SELAMAT DATANG SAHABAT
video denmas
Minggu, 20 Januari 2008
Cara Mudah Memutihkan Gigi
Gigi yang putih tentu menjadi dambaan banyak orang. Sayangnya, minuman dan makanan yang kita makan bisa menyebabkan noda pada gigi. Menyikat gigi ternyata sering juga tak mampu menghilangkan noda membandel pada gigi. Cara termudah adalah menghindari makanan yang bisa meninggalkan noda. Berikut ini tips mudah menjaga gigi agar tetap putih.
Pertama, gunakan sedotan jika minum kopi, teh, coca-cola dan anggur merah. Dengan demikian, minuman tak perlu langsung mengena pada gigi.
Kedua, perbanyak makanan yang bisa berperan sebagai pemutih gigi secara alamiah seperti buah dan sayuran. Apel, wortel dan seledri terbukti cukup efektif untuk ‘membersihkan' gigi.
Ketiga, sejumlah makanan menciptakan lapisan ‘film' yang akan melindungi gigi dari terbentuknya noda. Brokoli, daun selada dan bayam adalah makanan yang bisa mencegah terbentuknya noda gigi.
Keempat, buah strawberry punya kekuatan tersendiri untuk memutihkan. Hancurkan buah strawberry, kemudian dengan menggunakan jari, tempelkan pada gigi dan biarkan selama satu atau dua menit. Setelah itu gosok dengan sikat gigi secara menyeluruh.
Kelima, di pasaran juga tersedia berbagai produk pemutih gigi. Umumnya pemutih gigi ini berbahan aktif carbamide peroxides yang akan bekerja dengan mengoksidasi noda yang menempel pada gigi. Umumnya butuh waktu sekitar dua minggu untuk melihat hasilnya dan perlakuan ini seringkali perlu diulang setiap enam bulan.
Minggu, 06 Januari 2008
Jauhkan Bayi dari TV!
Jauhkan Bayi dari TV!
KapanLagi.com - Meski sudah banyak diciptakan acara khusus televisi dan rancangan film untuk bayi, tetap tak bisa mengubah pemikiran bahwa televisi bisa membawa dampak buruk bagi otak si kecil. Menurut sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini secara tegas menyebutkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi.
"Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi," demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.
Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi.
Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.
Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.
Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya. Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.
Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. (kpl/boo)
Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa
Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa
Dan kemalangan yang dialami seseorang di masa kanak-kanak memberikan kontribusi besar pada kemiskinan hidup yang dialaminya di saat dewasa, kata seorang peneliti Universitas Monash Australia.
Korelasi erat antara pengalaman buruk masa kanak-kanak dan kemiskinan itu diungkapkan Direktur Pusat Nasional Riset Pencegahan Penganiayaan Anak (NRCPCA) Universitas Monash, Prof.Chris Goddard, berdasarkan hasil riset terbaru pihaknya.
Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di Jurnal Internasional Child Abuse Review itu, katanya, mendapati pengalaman buruk dan malang di masa kanak-kanak berhubungan erat dengan fungsi keluarga, seperti penganiayaan terhadap anak, kekerasan keluarga, kehidupan keluarga yang porak-poranda serta anak-anak lari dari rumah di usia belia mereka.
Prof.Goddard mengatakan, semua pengalaman buruk tersebut memberikan sumbangan besar terhadap terjadinya kemiskinan sebagaimana dialami sekelompok orang yang hidupnya miskin di usia dewasanya.
Dari hasil kajian yang menggunakan metode wawancara berkedalaman dengan para respondennya itu, terungkap bahwa akumulasi kemalangan hidup di masa kanak-kanak tersebut tidak hanya membawa masalah kesehatan fisik dan kejiwaan tetapi juga memengaruhi kemampuan orang bersangkutan untuk bisa mencapai sukses dalam mengikuti sistem pendidikan dan lapangan kerja.
Akibatnya, mereka yang mengalami kemalangan dan hal-hal buruk lainnya semasa kanak-kanaknya akan menghadapi persoalan dalam kemampuan fisik, kejiwaan dan ekonominya di dalam kehidupan mereka kelak, katanya.
Sementara itu, Peneliti senior NRCPCA, Dr.John Frederick berpendapat, untuk membantu mereka yang mengalami masa kanak-kanak yang suram sehingga terhindar dari kemungkinan masuk ke dalam jurang kemiskinan, instansi terkait, seperti lembaga pelayanan perlindungan anak, perlu memberikan dukungan kepada mereka secara efektif sejak dini.
Intervensi yang efektif semacam itu merupakan modal terbaik bagi mereka, katanya. (*/cax)
Jari Manis Peneropong Segalanya
Jari Manis Peneropong Segalanya
Wanita yang memiliki jari manis lebih panjang ada baiknya mulai berhati-hati, pasalnya penelitian terbaru menyebutkan wanita dengan ukuran jari manis lebih panjang dari jari telunjuknya rentan mengalami gangguan radang sendi (arthritis).
Pada umumnya jari telunjuk dan jari manis pada wanita memiliki panjang yang sama, sementara pada pria jari manis cenderung lebih panjang dari jari telunjuknya.
Ilmuwan mendapati wanita yang memiliki jari manis lebih panjang beresiko ganda mengidap osteoarthritis (penyakit degeneratif pada persendian), dibanding mereka yang memiliki jari berukuran standar.
"Wanita yang memiliki jari manis dengan pola pria atau jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk beresiko menderita osteoathritis pada lutut. Mekanisme dasarnya belum jelas dan masih dibutuhkan penelitian lebih jauh tentang hal ini," jelas Professor Michael Doherty, ketua penelitian, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Jumat (04/01/08).
Untuk riset ini, para peneliti dari Universitas Nottingham menganalisa jemari tangan 2 ribu penderita radang sendi dan seribu orang tanpa gangguan arthritis di usia ke-60.
Penelitian yang diterbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism ini menggunakan bantuan sinar X pada kedua tangan responden dan mengukur panjangnya jari menggunakan tiga metode yang meliputi perbandingan jarak pangkal di antara dua jari, mengukur rasio dari pangkal sampai ujung jari, dan mengukur rasio panjang tulang jari manis dan telunjuk.
Faktor-faktor lain juga dilibatkan dalam riset ini, seperti kurangnya berolah raga atau kemungkinan cedera yang pernah dialami responden.
Dan hasilnya mayoritas penderita arthritis dijumpai pada wanita yang memiliki jari manis lebih panjang.
Panjang Jari dan Homoseksualitas
Studi perbandingan dua jari (jari manis dan jari telunjuk) dan radang sendi ini baru pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya penelitian tentang perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis terhadap tingkat kecerdasan pernah dilakukan pada awal 2007 lalu.
Meski belum bisa menemukan penyebab pastinya, namun ilmuwan yakin faktor genetik juga turut berperan. Sementara yang lainnya mengkaitkan hubungan hormon testosteron dalam kandungan.
Teori ini didasarkan pada kenyataan tingkat testosteron dan estrogen yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil, dan tentu saja juga berbeda pada tingkat pertumbuhan otak dan pertumbuhan jari bayi yang dikandung.
Sebelumnya ilmuwan dari University of Liverpool menyatakan hubungan panjang jari-jari manusia dengan kepribadian manusia. Mereka menemukan tendensi depresi dan homoseksual pada pria yang memiliki jari telunjuk lebih pendek dari jari manis, dan hal yang sama juga berlaku juga pada perempuan yang memiliki jari manis lebih panjang.
Sementara itu, sebuah studi di Kanada pada 2005 lalu menemukan jari telunjuk yang lebih pendek menunjukkan tingkat agresif pada anak-anak.
Dan tahun lalu, para psikolog dari Bath University mengukur tingkat kecerdasan anak-anak dilihat dari panjang jari mereka. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan berhitung lebih tinggi dibanding kemampuan verbal dan bahasa. Sebaliknya, anak yang jari telunjuknya lebih panjang memiliki kemampuan verbal dan membaca yang lebih baik. (dailymail/rit)
Minggu, 18 November 2007
Tenang, jangan bentak anak
Anak bertengkar itu sudah biasa. Orangtua perlu bersikap bijak dalam menghadapi situasi itu. Anak bisa bertengkar dengan saudara kandung atau teman sebaya saat sedang asyik-asyiknya bermain.
Jika menemui anak sedang bertengkar dengan teman sebayanya orangtua sebaiknya tidak langsung bereaksi, karena bisa berakibat emosi orangtua ikut muncul.
”Jika orangtua mengetahui anaknya sedang bertengkar, tanya dulu apa permasalahannya dengan sikap tenang. Anak biasanya masih jujur dan mau bercerita kejadian sebenarnya. Sebaiknya sejak awal orangtua sudah mengantisipasi kalau anak kecil biasa bertengkar sehingga saat menemui anaknya bertengkar orangtua tidak emosi,” kata psikolog Hj Kris Pudjiatni Psi.
Kris yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Solo (UMS) ini mengatakan pada usia dini berikan kebebasan bagi anak untuk belajar dengan lingkungan. ”Kalau anak kita salah, beritahu dia kalau apa yang dia lakukan salah dan suruh minta maaf pada temannya. Yang terpenting tindakan tersebut tidak lagi diulangi oleh anak,” ungkap Kris.
Demikian juga kalau ternyata yang salah itu temannya, anak diberitahu agar tidak melakukan apa yang dilakukan temannya itu, sambungnya.
Lebih lanjut, Kris menuturkan, selama ini masih ada perilaku yang salah dari orangtua, saat menemui anak bertengkar langsung dibentak, dimarahi dan disalahkan. ”Padahal perilaku membentak, marah-marah dan langsung menyalahkan ini akan direkam dalam benak anak dan mungkin cara itu akan dimunculkan anak saat menghadapi permasalahan berikutnya. Bisa juga cara itu akan dipakai anak saat anak dewasa kelak,” tandas Kris.
Jika perilaku yang salah ini terekam oleh anak, sambungnya, orangtua harus peka dan segera melakukan introspeksi agar tindakannya yang salah tidak dilakukan lagi. ”Namun kadang-kadang anak bisa juga melakukan pertengkaran sampai berantem karena ingin membela diri karena mungkin ada temannya yang usil atau nakal. Pantau jangan sampai tindakan anak membahayakan diri mereka,” ujarnya.
Menurut Kris, pertengkaran yang terjadi pada anak biasanya disebabkan oleh hal sepele seperti berebut mainan atau tidak mau berbagi. ”Oleh karena itu sebaiknya anak dibekali dari rumah dengan sikap saling yang positif, seperti saling menghargai, saling menghargai dan saling memberikan kesempatan pada teman yang lain,” katanya. Jika sikap saling ini mulai ditumbuhkan sejak dini maka anak akan lebih mudah bersosialisasi dengan lingkungannya, baik itu di sekolah maupun di rumah, lanjut Kris.
Makan bersama di luar rumah Membangun suasana segar dalam keluarga
Membangun suasana segar dalam keluarga
Menikmati suasana malam sambil menyantap makanan bersama keluarga sangat mengasyikkan. Apalagi jika seluruh anggota keluarga bisa berkumpul dalam kesempatan tersebut. Untuk menghindari rasa bosan dan refreshing tak ada salahnya sesekali makan bersama keluarga di luar rumah. Lantas sejauh mana pentingnya momen tersebut?
Canda tawa antara Ayu dan Hendra, dua bersaudara yang tengah asyik menikmati santap makan malam di salah satu restoran cepat saji di Solo Square membuat suasana makan malam keluarga Indra semakin lengkap. Lebih-lebih keluarga Indra yang terdiri dari empat orang ini jarang sekali menikmati makan bersama dengan keluarga di luar rumah.
”Kebetulan kami satu keluarga pas bisa ngumpul, anak sulung saya yang kuliah di Bandung kebetulan juga pulang jadi kami ingin menikmati kebersamaan ini dengan makan di luar rumah, sekalian jalan-jalan,” ungkap Ny Indra.
Dituturkan Ny Indra, sebelumnya mereka juga sering makan bersama di luar rumah sebulan atau dua pekan sekali. ”Kalau ingin keluar makan di luar rumah biasanya mendadak, tidak direncanakan karena biasanya spontan dari anak-anak atau suami,” lanjutnya.
Menurut ibu dua anak ini, makan bersama keluarga di luar rumah manfaatnya sangat besar, mereka bisa melepas kepenatan aktivitas masing-masing. ”Terutama bagi kami selaku orangtua bisa mendengarkan keluh kesah atau unek-unek anak-anak yang keluar secara spontan. Namun biasanya hanya sekadar untuk refreshing,” papar Ny Indra yang tinggal di Permata Puri, Colomadu ini.
Hal senada diungkapkan Adi, pria dua anak ini juga merasakan perbedaan yang sangat besar antara makan bersama keluarga di luar rumah dengan makan di rumah. ”Awalnya saya ingin menyenangkan anak, selain itu isteri saya juga bisa istirahat. Ternyata anak-anak merasa enjoy, demikian pula isteri saya, Akhirnya minimal sebulan sekali kami makan bersama di luar rumah,” lanjutnya.
Menurut Adi, makan di luar rumah tidak harus mahal, yang penting semua anggota keluarga bisa kumpul. ”Entah hanya sekadar makan bakso atau nongkrong sambil menikmati jagung bakar di alun-alun. Saya merasakan memang ada suasana lain,” akunya.
Suasana berbeda dirasakan pula oleh keluarga Ny Maria. Menurutnya, untuk lebih mengakrabkan hubungan orangtua dengan anak sesekali dia makan bersama di luar rumah. ”Lebih-lebih kami berdua kan seharian bekerja, jadi kalau hari Minggu kesempatan untuk kumpul bersama anak-anak dan suami,” ungkap Ny Maria.
Biasanya Ny Maria mengajak anaknya menikmati ayam goreng cepat saji di salah satu restoran di Solo. Namun bisa juga hanya sekadar menikmati nasi goreng di kaki lima. ”Yang terpenting bukan tempatnya atau mahal tidaknya makanan tapi kebersamaan yang jarang kami temukan setiap hari. Kesempatan makan ini bisa jadi ajang untuk saling membuka diri, termasuk antara saya dan suami,” lanjutnya.
Hal serupa juga dialami oleh Ninik, karyawan perusahaan swasta yang masih berstatus lajang ini mengaku tidak setiap saat bisa kumpul bersama seluruh keluarga karena masing-masing memiliki kesibukan sendiri. ”Sebisa mungkin saya kalau ada waktu menyempatkan makan bareng keluarga, apalagi jika ada kesempatan makan bersama di luar rumah karena bisa jadi ajang melepas kangen. Apalagi empat kakak saya sudah berkeluarga, jadi jarang bertemu,” kata Ninik. -
Rabu, 14 November 2007
Pernikahan, masihkah akan indah?
Kini, hatimu mungkin merasa miris melihat sejumlah rumahtangga selebritis Indonesia berakhir dengan perceraian. Padahal tak sedikit dari mereka yang selalu terlihat mesra di depan publik. Sebut saja seperti pasangan Ray Sahetapi-Dewi Yull. Atau yang juga kini juga digosipkan akan bercerai, pasangan Jamal Mirdad dan Lidya Kandow.
Yang tak terekspos, tentu saja tak sedikit jumlahnya. Namun yang jadi pertanyaan seperti apa memangnya pernikahan tersebut? Sebenarnya pernikahan adalah kehidupan baru yang harus difahami agar berjalan indah sesuai harapan. Tentu saja ada banyak hal yang harus dilakukan agar bisa mewujudkan hal tersebut.
Salah satu pertanyaannya yakni, sudah yakinkah hatimu dengan pilihanmu dan memutuskan untuk menikah? Yang perlu diyakinkan adalah dia adalah sosok orang yang sempurna di matamu. Tak perlu penilaian orang lain. Bisa saja setiap orang mengaguminya. Tapi pastikan dirimu merasa yakin karena kamulah yang menikah dengannya bukan mereka!
Pernikahan yang kaulakukan jangan pernah lantaran melihat alasan orang lain. Misalnya saja orang lain yang seusiamu atau orang-orang terdekatmu sudah menikah semua sementara kamu masih belum. Jadi untuk apa hanya sekadar mengikuti jika kamu sendiri masih belum tahu dan mampu? Yang diperlukan di sini adalah kesiapan dan keseriusanmu sendiri.
Jangan pernah berpikir lantaran sudah dekat dengan keluarganya dan orangtuamu sayang padanya, maka kamu harus segera menikahinya. Camkan, kamu sendiri yang akan menikah dengannya, bukan orangtuamu.
Ingat, pernikahan berarti berbagi hidup bersama hingga akhir hayat nanti. Jadi banyak hal yang harus disiapkan. Hidup juga nantinya tak untuk sendiri saja akan tetapi semuanya ditujukan untuk kebahagiaan berdua dan juga anak-anak nantinya. Egois dalam hal ini juga harus dibuang jauh-jauh.
Pastikan juga kamu mencintainya apa adanya. Pada hubungan yang pernah terjalin sebelumnya, kamu selalu merasa terganggu dengan kekurangan yang ada, tapi hal tersebut tak terjadi saat bersamanya. Bahkan kamu menjadi lebih gembira dengan keberadaan dan segala kekurangannya.
Kamu juga harus tahu apa yang dibutuhkannya. Jika benar-benar memperhatikannya, kamu pasti tahu apa yang dibutuhkan dan diingininya. Segalanya pasti sesuai dengan selera kalian berdua dan mencerminkan adanya komitmen yang terjaga.
Bagi kamu yang sudah siap untuk menikah, perencanaan adalah perlu. Ini akan membuatmu membayangkan sebuah kesempurnaan, tapi juga mungkin saja membuat kamu membayangkan kegagalan. Tak perlu takut, jalani segalanya dengan penuh rasa percaya diri dan usahakan secara maksimal. Sadari dia adalah bagian dalam hidupmu.
Biasanya perceraian yang terjadi di awal tahun lantaran keinginan untuk bebas dan merasa dirinya lebih dari pasangannya. Untuk lolos dari hal ini, buang pikiran tersebut jauh-jauh dan bayangkan sebuah pernikahan indah yang akan Anda jelang sampai akhir hayat, persis seperti syair lagu lawas, "A Story Book Children". Ingat berjuta-juta buku anak-anak selalu ditutup dengan kalimat klasik, ...and they live happily ever after....
(dtr/cn02)
Rabu, 07 November 2007
Mencari Kebahagiaan
Dalam hidup kadang kita merasa sedih dan duka, bahkan ada yang sampai putus asa ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi anehnya ketika apa yang kita inginkan terwujud, baru kita sadari bahwa yang kita inginkan itu akhirnya tidak selalu dapat membuat hidup kita bahagia. Mengapa???
Kebahagiaan manusia sangat relatip tidak ada batas ukurannya, tiada kebahagiaan didunia yang abadi, bisa jadi kondisi saat ini kita merasa berbahagia karena satu keinginan kita telah terpenuhi, lain waktu pada kondisi yang sama telah berubah menjadi tidak bahagia karena keinginan manusia berubah mengikuti tuntutan nafsu ingin mendapatkan keinginan kedua, kemudian disusul keinginan ketiga terus, terus dan terus tiada habisnya sebelum nafsu dikendalikan atau sampai mati. Satu kali makan daging ayam mungkin akan terasa enak dan nikmat, namun akan bosan dan tidak enak lagi bila dimakan setiap hari, begitupula dengan sejumlah materi dan harta benda tiada bedanya. Sebenarnya yang namanya kenikmatan itu sangat terbatas, nikmatnya rasa makanan hanya terbatas dari **cencored** makanan ke mulut melalui kerongkongan sampai perut kemudian kenyang, setelah kenyang makan rasanya sudah tidak enak lagi, bahkan terasa sakit. Nikmatnya syahwat hanya beberapa menit, lebih dari itu malah sakit rasanya. Justru karena sebentar itulah manusia cenderung untuk menikmati berulang-ulang menuruti keinginan hawa nafsunya.
Manusia yang sedang dimabuk nafsu memburu kenikmatan seasaat biasanya tidak dapat berpikir jernih, melakukan perbuatan jauh dari kebaikan dan akhirnya baru menyadari ketika ia memanen hasil perbuatanya sendiri dimasa lampau. Sebenarnya kita tau dan sadar betul bahwa dibalik kenikmatan yang sesaat itulah, terdapat jurang penderitaan yang berkepanjangan, apabila kita tidak hati-hati dalam menyikapi, kita akan kehilangan kewaspadaan dan terlena mengikuti keinginan nafsu, hasilnya berbagai macam penyakit bermunculan akibat pola makan yang tidak sehat, force power syndrome akibat kehilangan jabatan, stress karena tekanan ekonomi yang tak tersisa akibat mengikuti gaya hidup(hura-hura), atau malah berurusan dengan pihak berwajib akibat menyalah gunakan wewenang, semua itu karena mata hatinya telah tertutup oleh nafsu.
Seharusnya kita sadar dan waspada bahwa segala sesuatunya didunia ini tidak abadi, segalanya bergulir dan bergilir menurut aturan dan kehenak Tuhan Yang Maha Pencipta, ketika lahir kita tidak dibekali apa-apa, kemudian kita menjadi besar, nikah dan punya keturunan, kemudian menjadi tua dan akhirnya ketika matipun tidak membawa harta benda bahkan tidak mengajak sanak keluarga yang kita cintai, itulah kehidupan. Mobil dan rumah mewah, Istri yang cantik, keluarga yang kita cintai, dst.. semua adalah titipan belaka yang sewaktu-waktu akan diambil oleh PEMILIKNYA. Mengapa harus sedih dan berat hati ketika Harta benda yang kita cintai diambil olen PEMILIKNYA?? Apakah kita punya hak atas barang2 tersebut??? Benarkah itu Musibah ????. Semakin besar seseorang merasa memiliki dan memuji-muji harta benda, semakin besar rasa kesedihan akibat kehilangan benda tersebut, Semakin besar hasrat orang untuk mencapai keinginan, semakin dekat dengan kekecewaan. Do’a harian kita panjatkan kepada Tuhan agar diberikan Keselamatan, kesehatan, jodoh, rejeki yang banyak, dll, Usaha telah kita lakukan namun Tuhan lebih tahu segalanya, Tuhan mempunyai rencana yang paling baik untuk kita.
Mencari kebahagiaan dengan mengikuti hawa nafsu untuk mencapai keinginan, hasilnya NOL BESAR bahkan sangat berrisiko terjerumus pada perbuatan tercela, menghalalkan segala cara penuh berlumuran dengan dosa-dosa, dan kebahagian letaknya didalam hati, bukan di Bar, Hotel, atau ditempat-tempat lain, tidak harus dengan biaya mahal.
Kalau kita jujur, apa yang menimbulkan susah dan senang bahagia sebenarnya bukan dari luar diri manusia, melainkan dari dalam hati kita sendiri yang dicengkeram nafsu mementingkan diri sendiri, nafsu iba diri, jika dirugikan kita merasa susah, jika diuntungkan kita senang. Susah dan senang hanyalah permainan gejolak perasaan kita.
“SUSAH MENIMBULKAN TANGIS DAN DUKA, SENANG MENIMBULKAN TAWA” Baik diterima dengan susah atau senang, persoalannya tidak akan berubah. Mengapa harus sedih dan menangis ketika kita tidak pada posisi diuntungkan?? Mengapa kita harus bersedih ketika sesuatu yang kita sayangi, kita cintai diambil oleh PEMILIKNYA??? Tidak selayaknya kita berburuk sangka, kini saatnya untuk introspeksi diri, siapa diri kita ini, apa yang telah kita lakukan. Sedih dan tangis hanya akan menimbulkan kelemahan batin, dapat mendatangkan keharuan pada orang lain, mudah mengukirkan dendam dalam hati, melahirkan dosa-dosa lain. Dalam menghadapi hidup, MENANGIS dan TERTAWA sama-sama menggerakan bibir, mengapa tidak memilih tawa daripada tangis? hasilnya lebih baik bagi diri sendiri dan bagi orang lain.
Orang bijak akan tahu bahwa yang terpenting dalam menjalani hidup ini adalah Menerima dengan ikhlas “NRIMO ING PANDUM” atas segala hal yang terjadi pada diri kita ini disertai kesadaran bahwa segala yang terjadi adalah KEHENDAK TUHAN YANG MAHA KUASA. Kesadaran ini akan menuntun kita untuk menerima segala peristiwa dengan penuh penyerahan kepada kekuasaan Tuhan, karenanya kita akan tetap tenang karena sudah waspada bahwa segala peristiwa yang terjadi takkan dapat dihindarkan oleh kekuasaan manusia yang sesunguhnya hanya mahluk lemah yang selalu menjadi permainan dari nafsu-nafsunya sendiri."
Rabu, 31 Oktober 2007

Memancing wanita agar mengejarmu
Pertama kali yang harus kamu lakukan adalah membuat diri kamu serileks mungkin. Karena kalau kamu terlalu menggebu-gebu, bisa merusak semua 'niat baik' itu. Perlu kamu ketahui juga, sebenarnya membuat si dia datang ke kamu lebih dulu, bukan perkara rumit kok! Kamu hanya perlu tampil apa adanya pada wanita yang kamu suka. Tunjukkan bahwa kamu seorang yang sederhana, jujur, sopan, Pede, sekaligus charming. Semua itu adalah kriteria umum yang bisa bikin wanita menaruh simpatik sama kamu.
Tunjukkan juga kalau kamu sangat antusias ketika mendengar cerita-ceritanya (walaupun itu hanya cerita-cerita biasa yang sebenarnya kurang menarik). Nah, kalau sudah begini, si dia dapat melihat bahwa kamu ternyata seorang yang enak diajak bicara, nyambung, dan, membuat mereka kepingin nempel terus. Jangan lupa untuk selalu memberikan tanggapan, saran, nasihat, ataupun masukan yang positif ketika si dia meminta pendapatmu, atau ketika si dia bertanya tentang suatu masalah padamu.
Kalau selama ini kamu termasuk seorang yang punya 'selera' tinggi dalam memilih seseorang untuk jadi pacarmu, maka mulai kali ini cobalah untuk tak terlalu menetapkan kriteria rumit untuk mendapatkan calon pacar. Disadari atau tidak, hal ini sebenarnya merupakan kebiasaan jelek yang banyak dilakukan pria ataupun wanita --apalagi jika mereka merasa bahwa status sosialnya mulai menanjak. Kamu perlu menerapkan paham nobody's perfect. Mulailah berkaca pada dirimu sendiri, dan lihat dengan cermat - kamu bukan orang yang sempurna, bukan?
Jadi jangan terlalu banyak menilai, apalagi berpikiran negatif. Lama-lama si dia juga bakal sebal melihat kelakuanmu ini. Terutama jika si dia sampai merasakan bahwa dirinya sedang dibanding-bandingkan dengan wanita lain, bisa-bisa malah si dia yang menjauhi kamu.
Dalam kegiatan sehari-hari, boleh-boleh saja kamu memperlihatkan perasaan suka kamu, sekaligus berharap si dia akan menyukai kamu tentunya. Bukannya lantas kamu merasakan bahwa dirimu mempunyai wewenang untuk mengontrol dan mengekangnya --apalagi sampai mengikatnya. Biar bagaimanapun, wanita punya kebebasan yang sama seperti pria dalam bergaul ataupun beraktivitas bersama teman-temannya.
Kamu harus pintar membaca situasi. Jangan halangi dan persempit ruang geraknya. Jangan pula selalu berada di dekatnya dalam kesempatan apapun. Jangan biarkan si dia berfikir mengapa seolah-olah segala kegiatan yang dilakukannya dimata-matai ataupun harus dilakukan atas izinmu. Jangan begitu! Jika kamu begitu, si dia akan berpikir akan jadi seperti apa dirinya nanti jika kamu jadi pacarnya? Mirip penjahat atau buronan yang setiap saat dipantau keberadaannya?
Sebaliknya buat si dia menebak-nebak di mana kamu berada sekarang, apa yang sedang kamu lakukan, dan, dengan siapa kamu berada sekarang. Dengan begitu si dia akan was-was, khawatir, cemas, bercampur kangen atas ketidak-hadiranmu ini.
Akan tetapi, ketika ia sedang kesusahan atau ada masalah, perlihatkan bahwa dirimu terbuka untuk mendengar dan bersedia memberi masukan agar masalahnya cepat selesai. Tunjukkan pula kalau kamu sangat antusias ketika mendengarnya bercerita, dan menanggapinya dengan tanggapan positif, brilian, tanpa kesan menggurui. Yang terpenting jangan di-cuekin aja!
Senyum. Bukan rahasia umum lagi bahwa senyum merupakan senjata ampuh untuk menebar pesona. Para ahli pun menganjurkan banyak senyum untuk merefleksikan diri kamu agar orang lain dapat berfikir bahwa dirimu mempunyai pikiran positif dan stabil.
Nah, kalau kamu termasuk orang murah senyum, jangan ragu-ragu untuk menularkan kebiasaan kamu pada si dia. Caranya mudah, ketika kamu sedang berduaan, buatlah beberapa joke atau kegiatan lain yang dapat membuatnya bereaksi positif - misalnya membuatnya tersenyum dan tertawa.
Jangan sekali-kali kamu keras kepala di depannya. Beri dia ruang untuk mengekspresikan dirinya. Berikan ia ruang untuk membuatmu senyum. Jangan pula hanya si dia yang kamu buat tersenyum, ada baiknya jika kamu juga dekat dengan sahabat-sahabatnya dan keluarganya. Apalagi kalau kamu dapat membuat mereka menyukai keberadaanmu di antara mereka. Percaya deh, kalau 4 dari 5 wanita lebih memilih pacar yang punya selera humor tinggi.
Jangan lupa untuk berusaha menjadi yang terbaik untuknya. Tapi jangan lalu kamu memaksakan dirimu untuk melakukan hal-hal yang nyata-nyata tidak dapat kamu lakukan. Just do the best you can, and, be yourself --maka semuanya akan berjalan lancar.
Jangan lupa juga untuk memperhatikan penampilan. Kamu tahu dong, penampilan yang rapi dan bersih (apalagi harum) sangat digemari wanita?! Usahakan juga untuk menjaga nafasmu supaya tetap segar, karena bisa-bisa si dia pingsan ketika tidak sengaja mencium bau 'tong sampah' yang keluar dari mulutmu!
Jika kamu merupakan seorang agresif, cobalah untuk sedikit menahan keinginan untuk melancarkan aksi terlebih dahulu, seperti menelepon 5-10 kali sehari, mengirim SMS sebanyak 90-100 kali sehari yang isi-isinya terlalu mengobral cinta maupun rayuan bullshit. Sebaliknya, buatlah agar dirimu jarang menelepon, jarang meng-email, jarang bertemu, ataupun ber-SMS ria. Itu akan terus membuat si dia mempesona di matamu, tak membosankan, dan yang pasti, membuat si dia kangen berat padamu.
Satu hal lagi, jangan selalu menuruti keinginannya. Usahakan untuk sedikit jaga Image dengan selalu tampil cool di depannya (walaupun sebenarnya kamu sudah tak tahan melihat wajahnya yang lucu ketika merayumu). Dengan begitu si dia bakal tambah geregetan sama kamu.
Buatlah dirimu semisterius mungkin. wanita sebenarnya suka hal-hal yang berbau misteri. Dengan begitu mereka bisa berpetualang untuk mendapatkan cintamu. Nggak percaya? Coba saja kamu jarang nongol dan jarang nelepon. Pasti dia kelimpungan mencari-cari kamu. Nah, dengan begitu rasa ingin tahu tentang kamu akan bertambah, dan dia akan mencari jalan untuk mengetahui dirimu lebih dalam lagi.
Jangan pula kamu jadi sok akrab dengan dia! Karena jika kamu terlalu akrab, ia akan merasakan kenyamanan yang berbeda setiap berdekatan denganmu. Ia tidak mau suatu hari nanti persahabatan ini jadi hancur berantakan karena adanya perasaan cinta. Dengan begitu dia akan memilih kamu sebagai sahabat ketimbang sebagai kekasih. Wah?
Selamat dikejar-kejar ya?
(dtr/cn02)
Lelaki acap berpikir, bagaimana seorang wanita menginginkan pasangannya berubah, apa yang diinginkan wanita dalam membina suatu hubungan cinta dengan pasangannya, dan apa-apa saja yang sebaiknya dilakukan kala berkencan dengan seorang wanita. pertanyaan ini sulit dijawab. Tapi, jika kita dapat membaca pikiran wanita, aduh, jadi gampang sekali...
Wanita salut pada kaum pria. Memang, banyak juga wanita yang mengatakan sisi negatif mengenai pria. Namun sebaliknya, wanita sebenarnya sangat membutuhkan seorang pria. Mungkin saja, kebanyakan pria menyukai wanita yang bertubuh mulus. Tapi maaf saja! Itu hanya salah satu penghargaan negatif yang menusuk hati para wanita. Karena, itu, buatlah mereka kagum dengan pikiran Anda.
Anda, para pria, pasti punya cara membuat seorang wanita merasakan bahwa dialah orang yang paling spesial di dunia, dan hanya dialah anugerah Tuhan yang paling indah. Yah, walaupun agak sedikit terkesan "basi", tapi senyum yang manis dan pandangan sejuk sekilas Anda kepada seorang wanita serta menyukai dan membiarkan ia menyayangi Anda akan dapat membuatnya merasa bahwa dirinya sangat spesial untuk Anda.
Ini kata para wanita: "Cara bagaimana pacar kami memeluk, caranya duduk dengan sangat dekat, cara menciumnya dapat membuat wanita merasa lebih feminin dan seksi. Sewaktu pria memeluk kami (wanita) dengan pelukan erat dan berkesan ingin melindungi, membuat kami merasakan dicintai, dan kami tidak dapat berbuat apa-apa. Hanya bisa merasakan perasaan sentimental yang meledak-ledak di dada kami."
Meskipun wanita kadang tidak mau mengakuinya, mereka menyukai pria yang agak sedikit macho, kuat dan percaya diri. Wanita tidak suka pria yang pasif dan lemah; wanita menyukai seseorang yang selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, punya kepercayaan diri dan sedikit agresif. Tapi ingat! Jangan terlalu berlebihan. Jangan sombong! Tapi sedikit arogan, boleh! Itu tanda percaya diri.
Sekarang, bila wanita menginginkan prianya menjadi seorang yang macho, wanita juga menyukai pria yang terlihat kuat dan tangguh dari luar, tapi sangat lembut hatinya. Pria-pria yang menunjukkan sisi lain dari dirinya dan mengizinkan wanita yang dicintai dan mencintainya melihat ke dasar dirinya yang paling dalam. Sisi paling dalam yang ditutupi oleh jaringan-jaringan luar yang sangat susah ditembus dan dimengerti. Itulah yang wanita sukai dari pria; kemampuannya untuk menjadi seorang yang tangguh dan macho di luar, tapi halus dan sensitif di dalam.
Wanita sebenarnya tidak mau kencan dengan dua orang, tapi akan menyenangkan sekali bila melihat seorang yang tegar, kuat, macho tapi sensitif, layaknya seekor kelinci yang tersesat dan bayi yang baru lahir. Maka wanita tidak segan-segan memilihnya dan menjadikannya sebagai pujaan hati.
Wanita seringkali terlihat menyukai pria yang mengingatkan akan ayah mereka. Dan mereka sebenarnya menginginkan figur seorang ayah pada pria pujaan hatinya. Memang terdengar agak sedikit aneh, tapi menurut penelitian secara psikologis pun memang begini adanya !
Ini penting. wanita sangat sensitif, dan selalu tahu jika ada yang berubah dari pasangannya. Karena itu, jaga sifat ini, dan setialah, karena wanita pun akan setia pada Anda.
Nah, itulah beberapa yang diinginkan wanita. Dan, tampaknya, tak sulit Anda menjadi pria yang memenuhi harapan mereka. Sekali Anda memenuhi isi pikiran mereka, asmara pun akan melanda mereka. Dan, bersiaplah menampungnya.
(Kani/)
Minggu, 28 Oktober 2007
Apakah Perselingkuhan Dimonopoli oleh kaum Pria ?
Bedanya, jika di suatu saat perselingkuhan itu diketahui oleh suaminya, maka sang istri biasanya ingin segera menghentikan perselingkuhannya dan mempertahankan perkawinannya. Namun jika ia memilih untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan pria selingkuhannya, maka itu berarti ia ingin mengakhiri perkawinannya dan bercerai dengan suaminya. Sebaliknya para ahli menemukan bahwa ternyata para suami yang ketahuan berselingkuh pada umumnya tidak ingin mengakhiri perselingkuhannya tersebut. Para suami tersebut lebih suka jika diijinkan untuk menjalani kedua kehidupan tersebut, menikah dan juga punya affair.
Perselingkuhan Dalam Kehidupan Keluarga
Memang, ada pula rumah tangga yang tampak tidak terusik ketika masalah perselingkuhan melanda kehidupan pasangan itu. Pada kasus demikian sebenarnya dalam hubungan antara suami dengan istri sudah sejak lama tidak ada lagi ikatan cinta kasih di antara mereka. Istilahnya, di antara mereka sudah terjadi emotional divorce sejak bertahun-tahun lampau sehingga tidak peduli lagi apa yang akan terjadi. Ikatan perkawinan yang ada di antara mereka pada dasarnya sudah tidak ada artinya apa-apa jauh sebelum masalah perselingkuhan itu terjadi.
Ada pula kasus-kasus di mana istri menemukan bahwa suaminya selingkuh dengan wanita lain, namun tetap berusaha mempertahankan keutuhan perkawinan tersebut karena demi kehidupan anak-anak mereka di kemudian hari, supaya mereka tetap mendapatkan jaminan hidup yang layak. Alasan kedua adalah karena diri sang istri sendiri yang merasa tidak mampu hidup sendiri, entah karena alasan ekonomi atau pun karena alasan psikologis.
Perselingkuhan Untuk Memenuhi Kebutuhan Seksual
Perselingkuhan
Ditulis Oleh Jacinta F. Rini
Alasan Mengapa orang berselingkuh
Setiap orang yang menikah sudah tentu mendambakan dan mencita-citakan bisa menempuh kehidupan perkawinan yang harmonis. Namun bagaimana pun juga, kita tidak bisa melupakan bahwa sebuah perkawinan pada dasarnya terdiri dari 2 orang yang mempunyai kepribadian, sifat dan karakter, latar belakang keluarga dan problem yang berbeda satu sama lain. Semua itu sudah ada jauh sebelum keduanya memutuskan untuk menikah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan perkawinan pada kenyataan selanjutnya tidak seindah dan seromantis harapan pasangan tersebut. Persoalan demi persoalan yang dihadapi setiap hari, belum lagi ditambah dengan keunikan masing-masing individunya, sering menjadikan kehidupan perkawinan menjadi sulit dan hambar. Jika sudah demikian, maka kondisi itu semakin membuka peluang bagi timbulnya perselingkuhan di antara mereka.
Debbie Layton-Tholl, seorang psikolog, pada tahun 1998 meneliti alasan-alasan terjadinya perselingkuhan di antara pasangan setelah sekian lama menikah. Menurut Debbie, biasanya orang memakai alasan mengapa dirinya berselingkuh adalah karena :
merasakan ketidakpuasan dalam kehidupan perkawinan, adanya kekosongan emosional dalam kehidupan pasangan tersebut, problem pribadi di masa lalu, kebutuhan untuk mencari variasi dalam kehidupan seksual, sulit untuk menolak “godaan”, marah terhadap pasangan, tidak lagi bisa mencintai pasangan, kecanduan alkohol atau pun obat-obatan, seringnya hidup berpisah lokasi, dorongan untuk membuat pasangan menjadi cemburu.
Perselingkuhan karena Problem Pribadi di Masa Lalu

Perselingkuhan karena Problem Pribadi di Masa Lalu
Banyak dari kita yang belum menyadari, bahwa ternyata diri kita sendiri sebenarnya merupakan pangkal dari semua masalah akibat ketidakmatangan emosi dan ketidakharmonisan (konflik) yang sedang terjadi dalam hidup kita secara pribadi. Sayangnya, kedua hal tersebut sering belum selesai bahkan sampai memasuki dunia perkawinan. Memang di awal perkawinan semua tampak manis dan harmonis karena keduanya masih berusaha menampilkan diri sebaik-baiknya. Namun lama kelamaan, ibarat orang menggunakan topeng terus-menerus sehingga akhirnya kecapaian sendiri, maka sama saja halnya dengan kehidupan suami istri. Lama-lama kita akhirnya harus berhadapan tidak saja dengan realita tentang pasangan, tetapi juga realita diri sendiri. Kita tidak bisa berlama-lama sembunyi di balik kepalsuan karena hal itu sangat menguras energi. Lama- kelamaan, keluarlah keaslian diri kita yang tercermin dalam sikap, perilaku dan pola pikir yang termanifestasi setiap hari, seperti dalam memandang dan menyelesaikan persoalan, mengambil keputusan, mempersepsi suatu keadaan, nilai dan prinsip yang dimilikinya, mekanisme pertahanan diri dalam menghadapi tekanan, dalam berinteraksi dengan pasangan dan orang lain, pola asuhnya terhadap keturunannya sendiri, proses penyesuaian diri, kesehatan mental, masalah kejiwaan yang muncul di kemudian hari, bahkan mempengaruhi pemilihan terhadap pasangan hidup.
Jadi, sebenarnya jangankan mengurus diri orang lain, mengurus diri sendiri itu lah yang paling sulit karena berhadapan dengan diri sendiri adalah situasi yang sama sekali tidak menyenangkan bagi kebanyakan orang. Lama-kelamaan, diri kita yang asli mulai menuntut pasangan kita untuk memenuhi kebutuhan kita dan memperlakukan kita seperti yang kita inginkan. Kalau kita pelajari secara mendalam, mungkin kita akan temukan adanya benang merah antara bagaimana orang tua kita dahulu memperlakukan kita dan memenuhi kebutuhan (emosional dan fisiologis) kita dengan tuntutan kita terhadap pasangan. Ketidakmatangan emosi yang mungkin masih menjadi bagian dari diri kita pada dasarnya merupakan akibat dari proses perkembangan psikologis selama masa pertumbuhan; dan hal itu juga diwarnai oleh pola asuh orang tua, terutama pada masa-masa awal kehidupan seseorang.
Ambil saja contohnya, jika sejak kecil seorang anak tidak memperoleh kasih sayang dan tidak mendapat pemenuhan kebutuhan terutama kebutuhan emosional, maka dalam perkembangan selanjutnya (jika selama proses kehidupan selanjutnya situasi ini konstan dan tidak ada perubahan yang positif), ia juga akan tumbuh menjadi orang yang sulit untuk menunjukkan afeksi, kasih sayang dan perhatian pada orang lain; bahkan bisa saja muncul elemen ketidakmampuan untuk mempercayai orang lain karena waktu masih kecil, tidak ada satu orang pun yang bisa ia percayai (bahkan kedua orang tuanya) yang secara konstan hadir baginya dan mampu memberikan kasih sayang serta perhatian secara konstan. Jadi, kelak pada saat ia mencari pasangan, dalam alam bawah sadarnya tindakan ini dilandasi oleh keinginan dan kebutuhan untuk selalu diperhatikan. Agar ia dapat memastikan bahwa pasangannya itu selalu ada setiap saat ia membutuhkan (tidak seperti orang tuanya dahulu), maka biasanya akan muncul kemudian sikap-sikap seperti kecemburuan yang berlebihan, terlalu membatasi kegiatan pasangan, kecurigaan dan kekhawatiran berlebihan terhadap kesetiaan pasangan, keinginan untuk selalu diprioritaskan dalam setiap perkara dan tuntutan untuk selalu diperhatikan dan dipenuhi keinginannya. Jika sang pasangan punya sikap dan tindakan yang di luar keinginannya, ia kemudian merasa dikhianati, diacuhkan, merasa tidak diperhatikan, merasa dirinya tidak penting lagi, merasa dirinya tidak lagi dicintai, merasa pasangan sudah tidak menaruh hormat lagi padanya, merasa diri sudah tidak lagi menarik bagi pasangan, bahkan merasa dirinya hendak disingkirkan secara perlahan-lahan. Pikiran-pikiran negatif tersebut akhirnya berputar-putar dalam benaknya sehingga secara tidak sadar ia jadi terlalu sensitif dalam menanggapi kejadian yang sebenarnya masih normal dan wajar. Misalnya, ketika suami harus pergi ke acara sendirian (karena sifatnya yang formal), istrinya kemudian berpikir dirinya sengaja tidak diajak karena suaminya ingin mengajak wanita lain, atau merasa suaminya malu membawa dirinya yang dirasa sudah tidak menarik lagi, atau karena tingkat pendidikannya tidak sebanding dengan suami atau rekan kerjanya sehingga takut obrolannya tidak nyambung.
Karena sering terjadi hal-hal demikian, maka dapat dipastikan akan timbul kejengkelan dan salah paham yang tidak ada ujung pangkalnya karena masing-masing bersikukuh pada pendapat dan keyakinannya sendiri. Akibatnya, pihak yang tadinya tidak punya maksud apa-apa, jadi kesal, marah dan merasa lelah akan sikap pasangannya. Lantas, yang tadinya memang pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan, akhirnya sering pulang malam mencari hiburan untuk melepaskan diri dari stress di rumah. Dan karena setiap orang pada suatu saat perlu seseorang yang dapat menjadi curahan emosi, terbukalah jalan baginya untuk mencari substitusi dari pasangan yang sudah tidak bisa lagi menjadi teman bicara yang enak. Kalau ternyata ada seseorang yang mampu memberikan perhatian dan pengertian yang selama ini tidak ditemukan dalam diri pasangannya yang kerjanya di rumah hanya marah-marah, maka terbukalah kesempatan untuk menciptakan hubungan yang melibatkan faktor emosi, Jika sudah demikian, terjadilah perselingkuhan yang selama ini ditakuti atau pun menjadi bahan kecurigaan istri. Hal ini lah yang diistilahkan dalam psikologi sebagai self-fulfilling prophecy.
Pola Yang Berulang
Tanpa sadar, ada sebagian dari diri kita yang juga ada pada diri kedua orang tua kita dan akhirnya mewarnai hubungan kita baik dengan istri atau suami dan dengan anak-anak. Coba saja kita bayangkan. Apakah cara kita mengasuh anak-anak ada kemiripan dengan cara kita dahulu diasuh dan dididik oleh ayah dan ibu kita ? Atau apakah cara kita berkomunikasi atau berinteraksi dengan istri/suami hampir sama atau ada hal-hal yang sama dengan cara orang tua kita dahulu berinteraksi satu sama lain ? Yang lebih ekstrim lagi, kita coba memperhatikan, apakah sikap dan perilaku anak kita ada kemiripan dengan sikap dan perilaku kita dahulu (coba saja tanya pada orang tua kita) ?
Dari situ kita bisa menyimpulkan, bahwa apa yang dialami oleh diri kita dan perkawinan kita saat ini, bukanlah merupakan kasus tunggal yang terjadi begitu saja. Semua itu ada hubungan sebab akibatnya dengan masa lampau. Jadi, semua problem psikologis, termasuk ketidakmatangan emosional maupun konflik-konflik dalam diri sendiri pada dasarnya punya akar di masa lalu. Kita memang tidak boleh begitu saja menyalahkan kedua orang tua kita yang sudah susah payah mendidik dan membesarkan kita dengan tulus hati, karena bagaimana pun juga hal itu bukanlah kesalahan mereka sepenuhnya, dan lagi mereka juga tidak melakukannya dengan kesadaran karena pola yang mereka terapkan pada diri kita, juga mereka terima dari kedua orang tua mereka di masa lalu.
Selama kedua pihak masih bisa berpikir jernih, dan mau memeriksa diri, maka kemungkinan besar masih bisa mengendalikan diri untuk mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan baik itu yang terpendam maupun secara terbuka. Namun, jika salah satu pihak atau bahkan keduanya sudah menutup diri terhadap penyelesaian masalah karena merasa diri yang paling benar dan pasangan kita yang salah, maka hal itu tidak hanya akan mengakibatkan memburuknya hubungan perkawinan, namun bahkan yang lebih serius, tidak membuat masing-masing bertumbuh dalam pribadi yang lebih dewasa dan matang setelah mampu menerima dan kemudian mengolah elemen-elemen negatif diri sendiri untuk kemudian mentransformasikannya menjadi sesuatu yang positif bagi pertumbuhan jiwa yang sehat. Kegagalan untuk mempertumbuhkan diri sendiri inilah yang akhirnya akan membawa pada kegagalan selanjutnya meskipun misalnya orang tersebut menikah lagi. Oleh karena itu, sering kita mendengar ada orang-orang yang berulang kali kawin-cerai dan selalu karena masalah yang kurang lebih sama sifatnya. Masalah itu bukan hanya terletak pada orang lain, tapi justru kemungkinan besar terletak pada diri sendiri yang tampaknya sudah waktunya untuk menjalani transformasi.
Jumat, 26 Oktober 2007
Seberapa Kuat Lelaki Orgasme! Why
Makin Cantik Makin Sering Orgasme
Anda termasuk lelaki multiorgasme? Itu lho lelaki yang dapat mencapai lima sampai enam kali ejakulasi dalam satu jam. Kok bisa sih? Begini kasus seperti ini bisa terjadi dalam tiga situasi berikut:
Pertama, setelah lama tidak berhubungan seksual, misalnya dua atau tiga bulan. Selang waktu istirahat refleks seksual menjadi pendek. Setelah ejakulasi, ereksi dapat terjadi lagi dalam waktu lima menit. Meskipun demikian ini adalah situasi yang jarang terjadi.
Makin Menggairahkan Makin Hot!
Kedua, dalam kondisi rangsangan seksual yang kuat, bisa saja terjadi ereksi lagi dan ejakulasi terjadi beberapa kali dalam satu jam. Ketika berhubungan seks pertama kalinya atau dengan perempuan yang sangat menggairahkan, biasanya kemampuan ejakulasi lelaki berkembang secara signifikan. Ini juga akan menghilang seiring dengan waktu ketika tingkat kenikmatan seksual dan situasi mulai menjadi seperti biasa.
Ketiga, kerja orgasme lelaki yang sensasional adalah sesuatu yang paling sering digunakan, yakni harapan lelaki yang lebih tinggi pada organ genitalnya ketimbang fungsinya. Struktur rentan ini dikontrol oleh mekanisme kompleks yang berorientasi pada kualitas, bukan kuantitas.
Senggama bukanlah perlombaan. Bagi lelaki yang senang bersaing di dalam semua bidang kehidupan, sulit menerima seks apa adanya. Misalnya, Anda bersenggama dua kali seminggu dan masing-masing mencapai ejakulasi satu kali. Dengan membandingkannya, Anda merasa kurang. Anda tidak menyadari bahwa kehidupan seksual Anda sebenarnya normal dan wajar. Jadi, persoalannya adalah kepercayaan.
Melebihi semua usaha manusia, seksualitas lelaki adalah permainan kepercayaan. Aturannya adalah, "Kalau menurut Anda mampu, Anda pasti bisa". Ereksi mudah hilang karena keributan yang tiba-tiba, kata-kata sindiran, bahkan tatapan penolakan dapat menghancurkan semuanya.
Ini salah satu aspek paling memalukan dan tidak menyenangkan. Sembilan puluh lima persen alat kelamin lelaki bereksi secara baik justru pada saat tidak dibutuhkan. Kalau dipikir lebih jauh, organ seakan-akan takut berhadapan dengan genital perempuan. Ketakutan dan kemampuan sama-sama persoalan penting bagi ereksi organ lelaki.[sexbehave/stl/hep]
Kamis, 11 Oktober 2007
Guru dan Problem Pendidikan
Apabila kita mencoba melakukan refleksi mendalam, kita temukan berbagai persoalan muncul silih berganti melanda dunia pendidikan nasional kita, baik yang berskala mikro maupun yang makro.
Selain tantangan yang amat berat utamanya dalam upaya menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global, juga masih dihadapkan pada dampak buruk dari krisis dalam berbagai bidang kehidupan dan kenaikan harga BBM yang berimplikasi pada meningkatnya biaya pendidikan di segala jalur jenis dan jenjang pendidikan.
Salah satu permasalahan esensial pendidikan yang sampai saat ini masih dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenis, jenjang, jalur, dan satuan pendidikan. Bahkan kalau kita amati lebih cermat kondisi pendidikan di negeri ini dari hari ke hari semakin menurun kualitasnya. Berdasar hasil penelitian tentang Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP 2005, saat ini kita berada pada peringkat 110 dari 174 negara yang diteliti.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, Brunei dan apalagi dengan Singapura kita jauh tertinggal. Hal ini menunjukkan betapa rendahnya daya saing SDM Indonesia untuk memperoleh posisi kerja yang baik di tengah-tengah persaingan global yang kompetitif.
Berbagai usaha dan inovasi telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lain melalui penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku dan alat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, manajemen mutu sekolah, sistem SKS, dan menyiapkan sekolah unggul.
Bahkan untuk yang terakhir ini, menurut Dirjen Mandikdasmen pemerintah menyediakan dana blockgrant Rp 500 juta pertahun selama lima tahun. Namun demikian sampai saat ini tanda-tanda bahwa dunia pendidikan kita semakin membaik tidak kunjung muncul indikasinya.
Pertanyaannya, mengapa sampai saat ini mutu dunia pendidikan nasional kita masih memprihatinkan dan apa akar persoalan yang menyebabkan semua itu terjadi?
Guru: Pihak yang Tertuduh
Dunia pendidikan nasional kita memang sedang menghadapi masalah yang demikian kompleks. Begitu kompleksnya masalah itu tidak jarang guru merupakan pihak yang paling sering dituding sebagai orang yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidikan. Asumsi demikian tentunya tidak semuanya benar, mengingat teramat banyak komponen mikrosistem pendidikan yang ikut menentukan kualitas pendidikan.
Namun begitu guru memang merupakan salah satu komponen mikrosistem pendidikan yang sangat strategis dan banyak mengambil peran di dalam proses pendidikan secara luas, khususnya dalam pendidikan persekolahan.
Guru memang merupakan komponen determinan dalam penyelenggaraan pengembangan SDM dan menempati posisi kunci dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas).
Dampak kualitas kemampuan profesional dan kinerja guru bukan hanya akan berkontribusi terhadap kualitas lulusan yang dihasilkan (output) melainkan juga akan berlanjut pada kualitas kinerja dan jasa para lulusan tersebut (outcome) dalam pembangunan, yang pada gilirannya kemudian akan nampak pengaruhnya terhadap kualitas peradaban dan martabat hidup masyarakat, bangsa serta umat manusia pada umumnya.
Pendidikan nasional kita sudah terlalu lama dikelola dengan konsep nonpendidikan. Meminjam istilah Winarno Surakhmad, pendidikan kita dikelola hanya dengan logika pragmatis, logika bisnis, pertimbangan politik praktis, pendekatan otoriter, pengelolaan reaktif, trial-and-error, dan instan.
Begitu strategis dan pentingnya posisi guru dalam pendidikan, maka tuntutan terhadap guru yang berkualitas dan profesional merupakan suatu keniscayaan yagn tidak bisa dihindari. Lebih-lebih setelah lahirnya UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, tuntutan profesionalisme itu semakin kuat. Persoalannya, untuk mendapatkan guru yang profesional dan berkualitas - sudah barang tentu - mustahil dapat terjadi dengan sendirinya, melainkan harus diupayakan penyiapan dan pengembangannya secara terus-menerus, terencana dan berkesinambungan.
Upaya pengembangan itu memang merupakan suatu keharusan, mengingat tuntutan standar kualitas serta kebutuhan di lapangan juga terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan seiring dengan pesatnya laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi di era global ini.
Guru merupakan titik sentral dari peningkatan kualitas pendidikan yang bertumpu pada kualitas proses belajar mengajar. Oleh sebab itu peningkatan profesionalisme guru merupakan suatu keharusan.
Guru yang profesional tidak hanya menguasai bidang ilmu, bahan ajar, menguasai metode yang tepat, mampu memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan. Guru yang profesional juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakekat manusia, dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir dan pola kerja guru dan loyalitasnya kepada profesi pendidikan. Juga dalam implementasi proses belajar mengajar guru harus mampu mengembangkan budaya organisasi kelas, dan iklim organisasi pengajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis bergairah, dialogis sehingga menyenangkan bagi peserta didik sesuai dengan tuntutan UU Sisdiknas (UU No 20 / 2003 Pasal 40 ayat 2a).
Dalam kaitan ini, menurut Supriadi (1988) untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal: (satu) Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya.
Dua, guru menguasai secara mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa. Tiga, guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi. Empat, guru mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belejar dari pengalamannya. Lima, guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
Dengan demikian, untuk menjadi guru yang profesional - seorang guru yang sejati - harus berdiri di atas prinsip bahwa praksis pendidikan mutlak memerlukan ilmu pendidikan. Para pendidik harus memperjuangkan prinsip itu.
Prinsip bahwa tanpa ilmu pendidikan maka praksis pendidikan menjadi semu, menyesatkan dan membahayakan bangsa. Tetapi bagaimana realitasnya?
Pendidikan nasional kita sudah terlalu lama dikelola dengan konsep nonpendidikan. Meminjam istilah Winarno Surakhmad, pendidikan kita dikelola hanya dengan logika pragmatis, logika bisnis, pertimbangan politik praktis, pendekatan otoriter, pengelolaan reaktif, trial-and-error, dan instan.
Betapa tidak, lihat misalnya kasus KBK, sistem SKS, dan yang saat ini sedang hangat dibicarakan adalah persoalan sertifikasi dan uji kompetensi guru. Sertifikasi dan uji kompetensi guru hanya memenuhi tuntutan dunia modern, budaya global, logika bisnis, dan reaktif-pragmatik. Reaktif karena harus memenuhi tuntutan globalisasi, pasar terbuka dan persaingan bebas. Pragmatik, karena dimaksudkan untuk menyelesaikan masalah aktual yang pada dasarnya sangat teknis.
Itu memang penting, tetapi yang lebih penting lagi perlu ada pemahaman bahwa pendidikan lebih dari itu, tidak hanya menyelesaikan persoalan aktual, tetapi persoalan kemanusiaan yang hakiki. Pendidikan harus mampu membekali peserta didiknya dengan kemampuan individual, lokal, sehingga menjadi warga negara yang mandiri dan berdaya, serta menjadi lebih antisipatif-humanistik.
Persoalan lain yang tidak kalah essensialnya yang menyebabkan mutu pendidikan semakin memprihatinkan adalah kecenderungan kita mengambil konsep dari luar, tanpa mau memahami konteksnya yang lebih luas dan implikasinya yang lebih jauh. Asal saja kita mendengar ada suara dari luar yang agak aneh, KBK, sertifikasi, lesensi, standarisasi, misalnya, kita cepat menerimanya sebagai "pasti bagus". Padahal konsep yang kita anggap bagus saat ini itu di negara mereka merupakan konsep yang sudah lama ditinggalkan. Mereka selalu bergerak dan maju terus kita selalu menunggu hasil dokumentasi dan menyesuaikannya. Akibatnya kita senantiasa berkembang denegan ketertinggalan yang berkelanjutan.
Abdul Madjid, dosen FAI dan Korbid Akademik Program Pascasarjana UMY.
Selasa, 09 Oktober 2007
MISTERI TERBELAHNYA BULAN.
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat Al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah ? Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut :
Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari Al-Qur’an.
Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah” mengandung mukjizat secara ilmiah ?
Maka saya menjawabnya: “Tidak, sebab kehebatan ilmiah dapat diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad shallallahu ‘alaihi wassalam sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana nabi-nabi sebelumnya. Dan mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW, maka tentulah kami para
muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi hal itu memang benar termaktub di dalam Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam. Dan memang Allah ta’alaa benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu”.
Maka Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah SAW membelah bulan. Kisah itu adalah di masa sebelum hijrah dari Mekah Al-Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?” Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ?” Mereka menjawab: “Coba belahlah bulan …” Maka Rasulullah SAW pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah SWT agar menolongnya. Maka Allah SWT memberitahu Muhammad SAW agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan, dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya. Maka serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!”.
Akan tetapi para ahli mengatakan bahwa sihir, memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada ditempat itu. Mereka lantas menunggu-nunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Mekkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan. Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Mekkah, maka orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?”. Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…!!!”.
Maka sebagian mereka pun beriman, dan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: “Sungguh, telah dekat hari qiamat, dan telah terbelah bulan, dan ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap …..” sampai akhir surat Al-Qamar.
“Ini adalah kisah nyata”, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdirilah seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris. Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?” Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: “Dipersilahkan dengan senang hati.”
Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemah makna-makna Al-Qur’an yang mulia. Maka, aku pun berterima kasih kepadanya dan aku membawa terjemah itu pulang ke rumah. Dan ketika aku membuka-buka terjemahan Al-Qur’an itu di rumah, maka surat yang pertama aku buka ternyata Al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah…….” Maka aku pun
bergumam: Apakah kalimat ini masuk akal?? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali?? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu??? Maka, aku pun menghentikan dari membaca ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi Allah-lah Yang Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.
Maka aku pun suatu hari duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi hangat antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa. Dan diantara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakiknya di bulan, dimana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?” Mereka pun menjawab, “Tidak, ..!!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun. Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya?” Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!!” Presenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Maka kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya, dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah lalu bersatu kembali”.
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad sallallahu alaihi wassallam 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!!”".
Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah … (aku pun bergumam), “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf Al-Qur’an dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.
SUBHANALLAH…………..
MAHA BESAR ALLAH SWT ATAS SEMUA CIPTAANNYA
Diterjemahkan oleh: Abu Muhammad ibn Shadiq
ISLAM ADALAH RAHMATAN LIL’AALAMIIN
Senin, 08 Oktober 2007
Cantik yang tak sehat

Pilih mana mau tampil cantik tapi beresiko sakit, atau berpenampilan biasa namun berbadan sehat sampai tua? Ditilik dari logikanya, orang akan cenderung mengambil pilihan kedua. kenyataannya, banyak yang lebih suka pada pilihan pertama. Yang penting terlihat cantik dan menarik. Soal sakit, urusan belakangan.
Contohnya dalam memilih sepatu. Sepasang sepatu hakikatnya adalah pembungkus yang berguna untuk melindungi kaki. Dalam dunia mode, sepatu menjadi bagian dari fashion yang dirancang bukan saja untuk melindungi kaki tapi juga untuk mempercantik penampilan. Belakangan pendekatan fashion yang lebih melekat, sehingga lahirlah model-model sepatu yang mengutamakan unsur "gaya" ketimbang fungsi dari sepatu itu sendiri.
Hak Tinggi. Dalam memilih sepatu, kaum perempuan cenderung menyukai sepatu berhak tinggi. Pasalnya dunia mode telah melemparkan imej bahwa sepatu berhak tinggi memberi kesan yang lebih anggun. Semakin tinggi hak sepatu yang dikenakan, akan mengundang decak kagum dan si pemakai juga merasa penampilannya menjadi semakin lebih menarik. Padahal dikaji dari sisi kesehatan, sepatu berhak tinggi mengundang banyak masalah.
Salah satu masalah kesehatan yang disebabkan oleh sepatu berhak tinggi adalah osteoarthritis. Osteoarthritis adalah bagian dari penyakit radang sendi atau artritis. Gejalanya berupa nyeri dan kaku di persendian tulang. Umumnya keluhan muncul di persendian lutut dan panggul. Bila dibiarkan bisa menyebarkan nyeri ke bagian otot sekitarnya. Pada stadium rendah, keluhan bisa diatasi dengan obat-obatan dan latihan gerak. pada stadium lanjut memerlukan tindakan operasi penggantian bantal sendi.
Dengan hak sepatu yang tinggi, tubuh akan menjadi lebih condong ke depan. Tentunya, si pemakai sepatu tak membiarkan tubuhnya membungkuk ke depan dan akan berusaha menegakkan posisi tubuhnya dengan cara menarik badan ke belakang. Sikap berdiri tegak seperti ini menimbulkan gaya berat badan yang tidak seimbang. Bagian tertentu dari sendi lutut mendapat beban yang lebih berat dari bagian lain. Semestinya keseluruhan gaya berat badan bisa ditampung sepenuhnya secara merata oleh semua permukaan sendi lutut. Bila kondisi tidak seimbang ini terjadi terus-menerus dalam tempo antara dua sampai lima tahun terpiculah penyakit radang sendi.
Ini bukan cerita isapan jempol belaka. Studi yang dilakukan America Academy of Orthopedic Surgeon beberapa tahun lalu membuktikan perempuan yang sering menggunakan sepatu berhak tinggi, terutama dengan hak di atas 5 cm, banyak yang mengalami radang sendi di sekitar lutut, paha, tulang panggul, bahkan ada yang sampai ke tulang belakang.
Penggunaan sepatu berhak tinggi akan semakin mengundang resiko penyakit bilamana hak yang dijadikan sandaran untuk berpijak berdiameter kecil. Hak sepatu yang kecil sudah barang tentu menyebabkan pijakan kaki tidak stabil, apalagi bila pemakainya bertubuh gemuk. Agar tubuh tidak terjatuh, secara refleks otot-otot sekitar lutur kerap bekerja keras menjaga keseimbangan tubuh, otot-otot lutut tidak bisa rileks. Inilah yang menyebabkan kaki mudah lelah, capek, dan terserang kram.
Hak terlalu rendah. Belakangan ini menjamur sepatu model baru dengan hak sangat rendah. Saking rendahnya terkesan tanpa hak karena tapak sepatu dan ujung jari sampai ke tumit sama tipisnya. Apakah ini berarti sepatu model ini seratus persen aman bagi kesehatan? jawabannya Ternyata TIDAK.
Sepatu yang terlalu datar juga bisa menimbulkan masalah karena kondisi tersebut memaksa tendon achilles-nama urat kaki di atas tumit yang namanya diambil dari nama legenda prajurit perang troya-melakukan tarikan yang keras. Bila berjalan dengan sepatu datar berlangsung dalam waktu yang lama, otot-otot di sekitar tumit terasa cepat pegal dan lelah.
Ujung runcing. Satu lagi model sepatu yang perlu dipersoalkan adalah yang berujung runcing. Lagi-lagi model ini sering kita jumpai pada sepatu wanita. Ujung runcing memang memberikan kesan manis, tapi sesungguhnya menyiksa kaki. Bila diperhatikan dengan seksama, kaki manusia baik laki-laki maupun wanita memiliki pola yang sama yaitu pola segiempat, sedangkan sepatu yang berujung runcing adalah penggambaran dari bentuk segitiga. Bisa dibayangkan bila memasukkan benda segiempat ke ruang segitiga jelas menyalahi aturan bentuk. Ditinjau dari aspek kesehatan, sepatu berujung runcing menimbulkan strength atau tekanan yang besar pada sendi-sendi jari kaki, dan kondisi ini bisa memicu pengapuran.
Model Ideal. Kalau begitu adanya, sepatu model apa yang paling ideal yang baik untuk dipakai sehari-hari? "Yang paling baik adalah sepatu olahraga. Empuk dan solnya juga bagus."
Tapi tentunya sepatu olahraga tidak cocok untuk dipakai ke kantor, maka untuk meminimalkan resiko gangguan tulang, ada baiknya untuk penggunaan sehari-hari pakailah sepatu yang memiliki hak setinggi 2-3 cm. Posisi ini memungkinkan tumit terangkat sedikit dan melonggarkan tendon achilles. Sehingga ketika berjalan tidak terjadi tarikan keras pada urat kaki. Sebaiknya pilihlah sepatu yang berhak besar sehingga dapat menopang tubuh dengan seimbang. Kemudian perhatikan pola ujung sepatu.Pakailah sepatu yang berujung datar atau tidak membuat jemari melengkung atau tertekan. Intinya, untuk kesehatan diri sendiri pilih dan pakailah sepatu yang menimbulkan rasa nyaman di kaki.
Kiat aman memakai sepatu hak tinggi:
* Jangan memakai sepatu berhak tinggi terlalu lama, cukup beberapa jam saja
* Gunakanlah pada waktu-waktu tertentu, misalkan ke pesta atau menghadiri acara-acara resmi
* Untuk menjaga penampilan, boleh-boleh saja memakai sepatu hak tinggi ke kantor. Tetapi kenakan saat datang menuju dan pulang kantor saja. selama di kantor, pakailah sepatu yang lebih nyaman dikaki.
(pdpersi/cn02)
Minggu, 07 Oktober 2007
Nilai Kesuksesan

Di sebuah sekolah, seorang guru mendapat pertanyaan dari salah seorang muridnya yang paling kritis. “Guru, apakah kami semua nanti bisa sukses?” Sang guru tersenyum mendengar pertanyaan itu. Tak lama, ia mengeluarkan uang senilai seratus ribu dari kantongnya. “Hayoo, siapa yang mau uang ini?” Semua anak berebutan mengacungkan tangannya. Uang senilai itu bagi mereka sangat besar.
Tiba-tiba, sang guru melipat-lipat dan meremas uang itu hingga kucel dan tidak karuan bentuknya. Ia pun berujar lagi, ”Hayoo, siapa yang mau uang ini?” Walaupun merasa heran dengan kelakuan gurunya, murid-murid tidak peduli, mereka kembali mengacungkan jarinya, sambil berteriak ”Saya..saya..saya..” Semua serempak mengajukan diri untuk mendapatkan uang itu.
Melihat antusiasme muridnya, sang guru kemudian menjatuhkan uang tersebut ke lantai dan menginjak-injak uang itu hingga kecil, tidak karuan dan kotor. Mendapati gurunya melakukan hal itu pada uang tersebut, sebagian murid melongo. Mereka tak tahu apa maksudnya sang guru menginjak-injak uang yang nilainya sangat besar bagi mereka itu. Guru pun kembali bertanya, ”Hayoo, siapa yang masih menginginkan uang ini?”
Ternyata, meski uang itu menjadi jelek, kumal dan bahkan bercampur sedikit lumpur yang berasal dari injakan sepatu guru, masih banyak murid yang antusias mendapatkan uang tersebut. ”Aku guru..aku..”
”Kalian tetap saja mau dengan uang ini? Kalian tidak melihat betapa uang ini sangat kucel, jelek, kumal dan bau?”
”Jelek itu kan hanya bentuknya saja guru. Tetapi saja uang itu nilainya seratus ribu,” jawab murid-murid yang tetap antusias meminta gurunya memberikan uang itu.
Sang guru pun kemudian berujar, ”Kalian benar. Meskipun sudah tidak karuan bentuknya, uang itu tetap berharga dan kalian tetap ingin memilikinya. Nah, jika tadi ada pertanyaan, apakah semua bisa sukses? Jawabannya sama seperti nilai uang ini. Dalam proses menuju ke arah kesuksesan, kalian pasti akan mengalami berbagai ujian dan cobaan, mungkin mengalami jatuh, diinjak, dan dilecehkan. Walaupun begitu, nilai diri kalian tidak akan berubah. Semua tergantung kalian sendiri, bisa menjaga nilai yang ada dalam diri kalian atau tidak. Jika kalian mampu menghargai diri sendiri dan menentukan nilai diri, dengan keyakinan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, maka sukses pasti kalian dapatkan.”
Pembaca yang budiman,
Tak peduli berbagai ujian, cobaan, halangan, dan tantangan yang menghadang, jika kita punya satu nilai dalam keyakinan dalam diri, bahwa sukses adalah hak saya, maka jalan kesuksesan pasti akan selalu terbuka.
Karena itu, seberat apapun perjuangan yang kita lakukan, seganas apapun padang gurun yang kita harus lewati, setinggi apapun gunung yang akan kita daki, seluas apapun samudra yang kita seberangi, tetaplah pelihara semangat ”Success is my right!” Tanamkan dalam diri, dan teruslah bekerja keras untuk mewujudkan semua mimpi. Harta tak ternilai itu ada dalam diri Anda. Perjuangkan!!!
Demikian dari saya.
Salam sukses luar biasa!!!!
Andrie Wongso
www.andirewongso.com
