namun yang jadi pertanyaan seperti apa memangnya pernikahan tersebut? Sebenarnya pernikahan adalah kehidupan baru yang harus difahami agar berjalan indah sesuai harapan. Tentu saja ada banyak hal yang harus dilakukan agar bisa mewujudkan hal tersebut.

Salah satu pertanyaannya yakni, sudah yakinkah hatimu dengan pilihanmu dan memutuskan untuk menikah? Yang perlu diyakinkan adalah dia adalah sosok orang yang sempurna di matamu. Tak perlu penilaian orang lain. Bisa saja setiap orang mengaguminya. Tapi pastikan dirimu merasa yakin karena kamulah yang menikah dengannya bukan mereka!

Pernikahan yang kaulakukan jangan pernah lantaran melihat alasan orang lain. Misalnya saja orang lain yang seusiamu atau orang-orang terdekatmu sudah menikah semua sementara kamu masih belum. Jadi untuk apa hanya sekadar mengikuti jika kamu sendiri masih belum tahu dan mampu? Yang diperlukan di sini adalah kesiapan dan keseriusanmu sendiri.

Jangan pernah berpikir lantaran sudah dekat dengan keluarganya dan orangtuamu sayang padanya, maka kamu harus segera menikahinya. Camkan, kamu sendiri yang akan menikah dengannya, bukan orangtuamu.

Ingat, pernikahan berarti berbagi hidup bersama hingga akhir hayat nanti. Jadi banyak hal yang harus disiapkan. Hidup juga nantinya tak untuk sendiri saja akan tetapi semuanya ditujukan untuk kebahagiaan berdua dan juga anak-anak nantinya. Egois dalam hal ini juga harus dibuang jauh-jauh.

Pastikan juga kamu mencintainya apa adanya. Pada hubungan yang pernah terjalin sebelumnya, kamu selalu merasa terganggu dengan kekurangan yang ada, tapi hal tersebut tak terjadi saat bersamanya. Bahkan kamu menjadi lebih gembira dengan keberadaan dan segala kekurangannya.

Kamu juga harus tahu apa yang dibutuhkannya. Jika benar-benar memperhatikannya, kamu pasti tahu apa yang dibutuhkan dan diingininya. Segalanya pasti sesuai dengan selera kalian berdua dan mencerminkan adanya komitmen yang terjaga.

Bagi kamu yang sudah siap untuk menikah, perencanaan adalah perlu. Ini akan membuatmu membayangkan sebuah kesempurnaan, tapi juga mungkin saja membuat kamu membayangkan kegagalan. Tak perlu takut, jalani segalanya dengan penuh rasa percaya diri dan usahakan secara maksimal. Sadari dia adalah bagian dalam hidupmu.

Biasanya perceraian yang terjadi di awal tahun lantaran keinginan untuk bebas dan merasa dirinya lebih dari pasangannya. Untuk lolos dari hal ini, buang pikiran tersebut jauh-jauh dan bayangkan sebuah pernikahan indah yang akan Anda jelang sampai akhir hayat, persis seperti syair lagu lawas, "A Story Book Children". Ingat berjuta-juta buku anak-anak selalu ditutup dengan kalimat klasik, ...and they live happily ever after....
(dtr/cn02)