SELAMAT DATANG SAHABAT

SELAMAT DATANG SAHABAT

Anda adalah pengunjung yang ke .....

Counter

video denmas

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Januari 2008

Rumah Lelaki

Rumah Lelaki
Yusuf Arifin

Sejak kecil ia selalu dicekoki oleh orangtuanya bahwa rumahlah pelabuhan hidup. Dari sebuah rumahlah seseorang pergi berlayar dan kembali ke rumahlah ia akan berlabuh. Dunia menyediakan petualangan tetapi rumah adalah tempat berlindung ketika seseorang perlu berkeluh kesah atau untuk berbagi kegembiraan. Hancurnya sebuah rumah adalah pertanda hancurnya dunia yang melingkupi orang.

Ia memang tak pernah membantah cekokan itu. Masa kecilnya membahagiakan. Orang tuanya sempurna dalam segalanya, kakak dan adiknya tanpa cacat. Kehidupan berjalan tanpa riak yang berarti. Kesedihan kadang-kadang terjadi, seperti ketika ayahnya meninggal, tetapi kegembiraan adalah yang utama mewarnai hidupnya. Lagipula apalah arti kebahagiaan tanpa adanya kesedihan dan kegembiraan yang datang bergantian. Bukankah kebahagiaan adalah pastinya hati untuk menyambut ketika kegembiraan dan kesedihan datang?

Dengan bekal itulah ia kemudian memutuskan tiba waktunya untuk membuat pelabuhan sendiri, rumahnya sendiri. Ia harus keluar merengkuh dunia sebelum ia bisa membangun rumahnya sendiri. Sudah 24 musim dedaunan gugur ketika ia memutuskan itu. Kakak-kakaknya sudah mapan dengan rumah mereka sendiri. Masih ada beberapa adiknya di rumah namun mereka belum saatnya untuk pergi.

Ibunya mencium dengan kasih sayang. ''Bila sudah kokoh tiang rumahmu, undanglah aku dengan segera,'' pesan ibunya ketika ia pamit.

Ia tertunduk, matanya membening oleh air mata, tangannya mengelus tangan ibunya yang mulai penuh kerutan.

Dan begitulah. Waktupun berjalan persis seperti jutaan tahun sebelumnya. Matahari dan bulan tenggelam dan muncul bergantian sesuai garis edarnya.

Satu hari adalah 24 jam. Tidak kurang dan tidak lebih. Kadang sepertinya berjalan lebih lambat, kadang sepertinya lebih cepat, tetapi hatilah yang mengatakan itu, bukannya waktu. Waktu bergerak tanpa perasaan apapun juga. Berapa ribu kali langit berganti dari gelap ke terang, dari terang ke gelap.

Dan ia yang sudah meninggalkan rumah menyusuri dunia bersama waktu. Dari ujung ke ujung, dari batas ke batas, dari mana nafkah hidup mengulurkan tangan. Begitulah ia. Tentu saja ia tak lupa, masih jelas terngiang dibenaknya mengapa ia pergi, rumahlah pada akhirnya pelabuhan perjalanan ini, rumahnya sendiri.

''Rumahku sendiri. Bagaimana cara memulainya,'' gumamnya pelan.

Setiap kali ia merenungkan hal itu, setiap kali pula otaknya bergegas memulai perjalanannya kembali. Matanya menatap awas ke sekitar tetapi pikirannya melayang-layang. Tertanam betul nasehat ayahnya.

''Fondasi rumah harus kuat. Karena tanpa fondasi yang kuat rumah akan mudah rubuh. Inilah awal dari segala awal. Yang paling penting.''

Ia tersenyum. Ratusan kali ayahnya mengatakan hal itu. Yang pasti dilanjutkan dengan betapa tidak bedanya fondasi rumah dengan fondasi perkawinan. Fondasi rumah yang kuat akan mampu menghadapi angin ribut dan gempa. Fondasi perkawinan yang kuat akan mampu mengarungi tantangan yang seberapapun beratnya.

Ayahnya memang selalu mengaitkan rumah dengan perkawinan. Ah ... ayahnya memang seorang yang bijak. Ia masih sering merindukannya.

Ia menjadi teringat akan ruang keluarga rumahnya yang besar, hangat dan nyaman. Dua sofa yang besar menjadi titik pusatnya. Beberapa bantal besar teronggok di kaki sofa, siap menerima siapun yang ingin rebah diatasnya. Ada beberapa foto keluarga dan foto ayah dan ibunya saat masih muda. Entah berapa ribu jam ia habiskan waktu di ruang itu sekeluarga.

''Kalian tahu mengapa ruang keluarga ini aku buat senyaman mungkin?'' pernah ayahnya bertanya. ''Karena inilah tempat kita bersilaturahmi sebagai satu keluarga. Suka dan duka kita bagi bersama di tempat ini. Kalau kita punya persoalan kita pecahkan di tempat ini. Kalau kalian ingin menangis atau tertawa inilah tempatnya.

''Ia bersama kakak dan adiknya tak perlu bertanya tentang ruang lain di rumah, karena tanpa diminta ayahnya mulai berceramah.

''Rumah... rumah....rumah. Rumahlah segalanya. Aku buatkan kalian semua kamar sendiri agar kalian belajar bertanggungjawab. Harus kalian bersihkan dan tata sendiri, karena pada akhirnya kalian harus hidup sendiri-sendiri terpisah dari aku dan ibumu. Aku dan ibumu pasti suatu saat akan mati.

''Matanya akan memerah, suara sedikit pelan dan bergetar. Ia sekeluarga akan terdiam sendu. Adiknya yang paling bungsu selalu bergeser mendekat dan kemudian memijat-mijat kaki ayahnya.

Ayahnyapun kemudian akan mengelus-elus pundak ibunya sambil berkata, ''Tentu saja aku juga membuat kamar untuk aku sendiri dan ibumu. Kalianpun nanti akan begitu. Kami, ayahmu dan ibumu, perlu ruang pribadi. Untuk memadu cinta, untuk saling marah kadang-kadang, dan untuk membicarakan kalian tanpa kalian tahu.''

Kata-kata memadu cinta selalu membuat ibu tersenyum. Ia, kakak-kakaknya dan adik-adiknya juga ikut tersenyum.

''Ah ayah kalian memang kurang kerjaan,'' begitu selalu kata ibunya tersipu. Tetapi tak pernah ia mendengar ibunya tak mengiyakan perkataan ayahnya.

Percakapan mereka selalu kemudian ditutup dengan pembicaraan tentang atap rumah mereka. ''Sengaja aku bikin lancip ke atas sebagai simbol. Untuk mengingatkan pada aku dan ibu kalian bahwa perkawinan antara aku dan ibu kalian semoga saja merupakan tangga titian ke sorga. Menuju ke atas.''

Wajah ayahnya akan tiba-tiba serius dan ibunya akan menepuk paha ayahnya dengan perlahan sambil tersenyum gembira.

''Rumah....rumah...rumah,'' helanya perlahan. Walau rutin berkabar ke ibunya, tiba-tiba timbul keinginannya untuk berkabar ibunya di rumah saat itu juga. Tetapi apa yang mau dikatakannya? Tiba-tiba teringat percakapan mereka dulu dengan ayahnya? Kedengarannya sangat sentimentil untuk seorang lelaki seperti ia.

Sabtu, 10 November 2007

Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang

Kunang-kunang Mengerjap Gelap Ruang

LEPAS tengah malam, lelaki setengah baya itu hadir menciptakan suasana aneh: kunang-kunang mengikutinya, berpendaran, mengerjap, berkelap-kelip dalam gelap ruang kamar Ayu. "Aku takut kegelapan," kata Ayu.

Lampu kamar dimatikan. Ayu memeluk rapat dan menyusupkan wajah ke dada lelaki setengah baya. Mata Ayu terpejam. Tangannya merengkuh punggung lelaki setengah baya itu. Jari-jemari mencengkeram, hampir-hampir mencakar dan mengelupas kulit.

Agak lama Ayu menyusupkan wajah ke dada lelaki setengah baya itu. Menghindar dari sergapan masa lalu di gudang gelap: kilau sabit yang dikalungkan Ayah di lehernya, semasa ia kanak-kanak. Kasar, penuh amarah, Ayah membentak, "Turut Ayah atau Ibu?". Ia ingin turut Ibu. Tapi sabit yang dikalungkan di lehernya, memaksanya untuk menukas terisak, "Turut Ayah." Ditinggalkannya Ibu dan kedua kakak perempuan. Tinggal bersama Ayah dan Nenek yang cerewet, suka mengajarinya menari, dan bila malam tak turun hujan, mengajaknya tidur di pelataran, memandang bintang-bintang hingga pagi.

Gelap ruang selalu menakutkan Ayu. Mengingatkannya pada pengab gudang berdebu dan leher terancam kilau sabit. Tapi kali ini ia kaget, dalam gelap ruang kamar berpendaran kunang-kunang yang mengikuti lelaki setengah baya. Ia jarang melihat kunang-kunang waktu malam, meski dulu Nenek selalu memintanya tidur di pelataran rumah hingga dini hari: merasakan rembesan embun dalam dingin malam, kepak lembut sayap kelelawar, dan bintang-bintang jatuh dalam kubah sunyi. Tampak dari pelataran rumah Nenek cerlang bintang-bintang di langit. Cahaya berpendaran itu yang membebaskannya dari rasa takut sekapan gelap gudang, hardikan kasar Ayah, dan kilau sabit yang mengalungi lehernya.

Kini kunang-kunang menyertai lelaki setengah baya itu ke dalam gelap kamar. Rintihan Ayu tengah malam menyingkap tabir kelam. Suara rintihan itu membebaskan ketakutan masa silam. Terbaring di sisi lelaki setengah baya itu, Ayu seperti perawan menemukan pangerannya dalam rimba, tersentuh cahaya kunang-kunang dan tergagap dalam kekaguman. Di rumah yang dikelilingi rimbun pepohonan, dengan harum bunga-bunga kopi di perkebunan, sesekali terdengar canda Ayu. Lelaki setengah baya itu terdiam memandanginya. Menatap tato setangkai mawar di payudara kanan Ayu. Menyembul di batas selimut penutup tubuhnya.

"Kau masih nyanyi di kelab?" tegur lelaki setengah baya itu.

Nada suaranya seperti tak rela.

"Tidak ada undangan menari. Jadi, apa salahnya aku menyanyi?".

"Aku lebih suka melihat kau menari di panggung."

"Kau persis Ayah," balas Ayu. "Bedanya, dulu, Ayah memaksaku menari, selalu dengan ancaman."

Kunang-kunang masih mengitari kamar Ayu, dalam gelap ruang. Selalu saja, setiap kali lelaki setengah baya itu datang, kunang-kunang menyertainya. Tengah malam itu dalam gelap kamar, semula ia disekap rasa takut, tergeragap, dan hampir-hampir tak bisa menguasai diri. Tapi begitu kunang-kunang menebar dalam kamar, ia merasakan sentuhan lelaki setengah baya itu jadi lembut, meski kadang tertahan. Tak seperti lelaki-lelaki lain yang senantiasa hadir dengan kekasaran, napas beraroma rokok dan minuman keras murahan, lelaki setengah baya ini, sangat santun menyentuhnya. Dua puluh sentuhan lelaki, mungkin lebih, yang pernah menjadi kekasihnya, tak satu pun menandingi kelembutan lelaki setengah baya. Ia serupa kunang-kunang yang mengerjap dalam gelap ruang, dan meneduhkan pandangannya untuk memaknai semua benda dan bayangan.

Menjelang dini hari aroma bunga-bunga kopi kian pekat, tertimpa embun. Kunang-kunang lenyap dari kamar. Terasa desir kecemasan dalam kantuk Ayu. Ia menerobos ke kamar Arlinda, anak gadisnya, kanak-kanak lima tahun, yang setiap saat mesti tidur sendirian. Tanpa teman. Biasanya Sarkem, pengasuh Arlinda, segera meninggalkan kamar, begitu gadis kecil itu terlelap. Bergegas perempuan setengah baya itu memasuki kamarnya sendiri di dekat dapur. Menguncinya rapat-rapat.

Sarkem tak peduli akan apa yang terjadi di rumah itu. Ayu biasa pulang tengah malam, dan membawa lelaki ke kamar tidurnya. Sarkem tak mau tahu. Ia melihat lelaki teman kencan Ayu meninggalkan rumah pada pagi hari. Tak pernah bertanya. Ia mendengar suara canda dari kamar Ayu. Tak mau menggubrisnya. Ia kadang mendengar Ayu menangis di kamar itu. Ia tak mau merenunginya. Ia hanya memikirkan Arlinda. Begitu berkali-kali Ayu memperingatkan Sarkem: menjaga Arlinda dengan sebaik-baiknya.

Memasuki kamar Arlinda, Ayu memandangi gadis kecil itu masih lelap tidur. Wajahnya polos dan jenaka. "Mudah-mudahan ia tak lagi bertanya, di manakah ayahnya," bisik Ayu sambil menutup kembali pintu kamar, pelan, rapat, tanpa suara.

***

MENYUSURI pagi berkabut, Ayu melintasi jalan setapak di celah hamparan kebun kopi. Bibirnya merah menyala. Tubuh ranum menggoda. Dia bisa merasakan getaran tubuh yang menantinya di sendang. Dia yakin, di sendang ada sepasang mata yang menatapi tubuhnya saat mandi.

Dalam kabut rembang pagi, Ayu menuruni jalan berbatu mencapai tepian sendang, yang memantulkan cahaya langit samar-samar. Berhenti di ambang sendang, ia bersimpuh. Guyuran air pertama dari sendang - yang diambilnya dengan belahan tempurung kelapa - terasa menggigilkan. Tapi pada guyuran berikutnya, ia merasakan kehangatan air sendang.

Di sendang sebelah, Tejo -lelaki dengan dada bertato naga- meredakan kemarahan yang menggemuruh dalam dada. Tiap kali lelaki setengah baya itu datang ke rumah Ayu, Tejo murka. Ingin membantai lelaki setengah baya. Semalam dia mengendap-endap di sisi kamar Ayu dan melihat kunang-kunang dalam gelap kamar. Ia ingin melampiaskan dendam pada lelaki setengah baya, yang selalu diterima Ayu. Dia kehilangan kesempatan mencumbu perempuan itu: diusir, dimaki, dihinakan. Ia tak punya tempat untuk melampiaskan dendam pada lelaki setengah baya itu, kecuali mendatangi sendang. Di sini ia bisa memandangi Ayu yang sedang mandi. Dadanya yang bergolak menjadi dingin. Amarahnya mereda. Ia biasa mandi di sendang, dan merasakan kucuran air menderas membasuh dendamnya.

"Kenapa tidak kauusir lelaki tua itu?" kata Tejo, menahan gigil: antara dingin dan murka.

"Aku suka dia, yang selalu datang dengan kunang-kunang dalam kamar."

"Tapi kau tak tahu, dia pejabat yang diutus wali kota membakar pasar lama, agar bisa dibangun pasar baru!"

"Aku tak berurusan dengan itu!" balas Ayu. "Dia memberiku ketenteraman." Dengan telapak kaki berpijak di atas bebatuan, Ayu memandangi lengkung langit yang pucat di permukaan sendang. Tergenang pula di permukaan air sendang, bibirnya merah menyala. Tubuhnya ranum menggoda.

Tejo memandangi Ayu mengguyur tubuh dengan ketenangan menggiurkan. Ayu bukannya tersipu malu. Ia menikmati dipandangi mata lelaki dengan hangat berahi. Ia juga membiarkan jendela kamarnya terbuka saat lelaki setengah baya itu datang. Bukan untuk mengundang kunang-kunang menyergap kamarnya. Ia tahu Tejo memandangi bayangan tubuhnya mabuk cumbu.

"Mestinya kau yang menyingkirkan lelaki itu!" kata Ayu, memancing kemarahan Tejo.

"Akan geger wilayah ini, kalau ia kubunuh! Tapi suatu saat, aku akan membuat perhitungan dengannya!" tukas Tejo. Ia beranjak menapaki jalan berbatu, sebelum orang-orang melihatnya berada di sendang bersama Ayu.

Kabut tersapu bias cahaya matahari, saat Tejo mencapai jalan setapak di perkebunan kopi. Gemericik air sendang tak terdengar lagi. Dada lelaki muda itu masih sesak, merasakan kegetiran yang menyengat: ingin membantai lelaki setengah baya yang sesekali menyelinap diam-diam ke rumah Ayu. Ditinggalkannya Ayu. Menenangkan perasaannya sendiri.

***

CAHAYA matahari menghangati rambut Ayu yang basah. Merembes air di pundaknya yang terbuka. Ia meninggalkan sendang, menapaki jalan berbatu, yang kini mulai berlumut, licin, dan menggelincirkan. Di pelataran rumah, ia lihat lelaki setengah baya memandanginya takjub. Matanya teduh, menenteramkan. Menggendong Arlinda. Mengusap-usap rambut kusut gadis belia itu. Menurunkannya. Arlinda berlari menghampiri Ayu.

Ayu selalu menemukan lelaki setengah baya itu tenang dan lembut di atas mobil dinasnya. Keteduhan itu, mungkinkah menyimpan kekejian seperti yang dituduhkan Tejo? Dalam gelap ruang kamarnya, dengan jendela yang terbuka, selalu muncul kunang-kunang saat lelaki setengah baya itu datang. Ia bisa merasakan, betapa berbeda tatapan mata lelaki setengah baya itu dengan Ayah, yang bengis, kasar, dan menaklukkan. Ayah meninggal dunia saat ia beranjak remaja, dan ia kembali hidup bersama Ibu -yang sangat asing, bertahun-tahun ia mencoba mengenali perempuan yang melahirkannya dan gagal.

Di atas mobil dinasnya, lelaki setengah baya itu memancarkan kelembutannya. Tersenyum. Melambai. Arlinda membalas lambaian tangan itu. Ayu termangu. Ia akan kembali dengan dirinya sendiri. Menyanyi di kelab malam dekat perkebunan kopi. Kadang menari ke luar kota. Kadang menerima lelaki ke dalam kamarnya. Tapi kehidupannya masih juga gersang: lelaki-lelaki itu serupa barang mainan yang sesekali bisa disepaknya. Berganti-ganti memasuki kamarnya dua puluh kekasih, tanpa kunang-kunang dalam gelap kamar. Dan ia, tanpa sadar, bisa garang meradang pada kekasihnya.

Bila lelaki setengah baya meninggalkan Ayu, sebenarnya perempuan itu ingin tahu: kapan bakal datang lagi, membawa mobil dinas melintasi perkebunan kopi, dan memasuki pelataran rumahnya yang sunyi. Tapi ia tak berani bertanya. Ia tak bisa menduga, kapan lelaki setengah baya itu bakal datang. Yang membisik tanya malah Arlinda, "Kapan dia datang lagi, Ibu? Aku suka kunang-kunang pemberiannya."

***

ADA getaran dalam tubuh lelaki setengah baya itu, saat berhadapan dengan wali kota, di teras rumah, menghadap gemerlap kota. Malam mengantarkan angin lembab. Wali kota memandangi kerlap-kerlip gedung-gedung, dan di pusat kota, tampak redup cahaya pasar tua.

"Sudah kau laksanakan tugasmu?" tanya walikota, menghisap pipa rokoknya. Ia tak menatap lelaki setengah baya, pejabat kota, yang setia menemaninya.

"Akan kucari orang yang tepat untuk melaksanakannya."

"Jangan terlalu lama. Pasar itu kacau dan kumuh. Tak bisa diatur. Bakar saja. Dirikan pasar baru."

Lelaki setengah baya itu memandangi kota terhampar di bawah rumah wali kota, serupa kunang-kunang. Ia tersenyum. Teringat Ayu, yang setiap kali ia datang ke kamar perempuan itu, selalu beterbangan kunang-kunang memasuki jendela kamar yang terbuka. Dan perempuan itu menjadi riang dalam ketakutannya. Ayu menangkap kunang-kunang itu. Memasukkannya dalam gelas. Menangkupkan tangannya menutup gelas. Berteriak-teriak mencari Arlinda. "Ini, kunang-kunang untukmu, Nak."

***

TERCENGANG lelaki setengah baya itu, saat memandangi kota melalui jendela kamar Ayu yang terbuka. Ia tak melihat kunang-kunang yang mengerjap dalam kesunyian kebun kopi. Ia menatap jauh di pusat kota yang terbakar. Api terus membubung, menghanguskan cakrawala. Percikan kebakaran itu menyemburkan bunga-bunga api.

Tubuh lelaki setengah baya itu lemas seketika. "Aku tak mengutus siapa pun untuk membakar pasar tua," bisiknya. Teringatlah ia pada beberapa gelandangan yang tertidur di pasar. Terlintas dalam benaknya orang-orang gila yang hangat menikmati tempat tinggal di sudut-sudut pasar. Terberanguskah mereka?

Dari jendela kamar yang terbuka, lelaki setengah baya itu berharap api segera surut. Tapi ia tak melihat api mengecil. Menjadi padam. Lampu kota mati. Tinggal nyala api itu yang menggulung langit. Asap tebal membubung. Lelaki setengah baya itu buru-buru berpamitan pada Ayu. Mengendarai mobil dinasnya. Meninggalkan Ayu yang terbaring sunyi menanti kunang-kunang mengerjap dalam gelap kamar. Percikan-percikan api di pusat kota terus menyusup dalam gemeretak gelap langit sepanjang tengah malam hingga dini hari.

Ayu tak bisa menangkap kunang-kunang untuk Arlinda. Gadis kecil itu keburu beranjak tidur dalam kamarnya. Ayu tak ingin putrinya juga takut pada kegelapan seperti dirinya. Takut pada bayangan-bayangan kilau sabit yang mengalungi leher.

***

TAK ada kunang-kunang mengerjap dalam gelap kamar Ayu. Ia tak menyanyi di kelab malam. Sejak sore ia memasuki kamar. Merintih. Menangis tertahan. Dan Tejo tak peduli. Lelaki dengan dada bertato naga itu membiarkan jendela terbuka. Meski lelaki muda itu tahu Arlinda masih berkeliaran di pelataran, mencari-cari kunang-kunang yang beterbangan, dibiarkan pintu kamar terbentang. Gadis kecil itu menangkap kunang-kunang hingga menyusup ke kebun kopi. "Akan kutunjukkan kunang-kunang ini pada Ibu," bisiknya.

Berlarianlah Arlinda meninggalkan kebun kopi. Tangannya terus menggenggam kunang-kunang. Ia tak berani membuka genggaman tangannya. Menerobos pintu rumah. Dia menabrak pintu kamar Ayu. "Aku dapat kunang-kunang. Ini sungguh lucu, Bu!"

Tercengang, dalam gelap kamar Arlinda melihat ibunya terisak tangis. Dan Tejo, lelaki bertato naga di dada, menyiksa Ayu dalam rintihan. Kunang-kunang dalam genggaman tangan Arlinda terlepas, beterbangan. Sekejap gadis kecil itu melihat wajah Tejo yang menyeramkan. Tato naga di dada lelaki itu menyergap pandangannya. Ia berlari ke kamarnya. Mengunci pintu. Terdiam dalam gelap kolong ranjang. Tersekap kegelapan yang menggigilkan.

Kunang-kunang yang terbebas dari genggaman tangan Arlinda berputar-putar mengerjap dalam gelap ruang kamar Ayu.

Pandana Merdeka, Agustus 2007

Malin Kundang Pulang Kampung

Malin Kundang Pulang Kampung

TERSIAR kabar dari toekang tjerita tentang Malin Kundang yang dikutuk Ibunya jadi batu, mungkin ingatanmu akan menjalar ke masa lampau bila di antara kita ada yang enggan pulang. Ah, toekang tjerita sudah mati, tinggal aku yang diwarisi cerita dan aku akan mengisahkan kembali padamu, mungkin kau akan menuduh kisah ini adalah cerita yang sesat. Tapi simaklah baik-baik kalimat demi kalimat yang menyimpan matahari asing.

***

IA tertatih. Pincang. Dan di matanya, tumbuh gelombang. Bau cibitung melenggang setiap desir angin. Sore itu, ia menyusuri sepanjang pantai. Pasir putih di pesisir dihablur busa putih bersih. Ia meniti di atas batu-batu yang diukir air garam. Asin mata waktu. Ia melewati bongkahan kelapa yang lunglai dibelai angin dingin. Kadang bila capai, ia duduk di atas karang, menatap laut seberang sembari meniup saluang.

Senja di matanya cekung mirip laut. Lalu ia menangkap merah cahaya di langit seolah di jauh sana ada istana. Seolah-olah di tengah laut lepas itu terdapat sebuah pulau dan suara perempuan jelita. Juga suara panggilan dari orang-orang yang tinggal di pulau itu. Paranoid. Ia dengarkan suara-suara itu. Ia rapatkan daun telinganya pada kilasan angin. Semakin keras. Semakin menyayat. Ia amat gelisah karena panggilan menyayat itu terus terngiang di telinga. Tubuhnya dingin menggigil.

"Malin, kau sakit?" tanya istrinya yang baru muncul dari balik pasir menggunung.

Menggeleng. Mulutnya bergeming. Air mata menggelimang di pipinya yang agak menghitam. Telapak tangan dan kakinya keringatan. Sakit jantung? Atau ia akan terkapar di pembaringan selama berbulan-bulan? Kemudian ia menutup telinga, menunduk seolah sayatan demi sayatan betul-betul mengubah degub jantungnya.

"Kau kenapa, Malin?" istrinya tak mengerti.

"Dengarkan sayatan itu, istriku! Panggilan itu!"

Angin melerai rambutnya yang kusut dan sedikit pirang. Istrinya memegang daun telinga bermaksud mendengarkan sayatan suara. Tak ada. Tak sedikit pun perempuan yang dicintai mendengar suara-suara. Kemudian perempuan bergelung itu memeluknya dan mengajaknya pulang ke gubuk yang tak jauh dari pantai. Sementara suara-suara di pulau seberang semakin menyayat, seperti peperangan tak kunjung usai, tangisan anak-anak kecil, perempuan-perempuan. Udara terkoyak. Suara-suara itu terus terngiang di telinga Malin. Tubuhnya yang kerempeng semakin menggigil.

"Dengarkan suara sayatan itu, istriku! Dengarkan!"

"Aku tak dapat mendengar, Malin!"

"Apa gendang telingamu telah pecah?"

Diam. Perempuan itu menuang hasil jala bibit udang ke sebuah ember berwarna hitam. Mata merah senja mengedipkan luka. Perempuan itu mengapit Malin pulang ke gubuk, mengusap-usap kepalanya yang panas dingin. Kemudian istrinya segera menuju dapur. Memasak. Namun setiap kali Malin membuka telinganya, sayatan terdengar begitu menyesakkan dadanya ìLeungli! Leungli!" kata-kata itu tiba-tiba menyeruak dari mulut Malin. Kemudian Malin keluar dari gubuknya, ia menatap ke luar jendela.

Lelaki semata wayang itu segera membuntal pakaiannya dengan sebuah sarung kotak-kotak. Ia menggendongnya dan pelan-pelan mendekati istrinya yang sedang berjongkok di dekat tungku di dapur. Ia pamit padanya, agar ia diizinkan berlayar menuju jangkar yang memendarkan sayatan dan panggilan itu "Tapi, tapi, kau kan sakit, Malin?"

"Dengan keberangkatan ini, kuharap angin tak mendarahkan gelombangî.

ìAku khawatir! Aku khawatir."

"Biarkan aku akan pergi ke kampung Ibu," sembari mengarahkan telunjuknya pada sebuah pulau yang penuh asap melindap ke udara dan terlihat api menyala di tengah malam petang. Kali ini, istrinya dapat melihat pulau penuh asap itu. Namun tiba-tiba ia teringat ayah Malin yang meninggal dalam perang Paderi , ya, ayah Malin Kundang sudah tiada, ia gugur di bawah moncong peluru tentara berseragam hijau itu.

"Tapi? Tapi?" perempuan itu terlihat bingung.

Malin segera keluar dari gubuknya, ia menggendong buntalan sarung dan di tangannya sebuah pisang dan dua buah kelapa muda, ia melangkah pelan ke pantai, melewati bukit pasir pesisir. Ia berdiri tegak seolah-olah ia sedang mengumandangkan kata-kata dalam hatinya--Ah, Sungguh nyeri gelisah semakin basah--Malin menghenyakkan napas.

Ia melecut temali sampan yang menghunjam dalam air, lalu ia membuka layar dan menaikinya. Malin menatap istrinya yang berdiri di atas bukit pasir, gerimis di matanya turun berkelindan "Istriku, aku akan berangkat" tak ada sahut menyayat di udara, hanya deru angin, tatapan sendu memalu hatinya, seolah-olah istrinya berkata padanya "Malin, Sampaikan salamku pada Ibu, bila sudah tiba saatnya, kuharap kau segera pulang. Aku menunggumu".

Pelan-pelan Malin mendayung sampan yang ditumpanginya itu, namun tatapannya tetap terpagut pada istri yang mematung di atas bukit pasir. Dadanya sesak digasak sekian kangen dan kerinduan pada Ibunya, juga istri yang ditinggalkannya. Ia menoleh pada perempuan yang berdiri di atas bukit itu, ia menatap dalam-dalam hingga hilang bayang-bayang sampan. Malin kembali meniup saluang dan bernyanyi di atas sampan :

Angin laut mengantarku pulang

Menemui ibuku tersayang

Kangen menderu ke ambang

Tak dapat dikekang oleh bimbang

Dilantunkan sejauh tenggara, sejauh mata memandang hingga bertemunya langit dan laut di seberang dan solah-olah ikan-ikan mengikutinya dengan riang.

***

DERU perdu terdengar bagai langgam para penyembah matahari. Melingkar. Mata mereka mencorong pada terik dan kedua belah tangan mereka dianjungkan ke atas. Sementara di tengah-tengah lingkaran mereka, seorang perempuan setengah telanjang. Berkutang. Dan kain menutup pahanya yang kuning langsat. Deru perdu itu terus menyayat jantung udara, seolah dendang ritus berdentang menghablur nyawa sunyi.

Malin, lelaki bermata cekung dengan kilatan bulan tsabit di alisnya segera tiba di tempat itu. Ia terpesona pada sekumpulan orang-orang seberang berkeliling bagai menerawang tujuh lapis langit. Ia melihat dari jauh, melihat dari balik pohon palma yang meliang di dekat sekumpulan orang itu. Sorot matanya tajam. Langgam terus runyam di kuping.

Byaarrr!! Degub jantung Malin mengehentak seketika, sorot matanya tertuju pada perempuan itu, ya, perempuan yang dikelilingi oleh beberapa lelaki. Kutang warna jingga dan kain tipis berwarna kelabu membalut tubuhnya. Sorot mata Malin makin tajam. Dan sesekali ia tercengang melihat perempuan itu.

"Ibu!" menyayat dalam hatinya.

Perempuan yang duduk di tengah lingkaran itu menoleh ke arah Malin, sedang Malin mengintip di balik pohon. Mungkin gelagat Malin diketahui perempuan itu. Ia mencari tahu. Ia keluar dari dalam lingkaran, sedangkan orang-orang yang melanggam itu masih khusyuk. Malin tetap mengintip di balik pohon palma itu, sedang perempuan yang dipanggil Ibu itu terus mencari tahu, siapa seseorang yang datang itu? Ah, perempuan itu terus mendekat. Malin lari dengan cepat. Ia mengejarnya. Malin lari ke arah pantai, ke arah ia menambatkan sampan. Ia makin dekat dan sampan Malin sudah tak ada, entah ke mana?

"Berhentilah anakku!"

"Kau? Kau?" terhenti.

Saling pandang. Perempuan itu terus mendekat pada lelaki yang pincang itu.

"Kau Malin, kan?"

Diam. Tatapannya seolah menusukkan anak panah di jantung Malin.

"Kau? Kau?" terhenti lagi. Malin tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Namun perempuan itu terus mendekatinya. Air matanya tumpah ruah di pipinya.

"Kau anakku, Malin."

Malin menggeleng. Ia mundur ketika ibunya mendekatinya, "Kenapa ini bisa terjadi, Ibu? Apakah Ibu sudah tidak sayang, Ayah? Kenapa Ibu tega begini?" tiba-tiba menggeliat di udara.

"Maksudmu Malin?"

"Kenapa kau tega melacur di sana, Ibu? Di antara kumpulan orang-orang sialan itu??"

"Apa??" perempuan itu menampar Malin. Keras. Malin terpelanting.

"Jaga mulutmu, Malin! Jaga! Ini sesembah pada Sang Hyang."

"Tapi? Tapi pakaianmu, Ibu?"

"Demi bumi, demi langit dan seisinya, demi lautan yang terbentang di depan kita, Ibu tak punya perangai seperti yang kau pikirkan, Malin."Tapi pakaian Ibu?"

Diam. Sunyi. Senyap.

Suatu ketika, Ibu masih ingat -perempuan itu bercerita, ia membelakangi lelaki pincang itu. Sebelum ayahmu berangkat ke medan laga, sebelum ayahmu meninggal, ia mengatakan pada Ibu, jagalah Malin agar Malin selalu berbakti pada orang tua, agar Malin selalu menjadi kebanggaan tanah kelahiran. Tapi nyatanya? Nyatanya kau punya pikiran macam itu pada Ibu. Nyatanya Ibu tak mampu mendidikmu, Malinóperempuan itu menunduk, dari matanya setetes dua tetes air bening mengalir.

Malin mengangguk. Ia tak kuasa menatapnya setelah sumpah serapah lungkrah di udara, setelah ibunya menutur pinutur tentang ayahnya. Malin segera menunduk di depan Ibunya, mencium kakinya sembari berkata "Mohon maaf, anakmu, Ibu! Tapi bila Ibu berbohong, berbohong pada janji ayah, semoga sang Hyang Widhi Yasa menjadikan Ibu batu hitam yang keras di sini, di pantai ini," kutuknya.

Kening perempuan itu berkerut. Ia menatap mata Malin dalam-dalam. Kemudian asap melindap dalam senyap. Aroma kampung asal menyeruap. Bayang-bayang perempuan yang mencintainya, ya, wajah perempuan yang berdiri di atas bukit pasir masih terngiang dalam ingatan Malin. Ia ingin menyampaikan salam rindu darinya, namun Malin masih teringat luka lama yang masih anyer di dada. Ah, ia diam, karena tak ingin menelan sejuta keperihan lain lagi.

***

DUA hari Malin bersama Ibunya. Dan siang itu, seonggok tubuh tiba-tiba membeku, angin ngungun, tiba-tiba langit mendung, Malin kaget, kepalanya mendongak ke atas, menatap ke depan, ke kanan, ke kiri, ke arah laut. Astaga! Apa ini. Deburan ombak menyambang dari depan, angin semakin kencang. Ikan-ikan di laut pada berdatangan menuju pantai, seolah-olah ia melingkupi dua anak manusia yang sedang tercengang di pantai. Ya, kaki perempuan itu mulai mengeras, kaki perempuan itu seperti yang dilem di atas pasir di pantai itu.

"Ibu! Kau kenapa? Katakan! Katakan sejujurnya Ibu! Apa sebenarnya yang terjadi pada Ibu?"

Perempuan itu seperti bengong. Ia mengusap-usap tubuhnya. Air matanya menggelinding di pipinya, meraba-raba kakinya yang mulai mengeras, betis, paha, perut, payudara, leher, telinga, hidung hingga rambut yang merumbai masai. Isak tangis semakin keras. Kedua kakinya seperti dipaku ke bumi, seperti akar menghunjam dan menjalar ke perut bumi. Malin segera memeluk Ibunya.

ìIbu, Ibu, Ibu,î terus mengalir dari mulut Malin. Namun tubuh itu terus membeku. Mengeras, semakin mengeras, tubuh itu terus membatu. Tak ada yang dapat menolong kutuk sumpah serapah, tak ada yang dapat menyelamatkan kecuali dirinya, namun semuanya sudah terlambat, semuanya sudah berjalan bagai jemari api yang meraba daun kering di ladang tebu.

Kini Ibu Malin sudah membeku, sudah mengeras menjadi batu karena kutuk sumpah serapah yang dilanggarnya, karena ia melalaikan janjinya pada kata-katanya sendiri. Mulai saat ini, di pinggir pantai ini, ada sebongkah batu yang murung yang selalu disembah seorang anak lelaki pincang setiap kepulangannya.

***

PAGI-PAGI, lelaki kurus kerempeng ini tiba di pantai, kakinya pincang, tubuhnya lunglai karena berhari-hari tidak tidur, berhari-hari terkapar di tengah lautan, menyeruak dari mulut lelaki itu ìIbu, sesungguhnya kampungku di kampungmuî, ia segera mencium kaki patung Ibunya yang mengganggang di pinggir pantai itu. Dan seolah-olah sebongkah batu yang berdiam di depan bukit pasir itu berkata pada Malin ìAnakku, jangan bosan-bosan nyambangi Ibu, sungguh kesepian tak tahan digemukkanî gerimis tiba-tiba turun dari kedua mata Malin, ia kembali mencium kaki Ibunya yang sudah menjadi batu.

Malin berbalik arah, menghadap laut luas, menatap bertemunya biru laut dan biru langit, kemudian ia berbalik lagi, menatap tubuh Ibunya dalam-dalam ìIbu, kaulah asal mula kehidupan, awal mula henyak nyawa yang kejam merajam, awal segala senyum tiramî berteriak keras-keras di pantai. Tangannya mengepal, kemudian lelaki itu telentang di pinggir, telentang di haribaan patung Ibunya itu.

"Aku ingin pulang padamu, Ibu! Aku ingin pulang."

Bermalam-malam dan berhari-hari Malin berdiam di dekat patung Ibunya, terik matahari tak terasa meski melukai tubuhnya, desir angin menggigil menikam detak jantungnya. Tak terasa. Rambutnya kusut pirang tak beraturan. Lupa. Ya, kerinduan pada Ibunya membuatnya gila. Ia tidak makan. Ia tidak minum. Ia duduk termenung. Murung. Ia ingin mati di tempat itu, sebab baginya kematian di haribaan Ibunya adalah inti kepulangan.

Dan sore itu, sebelum ajalnya pergi meninggalkan tubuhnya, hewan-hewan laut pada berdatangan padanya, mengirim kabar laut, bahkan ikan lumba-lumba mengajaknya pergi, ingin mengantarnya kemanapun ia akan pergi, namun Malin memilih tinggal bersama Ibunya "Tapi tolong sampaikan salamku pada perempuanku di pulau seberang," tukas Malin pada lumba-lumba itu "Inilah! Inilah suara sayatan yang amat keras itu, inilah cahaya yang selalu muncul di malam hari itu: cahaya Ibuî ikan lumba-lumba seolah mengangguk pertanda mengiyakan.

Malin menghenyakkan napasnya yang terakhir sore itu, bertepatan dengan masuknya matahari ke ufuk barat, ya, kini Malin Kundang telah pulang ke kampung kelahirannya.

Jumat, 12 Oktober 2007

Betaljemur

Cerpen Gunawan Maryanto
Betaljemur

BETALJEMUR hampir-hampir tak percaya pada apa yang dibacanya. Dalam kitab itu tertulis bahwa Bektijamal, ayahnya, mati dibunuh oleh saudara angkatnya, Eklaswajir. Kemudian paragraf-paragraf selanjutnya menerangkan bagaimana jalannya peristiwa tersebut. Semuanya jelas terbaca. Eklaswajir tega membunuh Bektijamal karena ingin menguasai harta Karun yang ditemukan saudaranya itu sendirian. Sementara Bektijamal memilih untuk mengembalikan harta tersebut kepada anak-turun Karun. Benar-benar di luar dugaan. Eklaswajir yang selama ini begitu menyayangi adik angkatnya tiba-tiba menjadi gelap mata dan tega melakukan kekejian serupa itu. Sehabis membunuh, memang sedikit muncul rasa bersalah dalam dirinya. Tetapi begitu matanya kembali menatap gunungan emas permata yang berkilauan di depannya, perasaan tadi hilang begitu saja. Berganti ketamakan dan kerakusan yang begitu menakutkan. Bukan hanya bagi orang lain, tapi juga bagi dirinya.

Karena takutnya Eklaswajir segera menguburkan jasad Bektijamal. Kemudian ia pulang ke rumah Bektijamal untuk menyampaikan pesan palsu kepada istrinya (yang tengah mengandung Betaljemur) bahwa Bektijamal tidak pulang dalam waktu dekat karena memutuskan untuk mengembara ke negeri-negeri yang jauh. Ia juga menitipkan Kitab Kadamakna yang semula dibawa oleh Bektijamal. Cepat-cepat ia meninggalkan rumah Bektijamal.

Kemudian ia mengumpulkan para budak untuk membangun dua gedung besar di depan gua tempat harta Karun tersimpan. Ia juga membangun tembok besar mengelilingi gua dan dua gedung besar itu. Hampir semua budak memendam pertanyaan yang sama, kenapa Eklaswajir, seorang anak patih kenamaan dari Medayin, membangun dua gedung besar jauh dari pusat kota. Setelah semuanya selesai Eklaswajir segera mengusir seluruh budak pekerjanya. Lalu ia mengangkut puluhan narapidana yang sudah divonis mati dan pada malam-malam yang gelap mereka diperintahkan untuk mengangkut keseluruhan harta Karun di dalam gua untuk dipindah ke dalam dua gedung besar yang baru saja selesai dibangun. Dan keesokan harinya, sebelum terbit matahari, Eklaswajir sendiri yang menjadi algojo mereka satu-persatu.

Sampai di halaman ini Betaljemur berhenti membaca. Hatinya berdebar tak karuan. Seluruh rahasia yang selama ini tersembunyi dari dirinya tiba-tiba terbuka dengan cara yang luar biasa. Akankah ia ceritakan semua ini kepada ibunya yang masih dengan sabar menantikan ayahnya pulang dari pengembaraan? Tidak sekarang. Begitu keputusannya. Nanti akan tiba waktunya ia mengabarkan kepada ibunya. Betaljemur juga memutuskan untk tidak membaca halaman-halamanan selanjutnya. Karena bagian selanjutnya adalah cerita perihal bagaimana Betaljemur membalas dendam kepada Eklaswajir. Ia memilih untuk tidak mengetahui bagaimana jalannya masa depan. Ia memilih untuk memasuki peristiwa, apa pun yang akan terjadi. Ia malah kembali ke halaman-halaman dari Kitab Kadamakna yang dipegangnya. Mempelajari berbagai ilmu yang tersurat dan tersirat di sana. Dengan tekun ia mempelajari seluruh tulisan tangan Lukmanakim, kakeknya yang memenuhi Kitab Kadamakna. Dalam waktu singkat ia telah menguasai semua pengetahuan dan kesaktian yang pernah dimiliki oleh kakeknya pada masa yang lalu. Tidak semuanya. Tepatnya seluruh ilmu yang tertulis dalam Kitab Kadamakna yang dipegangnya. Karena sebagaimana tersurat di sana, separuh kitab telah hilang direbut oleh Malaikat Jabarael yang tak ingin kepandaian manusia biasa bisa sejajar atau malah melebihi malaikat. Jadi bisa dikatakan, apa yang dikuasai oleh Betaljemur sekarang hanya separo dari sesuatu yang dimiliki oleh kakeknya, Lukmanakim yang agung. Contohnya, ia tak bisa membuat seorang tua kembali menjadi muda, sebagaimana kakeknya karena lembaran-lembaran yang berisi catatan tentang ilmu itu berada di tangan Malaikat Jabarael.

"IBU, kenapa baru sekarang-sekarang ini Ibu menyerahkan Kitab Kadamakna kepadaku?" tanya Betaljemur suatu kali ketika bertemu dengan ibunya.

"Begitulah yang selalu dipesankan ayahmu dulu. Jika usiamu telah menginjak dewasa, barulah kitab ini boleh diberikan kepadamu. Seandainya sekarang ayahmu ada di rumah, tentu dia sendiri yang akan menyerahkannya kepadamu. Ayahmu dulu juga mendapatkan kitab warisan kakekmu ini ketika dia seumuranmu sekarang."

"Apakah Ayah telah mempelajari seluruh isi kitab ini?" Betaljemur mencoba mengorek keterangan. Jika benar ayahnya telah menguasai seluruh ilmu dalam Kadamakna, tentu ia tak akan mudah diperdaya Eklaswajir.

"Tidak, Nak. Ayahmu sama sekali tak pernah membuka kitab ini. Aku tak tahu kenapa. Tapi ia pernah suatu kali bilang bahwa ia hanya ingin menjadi manusia biasa. Bukan orang sakti mandraguna dan memiliki pengetahuan seluas samudra sebagaimana kakekmu Lukmanakim. Justru pamanmu Eklaswajir yang pernah membacanya beberapa bagian."

Eklaswajir. Dada Betaljemur serasa akan meledak. Mendengar namanya saja seluruh tubuhnya telah bergetar oleh amarah.

"Kenapa, Nak? Ah, Ibu malah hampir lupa. Kita harusnya sesekali berkunjung ke rumah pamanmu itu. Paling tidak ibu berkewajiban mengenalkanmu kepadanya. Terakhir ia datang kemari ketika mengabarkan kepergian ayahmu. Ia juga yang menyerahkan Kitab Kadamakna titipan dari ayahmu ini."

"Di manakah rumah Paman Eklaswajir, Ibu?"

"Dia sekarang telah menjadi patih Medayin, menggantikan kakek angkatmu, Abujantir. Pamanmu tinggal di gedung besar yang dibangunnya di luar kota. Begitulah kabar yang kudengar. Entahlah kebenarannya. Ibu sebenarnya enggan bertemu dengannya. Takut mengganggunya. Sebagai patih kerajaan sebesar Medayin ini tentu ia memiliki kesibukan yang luar biasa. Buktinya ia sendiri tak pernah datang menengok kita di sini. Padahal dulu sebelum kamu lahir, sebentar-sebentar pamanmu itu datang berkunjung. Ia sudah seperti saudara kandung ayahmu saja."

Betaljemur bergidik, bulu-bulunya meremang, mendengar bagaimana ibunya memuji-muji kebaikan Eklaswajir. Rasa-rasanya ia ingin membuka seluruh kejahatan Eklaswajir saat itu juga. Agar ibunya berhenti menyebutnya sebagai paman. Agar ibunya juga bergidik dan meremang jika menyebut atau mendengar namanya. Tapi Betaljemur sebelum dan sesudah membaca Kitab Kadamakna adalah Betaljemur yang berbeda. Meski masih sama-sama berdarah panas, Betaljemur sekarang jauh lebih sabar, bijak dan berhati-hati dalam melakukan tindakan.

***

BETALJEMUR mulai menjalankan rencananya. Ia minta izin kepada ibunya untuk pergi ke kota barang satu dua hari. Jika ia tak pulang-pulang ibunya diminta menunggu dengan sabar, tak perlu mencari-carinya. Maka berangkatlah Betaljemur.

Tak sulit untuk menemukan gedung penyimpanan harta Karun milik Eklaswajir. Gedung itu kelihatan mencolok di tengah padang pasir gersang yang kosong tanpa tumbuhan atau bangunan secuil pun. Betaljemur tak silap lagi. Itulah bangunan yang dicarinya. Ia seperti sudah begitu mengenalnya. Apa yang digambarkan oleh Kitab Kadamakna tak meleset satu detail pun. Semuanya sama. Warna dan bentuk bangunannya. Tak ada yang meleset. Bahkan sudut jatuhnya cahaya yang mencipta bayangan kedua gedung itu. Betaljemur mendekati pintu gerbangnya. Mengetuknya dengan sopan. Seorang lelaki tua membuka pintu dan menanyakan maksud kedatangannya. Betaljemur mengaku sebagai musafir yang ingin berteduh barang sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Lelaki tua penjaga gedung itu mempersilakan Betaljemur masuk.

"Anakmas bisa beristirahat sejenak di taman. Mungkin akan sangat menyegarkan."

Betaljemur diajak menuju ke taman di samping gedung penyimpanan harta. Sebuah taman rumput dengan mata air di tengahnya. Tak ada bunga atau tumbuhan besar. Hanya ada beberapa batu dengan beraneka ukuran disusun membentuk sebuah imaji yang tak terang tapi terasa begitu menenangkan. Betaljemur duduk di sebuah batu. Menikmati jernihnya kolam kecil yang mengelilingi mata air itu.

"Saya melanjutkan pekerjaan saya, Anakmas."

Pelan-pelan Betaljemur merebah dirinya di batu itu. Menikmati sejuknya angin yang terasa begitu lain dengan yang barusan ditemuinya di luar sana. Ia juga menikmati sepasang mata yang memperhatikannya tanpa berkedip dari salah satu jendela gedung.

"Hai, akan kau bawa kemana tiga ekor kambing itu, Pak?" tanya Betaljemur kepada lelaki tua yang melintas dengan menuntun seekor kambing. Bapak tua itu menghentikan langkahnya dan menatap Betaljemur dengan penuh keheranan.

"Nak, apa kau tak salah lihat? Aku hanya menuntun seekor kambing."

"Kambing itu sedang hamil, Pak Tua. Ada dua ekor anak kambing di dalam perutnya. Satu anak panjang sebelah kakinya. Yang lain belang punggungnya."

"Ah, Anakmas ini bercanda."

"Boleh kubuktikan, Anak Muda?" Seorang lelaki lain datang bergabung.

Dialah Eklaswajir. Betaljemur menatap lelaki setengah baya yang baru saja datang itu.

"Silakan, Gusti Patih," tantang Betaljemur.

Eklaswajir diam-diam mengagumi keberanian anak muda itu.

Pak Tua diminta untuk menyembelih kambing itu. Lalu Eklaswajir buru-buru menyobek perut si kambing dengan ujung pedangnya. Benar. Di dalam rahim kambing itu meringkuk dua ekor bayi kambing. Yang satu panjang sebelah kakinya. Yang lain belang punggungnya.

"Siapa namamu, Anak Muda?"

"Saya Betaljemur. Ayah saya Bektijamal," sahut Betaljemur dengan tenang. Eklaswajir bergetar. Hal yang selama ini ditakutkannya akan segera terjadi. Seluruh kebusukannya akan segera terbongkar. Tenang. Kata Eklaswajir menenangkan dirinya. Tak seorang pun tahu peristiwa pembunuhan itu selain dirinya dan tentu saja Bektijamal. Betaljemur tentu tak tahu apa-apa. Atau jika seandainya saja Betaljemur tahu, dengan mudah ia akan menyingkirkannya. Perkara selesai.

Eklaswajir tak mau mengambil risiko. Ia mengasumsikan Betaljemur telah mengetahui peristiwa pembunuhan ayahnya. Maka ia meminta seorang algojo untuk membawa Betaljemur ke sebuah tempat dan membunuhnya di sana.

"Anak Muda, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepadamu. pelayanku akan mengantarkanmu ke sana. Anggap saja hadiah atas kewaskitaanmu dalam menebak isi perut kambingku."

Algojo itu menggandeng tangan Betaljemur dan meninggalkan gedung. Menuju ke sebuah tempat. Betaljemur diajak berjalan dan terus berjalan. Ketika sudah makan waktu beberapa saat, Betaljemur berhenti.

"Kenapa tidak di sini saja, Paman? Bukankah Paman diminta membunuhku. Kenapa harus berjalan jauh-jauh. Di tempat sesepi ini tak kan seorang pun tahu."

Algojo itu menjadi pucat. Ia tahu tengah berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki kelebihan yang tak dimiliki lumrahnya manusia. Lalalu algojo itu mengaku bahwa ia belum pernah sekali pun membunuh. Tiap hari ia berdoa agar tak pernah diperintahkan untuk membunuh. Semua itu hanya karena sulitnya mencari pekerjaan.

"Paman dari Ngabesi, bukan? Dan paman mengabdi pada Eklaswajir karena paman jatuh cinta pada puteri sulung Eklaswajir. Benar, bukan?"

Sang algojo semakin yakin bahwa ia berhadapan dengan manusia setengah malaikat.

"Eklaswajir telah menyuruh paman membunuh saya. Jika paman tak melakukannya, maka pamanlah yang akan dibunuh olehnya. Bukankah begitu logikanya?"

Algojo mengangguk.

"Jika paman tak mau membunuhku dan tak mau dibunuh oleh Eklaswajir, sekarang pergilah paman ke pasar paling dekat. Jika ada seseorang menuntun seekor kambing dari timur, belilah kambing itu tanpa paman tawar harganya. Lalu sembelihlah. Ambillah hatinya. Hanya itu yang kita butuhkan. Kambing itu sebenarnya adalah kambing kesayangan keluarga miskin itu. Dulu dibesarkan dan disusui sendiri oleh pemiliknya."

Lelaki dari Ngabesi itu segera berangkat ke pasar terdekat. Begitu sampai, tanpa harus menunggu terlalu lama, seorang ibu tua melintas menuntun seekor kambing dari arah timur. Algojo itu segera mencegatnya lalu membeli kambing itu tanpa ditawar-tawar lagi.

"Ooo... Terima kasih banyak, Ki Sanak. Sebenarnya kami tak ingin menjual kambing kesayangan kami ini. Tapi mau apalagi. Persediaan makanan kami semakin tipis. Maka terpaksa kami jual satu-satunya yang kami miliki ini. Dulu kambing ini saya susui sendiri karena begitu dia dilahirkan induknya hilang dicuri orang."

Algojo dari Ngabesi semakin kagum dengan kesaktian Betaljemur. Semuanya begitu tepat. Tak ada yang kelewat. Setelah membayar harga kambing algojo langsung menyembelih kambing itu dan mengambil hatinya.

"Ibu, saya hanya membutuhkan hatinya saja, bawalah kembali daging kambing ini."

Oleh Betaljemur algojo diminta kembali ke tempat Eklaswajir dan menyerah hati kambing itu kepada tuannya itu. Katakah saja itu adalah hati Betaljemur. Eklaswajir tak akan curiga karena hati kambing yang sejak kecil disusui manusia itu mirip benar dengan hati manusia.

Eklaswajir nampak gembira menerima hati Betaljemur yang dibawa oleh algojonya. Ia segera memerintahkan koki untuk memasaknya menjadi gulai. Segera setelah matang, ia memakannya tanpa sisa. Ketakutannya telah pergi.

***

SEMENTARA itu di Istana Medayin, Baginda Kobatsah sedang marah-marah. Ia merasa bermimpi tapi begitu bangun dari tidur ia sama sekali tak bisa mengingat mimpi itu sedikit pun. Hal ini berulang selama seminggu. Mimpi yang menurutnya sama persis. Ia yakin ada suatu pesan yang tengah disampaikan dalam mimpi itu. Maka ia berkeras untuk menemukan mimpinya yang hilang. Tapi tak seorang pun nujum istana dapat menemukannya. Juga seluruh peramal yang tersebar di seluruh Medayin. Semuanya gagal.

Patih Eklaswajir diminta menghadap.

"Eklaswajir, kau sudah tahu apa yang kuinginkan. Carilah orang yang mampu menemukan mimpiku yang hilang itu. Waktumu hanya sampai besok sore."

Eklaswajir mengiyakan. Karena ingin mendapat pujian ia menjawab.

"Baik, Yang Mulia. Jika sampai besok sore hamba tak mampu menemukan orang pintar itu, penggallah kepala hamba."

"Kupegang janjimu, Eklaswajir. Segera temukanlah orang itu."

Eklaswajir seperti tersadar dari mimpinya. Ia menyesal telah mengucapkan janji itu. Tapi sudah telanjur.

Di rumah ia gelisah. Ia segera menyesali keputusannya membunuh Betaljemur. Jika anak muda itu masih hidup sekarang tentu ia tak akan bersusah payah menemukan orang yang bisa membaca mimpi Baginda Kobatsah. Kegelisahan ini terbaca oleh algojo dari Ngabesi.

"Apakah ada yang bisa saya kerjakan, Tuan Eklaswajir?"

"Tidak ada. Besok aku akan mati menerima pidana dari Baginda. Jagalah seluruh keluargaku dengan sebaik-baiknya," jawab Eklaswajir dengan putus asa.

"Apakah tidak ada yang bisa dilakukan?"

"Satu-satunya orang yang bisa menolongku adalah orang yang baru saja kau bunuh tadi siang."

Algojo itu benar-benar merasa kasihan melihat kegundahan Eklaswajir. Ia ingin sekali bisa menolongnya.

"Tuan, mungkin saya bisa menolong. Tapi mohon ampunilah seluruh kesalahan saya," Eklaswajir menganggukkan kepala.

Algojo lalu menceritakan peristiwa sebenarnya, bahwa ia urung memancung kepala Betaljemur. Kelegaan menguasai diri Eklaswajir. Ia segera memerintah si algojo mencari Betaljemur dan membawanya kembali.

"Jemputlah ia dengan tandu kebesaran kepatihan. Payungilah ia dengan songsong pusaka Kepatihan Medayin."

Betaljemur kembali lagi menemui Eklaswajir. Tapi dasar Eklaswajir, ia malah memasukkan Betaljemur ke dalam penjara. Si algojo merasa bersalah. Tapi buru-buru menenangkannya.

"Tak apa, Orang Ngabesi. Betaljemur tak akan mati. Dan keinginanmu meminang puteri Eklaswajir akan segera terpenuhi."

Si algojo gembira bukan kepalang. Dengan ringan ia menggandeng Betaljemur ke penjara.

Dalam penjara Eklaswajir memaksa Betaljemur membaca mimpi Baginda Kobatsah. Tapi Betaljemur tak mau melakukanya. Mau tapi dengan syarat ia harus bertemu langsung dengan Kobatsah. Tentu saja Eklaswajir menolaknya. Ia tak mau seluruh kebusukannya pada masa lalu dibongkar Betaljemur di hadapan rajanya. Maka disiksalah Betaljemur dengan berbagai cara. Tapi Betaljemur tetap bungkam. Tubuhnya mampu menahan sakit sekeras apa pun. Eklaswajir kembali putus asa.

Sore yang dijanjikan telah tiba. Eklaswajir mengakui kegagalannya menemukan orang yang bisa membaca mimpi Baginda Kobatsah. Pidana pun segera dijatuhkan. Menjelang eksekusi, Eklaswajir berubah pikiran.

"Baginda, saya telah menemukan orang itu. Dia ada di penjara kepatihan."

Kobatsah tak habis pikir. Tapi ia segera memerintahkan prajuritnya untuk mengambil Betaljemur di penjara kepatihan. Tapi Betaljemur tak mau, kecuali dengan syarat, Eklaswajir mau menjadi kuda tunggangannya dari kepatihan menuju istana.

Eklaswajir tak bisa apa-apa. Baginda sendiri yang mengikatkan tali kekang di hidung dan mulutnya. Juga menaruh pelana di punggungnya. Maka terjadilah peristiwa yang menggemparkan Medayin. Betaljemur menaiki punggung Patih Eklaswajir laiknya menunggangi seekor kuda. Rakyat Medayin memenuhi jalan-jalan yang dilewati kuda istimewa itu. Tiap kali kuda itu berhenti karena kelelahan, Betaljemur mencambuknya dengan keras. Rakyat bersorak-sorai. Kebencian yang selama ini dipendam dalam-dalam terhadap kepeminpinan Eklaswajir mendapatkan katup pelepasnya. Mereka berteriak mengejek dan menuntut Eklaswajir atas dosa-dosa masa lalunya.

"Kembalikan suamiku yang hilang dalam pembangunan gedungmu!"

"Kembalikan uang kami yang kau tarik dengan paksa!"

Kobatsah menatap arak-arakan itu dari kejauhan. Dilihatnya seorang pemuda yang entah kenapa begitu menggetarkan perasaannya. Siapakah dia? Masa depan Medayin seperti berada dalam genggamannya.

Jogjakarta, Agustus 2007

Catatan: Kisah ini berangkat dari Serat Menak karya R Ng Yasadipura yang digubah dari Serat Menak Kartasura yang ditulis Carik Narawita dari khazanah sastra Melayu Hikayat Amir Hamzah yang diturunkan dari Qissa il Emir Hamza, wiracarita dari Parsi

Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna

Haruki Murakami
Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna
PADA suatu pagi di bulan April, di sebuah jalan sempit di sekitar Harajuku, aku berpapasan dengan seorang gadis yang seratus persen sempurna.

Sejujurnya, gadis itu tak terlalu cantik. Dia tidak luar biasa. Pakaiannya juga tak istimewa. Bagian belakang rambutnya masih tertekuk menyisakan bekas habis tidur. Dia sudah tidak terlalu muda lagi, pasti sudah mendekati tiga puluh tahun, bahkan sebetulnya tidak tepat disebut "gadis". Namun, dari jarak empat puluh meter aku tahu: dialah gadis yang seratus persen sempurna bagiku. Begitu aku melihatnya, ada sesuatu yang bergemuruh di dadaku dan mulutku jadi terasa kering seperti gurun pasir.

Mungkin kau memiliki tipe perempuan kesukaanmu, perempuan berkaki ramping, misalnya, atau bermata lebar, atau berjari lentik, atau kau tertarik tanpa alasan yang jelas kepada para perempuan yang kalau makan lama sekali. Aku punya persyaratanku sendiri, tentu saja. Terkadang di sebuah restoran aku menyadari menatap seorang gadis yang duduk di meja sebelahku karena aku menyukai bentuk hidungnya.

Namun, tak seorang pun ngotot bahwa gadis yang seratus persen sempurna baginya berkaitan dengan tipe tertentu. Walaupun aku amat menyukai bentuk hidung tertentu, aku tidak bisa mengingat bentuk hidung gadis itu, jika hidungnya memang termasuk bentuk hidung kesukaanku. Yang bisa kuingat dengan pasti adalah dia tidak terlalu cantik. Itu aneh.

"Kemarin di jalan aku berpapasan dengan seorang gadis yang seratus persen sempurna," kataku pada seseorang sesudah kejadian itu.

"Ya?" ujarnya, "Cantik?"

"Tidak terlalu."

"Tipe kesukaanmu, kan?"

"Aku tidak tahu. Aku tidak bisa mengingat sesuatu tentang ia, bentuk mata atau ukuran payudara."

"Aneh."

"Ya. Aneh."

Temanku menimpali dengan bosan, "Jadi, apa yang kamu lakukan? Mengobrol dengan ia? Membuntuti ia?"

"Tidak. Hanya berpapasan dengan ia di jalan. Ia berjalan dari timur ke barat, dan aku berjalan dari barat ke timur. Saat itu sungguh suatu pagi yang indah di bulan April."

Seandainya saja aku bisa mengobrol dengan ia. Setengah jam sudah cukup lama untuk itu: bertanya tentang diri, bercerita padanya tentang diriku, dan... yang sesungguhnya ingin sekali kulakukan, menjelaskan pada ia kerumitan takdir yang membawa kami berpapasan di sebuah jalan di Harajuku pada suatu pagi yang indah di bulan April 1981. Ini adalah sesuatu yang penuh rahasia, seperti sebuah jam dinding antik yang dibuat ketika dunia dalam keadaan damai.

Setelah mengobrol, kami akan makan siang di suatu tempat, atau mungkin menonton film Woody Allen di bioskop, lalu nongkrong di sebuah bar hotel untuk minum cocktail. Bila aku beruntung, mungkin kami akan berakhir di atas ranjang.

Kemungkinan itu mengetuk pintu hatiku.

Kini jarak di antara kami menyempit menjadi sekitar lima belas meter.

Bagaimana aku bisa mendekati ia? Apa yang harus kukatakan?

"Selamat pagi. Apakah menurutmu kita bisa mengobrol setengah jam saja?"

Konyol. Aku terdengar seperti seorang penjual asuransi.

"Permisi. Apakah kamu tahu binatu yang buka sepanjang hari di sekitar tempat ini?"

Tidak. Itu juga konyol. Aku tidak membawa cucian. Siapa yang akan percaya kalimat semacam itu?

Mungkin kejujuran akan berhasil. "Selamat pagi. Kamu adalah gadis yang seratus persen sempurna untukku."

Tidak, dia tak akan percaya. Atau mungkin dia percaya, tapi tak ingin berbicara denganku. Maaf, begitu katanya barangkali, aku mungkin saja gadis yang seratus persen sempurna bagimu, tapi kamu bukanlah pemuda yang seratus persen sempurna untukku.

Itu bisa saja terjadi. Dan jika aku mengalami hal semacam itu, aku mungkin akan hancur berkeping-keping. Aku tak akan pernah pulih dari guncangan. Usiaku kini tiga puluh dua tahun dan begitulah rasanya menjadi dewasa.

Kami berpapasan di depan sebuah toko bunga. Udara lembut menyentuh kulitku. Aspal terasa lembab dan aku menangkap aroma mawar yang meruap. Aku tak bisa memaksa diri berbicara dengan gadis itu. Dia mengenakan sweater putih dan tangan kanannya memegang selembar amplop putih yang belum ada prangkonya. Jadi, ia menulis sepucuk surat pada seseorang, mungkin sampai menghabiskan waktu semalaman untuk menulisnya, karena matanya tampak mengantuk. Amplop itu mungkin berisi segala rahasia yang ia miliki.

Aku melangkah beberapa kali dan menoleh: ia sudah lenyap dalam kerumunan.

Kini, tentu saja, aku tahu dengan tepat apa yang seharusnya kukatakan kepada ia. Mungkin terlalu panjang untuk kusampaikan dengan layak. Gagasan-gagasan yang terpikir olehku tidak pernah praktis.

Begitulah. Apa yang kukatakan itu akan diawali dengan "Pada suatu ketika" dan diakhiri dengan "Sebuah kisah yang sedih, bukan?"

Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemuda dan seorang gadis. Pemuda itu berumur delapan belas tahun dan si gadis berumur enam belas tahun. Pemuda itu tidak terlalu ganteng dan si gadis juga tidak terlalu cantik. Mereka hanyalah seorang pemuda biasa yang kesepian dan seorang gadis biasa yang kesepian, seperti halnya orang-orang yang lain. Namun, mereka percaya sepenuh hati bahwa di suatu tempat di dunia ini hiduplah seorang pemuda yang seratus persen sempurna dan seorang gadis yang seratus persen sempurna bagi mereka. Ya, mereka percaya pada keajaiban. Dan keajaiban itu sungguh-sungguh terjadi.

Suatu hari keduanya bertemu di sudut sebuah jalan.

"Ini menakjubkan," ujar si pemuda. "Aku telah mencarimu sepanjang hidupku. Kamu mungkin tidak percaya, tapi kamu adalah gadis yang seratus persen sempurna untukku."

"Dan kamu," sahut si gadis, "adalah pemuda yang seratus persen sempurna untukku, tepat seperti bayanganku hingga hal-hal paling sepele. Seperti mimpi saja."

Mereka lalu duduk di atas bangku di sebuah taman, berpegangan tangan, dan menceritakan kisah mereka masing-masing selama berjam-jam. Mereka tak lagi kesepian. Mereka telah menemukan dan ditemukan oleh pasangan seratus persen sempurna mereka. Hal yang paling menakjubkan di dunia adalah menemukan dan ditemukan oleh pasangan seratus persen sempurna kita. Ini adalah sebuah keajaiban kosmis.

Saat mereka duduk dan bercakap-cakap, secercah kecil keraguan muncul di hati mereka: Tak anehkah mimpi-mimpi seseorang menjadi kenyataan dengan begitu mudah?

Dan begitulah, ketika tiba saat jeda dalam percakapn mereka, si pemuda berkata kepada si gadis, "Mari kita uji diri kita, sekali saja. Jika kita sungguh-sungguh pasangan seratus persen sempurna masing-masing, maka pada suatu waktu, pada suatu tempat, kita pasti akan bertemu lagi tanpa kesulitan. Ketika itu terjadi dan kita tahu bahwa kita adalah pasangan seratus persen sempurna masing-masing, kita akan menikah. Bagaimana menurutmu?"

"Ya," jawab si gadis, "itulah yang harus kita lakukan."

Dan mereka pun berpisah, si gadis pergi ke timur, dan si pemuda melangkah ke barat.

Ujian yang mereka sepakati sebenarnya tidak diperlukan karena mereka sungguh-sungguh kekasih sempurna seratus persen bagi yang lain dan merupakan sebuah keajaiban mereka bisa bertemu. Namun, mustahil mereka mengetahui hal ini pada usia semuda itu. Ketika mereka tersadar, kepala mereka sekosong rekening bank DH Lawrence muda.

Mereka berdua sebetulnya adalah dua orang muda yang cerdas. Melalui upaya yang terus-menerus mereka mampu mendapatkan pengetahuan dan perasaan yang membuat mereka menjadi anggota masyarakat yang berhasil. Syukur kepada Tuhan, mereka menjadi warga negara yang sungguh-sungguh bertanggung jawab yang tahu bagaimana beralih dari satu jalur kereta api ke jalur kereta api lainnya dan paham bagaimana mengirim sepucuk surat kilat khusus di kantor pos. Mereka bahkan bisa merasakan cinta lagi, terkadang bahkan cinta tujuh puluh lima hingga delapan puluh lima persen.

Waktu berlalu begitu cepat dan dengan segera si pemuda telah berumur tiga puluh dua tahun, sedangkan si gadis tiga puluh tahun.

Pada suatu pagi di bulan April, saat mencari secangkir kopi untuk mengawali hari, si pemuda berjalan dari barat ke timur, sementara si gadis yang bermaksud mengirimkan sepucuk surat kilat khusus, berjalan dari timur ke barat.

Keduanya berjalan sepanjang jalan sempit yang sama di daerah Harajuku, Tokyo. Mereka saling berpapasan di tengah jalan. Sinar pudar sisa ingatan mereka yang telah lenyap berkilau amat singkat di hati mereka. Masing-masing merasakan gemuruh di dada mereka. Dan mereka tahu:

Gadis itu seratus persen sempurna untukku.

Pemuda itu seratus persen sempurna untukku.

Namun, kilau ingatan mereka terlalu lemah dan pikiran mereka tak lagi mengandung kejelasan seperti empat belas tahun sebelumnya. Tanpa sepatah kata, mereka berpapasan, lalu lenyap dalam kerumunan. Selamanya.

Sebuah kisah yang sedih, bukan?

Ya. Itu dia. Itulah yang seharusnya kukatakan kepada gadis itu.


Catatan:
Haruki Murakami lahir di Kyoto, 1949. Ia adalah pengarang Jepang paling terkemuka saat ini. Karya-karyanya antara lain Norwegian Wood (1987) dan Kafka on the Shore yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi buku laris di mana-mana. Cerpen ini diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Jay Rubin, profesor sastra Jepang di Universitas Harvard, dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Anton Kurnia dari judul semula On Seeing 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning dalam kumpulan cerpen The Elephant Vanishes; Vintage, London: 2003.

Anak Semata Wayang

Cerpen Whani Darmawan
Anak Semata Wayang

SELEMBAR diary tersibak, sebaris puisi tertera...

Ayah,....

Tuliskanlah darahmu, di atas kanvas putih jiwaku. Agar tak hanya kukenang selalu, tetapi mengalir juga dalam derasan darahku....


Wanadri tertegun. Jelas itu buku harian anaknya yang masih berusia delapan tahun. Apakah anak usia sewindu bisa menulis seperti itu? Jangan-jangan ia hanya menjiplak bait puisi yang ia temukan dalam koleksi buku yang ada di rak. Tetapi apa maksudnya? Mengertikah ia?

Wanadri meletakkan sapu yang sedang dipegangnya. Ia duduk, seolah bersiap memecahkan teka-teki sudoku yang gampang-gampang sulit.

"Hidup seperti mimpi," gumamnya kemudian tanpa mengerti pasti mengapa tiba-tiba kalimat padat itu terlontar demikian. Mungkin, ya, hidup memang seperti mimpi. Sudah setara umur anaknya ia menduda, semenjak Surati isterinya meninggal dalam kecelakaan gantung diri. Waktu itu Surati ketakutan tak mampu menjawab kebutuhan ekonomi, dan ketakutan akan hamil lagi. Wanadri merasa, kadang peristiwa dan persoalan hidup memang sulit untuk dipahami, kendati sesuatu sungguh-sungguh terjadi. Cerita seperti yang terjadi pada dirinya kadang-kadang lebih bisa dipercaya jika dilihat sebagai film. Ia sendiri dulu juga pernah menyangkal, kenapa kepahitan hidup bisa menimpa dirinya, tetapi selang ia merenung, ia sendiri menganggap bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sombong. Seolah menafikan dirinya sebagai manusia yang tak bakal bisa terjamah oleh peristiwa pahit sepahit-pahitnya. Ia pun menghela napas dan tafakur sejenak memohon ampunan atas kelancangan pertanyaannya itu kepada Tuhan.

Wanadri mengempaskan napasnya.

Masa itu sudah lama sekali. Wanadri sudah tak ingin mengingatnya. Tetapi ada yang ia lupa. Lupa mengingat rasa sakitnya. Itu mengherankan dirinya. Sudah lama ia tidak lagi bisa merasakan apakah ia sedih ataukah gembira, apakah perlu menangis ataukah tertawa. Seolah semua kelengkapan hidup, penderitaan, semua sudah lewat. Anaknya semata wayang menggoreskan tekad, bahwa ia tidak boleh menghindar dari tanggung jawab.

Wanadri menyadari gerunjalan napasnya, dan kembali menunduk mencermati jilidan kertas tulis di tangannya,....


Ayah,

Rekamlah kisahmu dalam recorder otakku. Agar tak hanya terngiang selalu, tetapi mengebor dalam pilihan sikap hidupku. Agar senantiasa cerita kepahlawanan sehari-hari menjadi milikku. Menjadi kakiku.


Ia tulis ini semua tentang kepahlawanan? Dari mana anak ini mampu menulis dengan bahasa dan pemaknaan sedalam itu!? Wanadri tak ingin mengecilkan arti anak kecil, ia hanya merasa takjub setakjub-takjubnya. Apakah ada kelainan spiritual pada anaknya tersebut? Ataukah kecerdasan emosinya terlalu tinggi? Hmm,...kepahlawanan. Itukah yang selama delapan tahun Wanadri lakukan kepada anaknya? Wanadri tak yakin dirinya seheroik kata-kata itu. Sepenuhnya ia hanya merasa tanggung jawab. Lumrah kalau ia melakukan hal-hal yang itu bisa mencukupi kebutuhan jiwa-raga anaknya. Oleh teman-temannya, Wanadri dijuluki sang akrobater. Pemain sirkus. Tentu, julukan itu bermakna canda, ledekan, sekaligus serius. Pagi hari sebelum termenung di hadapan mesin tulis, ia memasak untuk sarapan anaknya, kemudian mengantarnya ke sekolah. Siang pada saat ia istirahat, ia menjemput anaknya. Jika tak satu pun teman anaknnya itu muncul, ia taruh anaknya di antara tumpukan kertas, koran dan buku. Menggambar, mencoret-coret, menjadi permainannya yang biasa. Kadang waktu menulis dan mengasuh anak bertubrukan tak terelakkan. Wanadri sering memilih untuk menemani anaknya. Ada kalanya antara perasaan dan tubuhnya ia rasakan seperti cerai-berai. Antara tubuhnya yang lelah dengan kehendak ingin menemani anaknya guna mendapatkan dunia permainan yang semestinya sesuai umurnya. Bahkan ia pernah punya suatu simpulan atas peran orangtua kepada anaknya dan kemauan untuk menulis. Di tengah kepap pikirannya ia sering menarik napas dalam, "Ini keperkasaan ataukah kebodohan?" gumamnya. "Ataukah sesuatu yang biasa saja."

Apakah sikap bela semacam itu yang diterjemahkan anaknya menjadi kata "pahlawan sehari-hari?" Siapakah sesungguhnya anaknya itu?

Wanadri berdiri. Di tangannya masih terpegang buku harian anaknya. Ia berjalan menuju kamar dan mendapatkan anak itu tertidur pulas. Napasnya halus. Pelupuk matanya licin seperti diolesi minyak. Bibirnya ranum memerah.

"Siapakah kamu?" bisik Wanadri lembut, lebih kepada diri sendiri.


Ayah,

Ajarkanlah kesetiaan kepadaku. Agar tak hanya jadi bualan, tetapi menjadi serat dalam dagingku.


Memang. Ada beberapa peristiwa aneh tentang perilaku anaknya, yang membuat Wanadri tegang, cemas, sekaligus takjub. Pertama, saat ia berumur tiga tahun. Pada saat itu Wanadri sungguh-sungguh merasa naas. Tidak ada pekerjaan yang masuk hingga tabungannya ludes untuk bertahan hidup. Wanadri sangat cemas dan mengutuk dirinya sendiri. Menghakimi dirinya sebagai orangtua yang tidak becus. Bahkan untuk kebutuhan pokok anaknya pun ia harus berhutang. Tetapi ia tidak mampu berkelit. Ia ingat betul bagaimana ia memarahi anaknya karena anaknya tersebut tidak mau makan dan minum susu yang uangnya ia dapat dari pinjam. Bahkan anaknya sampai menangis ketakutan, meski tetap tak mau makan. Baru sehari kemudian anaknya itu mau makan dan minum seperti biasa. Tetapi anehnya, sehari kemudian ia kembali mogok makan. Wanadri sunguh-sungguh marah. Tetapi belum lagi tumpah emosinya, seorang tua tetangganya yang kebetulan lewat nyeletuk, "Anak nggak mau makan itu biasa. Kalau sehari makan sehari tidak, yaa....siapa tahu, mungkin dia sedang nDaud?"

Wanadri tercengang. Anak tiga tahun melakukan puasa Daud? Ia tidak ingin percaya, tetapi setelah anaknya melakukan pola makan demikian, ia menyerah, meski ia sangat cemas, khawatir kalau anaknya sakit. Setelah Wanadri mendapatkan pekerjaan, anaknya menghentikan kebiasaan makan melompat hari tersebut.

Peristiwa kedua pada saat Saketi, anaknya itu, berumur lima tahun. Oleh karena centang-perentang keinginannya untuk menemani anaknya dan kemampuan fisik dan psikisnya terbatas, Wanadri mengalami stres. Ia jadi sering marah dan membentak. Ia tahu itu tidak baik, tetapi ia tak mampu mengendalikan. Jika pada saat demikian datang, Saketi hanya terdiam. Hal yang ia lakukan kemudian adalah mengambil sapu kemudian menyapu lantai, atau mencuci piring dan gelas yang masih teronggok di jerambah sumur. Wanadri mau nangis menghadapi ketidakmampuannya. Wanadri merasa bahwa ia harus membebaskan diri dari himpitan itu. Ia pun mengajak anaknya untuk berenang di telaga Perwitasari -sebuah telaga berdebit raksasa dengan ukuran melingkar dua kali lapangan sepak bola, dengan kedalaman tak seorang pun tahu pasti.

Pada saat itu, Saketi justru tidak mau berenang. Ini sesuatu yang aneh, mengingat Saketi sangat suka bermain air. Jadilah Wanadri berenang sendirian, melepaskan penat pikiran dengan air. Berenang kian kemari, menyelam, melompat, seakan Wanadri lupa diri. Anaknya hanya menunggui di pinggir telaga sambil terus memandang bapaknya. Peristiwa tak dapat ditebak. Pada saat Wanadri berada di tengah telaga, perutnya terasa mengejang. Ia mencoba melawan, tetapi kejang di perut serasa mencengkeram seluruh kemampuannya berenang. Berkecipak tangan Wanadri bergerak serabutan. Ia kemudian tak ingat apa pun. Dan ketika terbangun banyak orang merubungnya. Anaknya menangis laiknya anak kecil kehilangan orangtua. Yang mengagetkan Wanadri kemudian adalah ungkapan orang-orang yang merubungnya,

"Siapakah anak bapak itu?"

Apa maksudnya? Wanadri tak dapat menjawab, karena tak mengerti maksud pertanyaan itu.

"Siapakah anak kecil itu?" tandas mereka lagi.

"Ya anak saya...kenapa?"

"Bukan. Anak bapak tadi berlari di atas air dan menyeret bapak, seperti ia sedang menyeret sesuatu di daratan."

Wanadri tidak mengerti. Ia memandang anaknya yang masih mewek dengan air mata berderai.

"Kamu tadi yang menyelamatkan bapak dari tenggelam?"

"Yaa...," ujar dia sambil merengek.

"Bagaimana?"

"Berenang..."

"Tidak! Dia tadi berlari! Sumpah demi Tuhan! Anak kecil itu tadi berlari di atas air!"

Serentak orang-orang itu bicara hal yang sama, nyaris keras seperti bantahan. Saketi semakin ketakutan dan merangkul bapaknya. Wanadri segera memeluk anaknya dan mengakhiri kemustahilan ini; pulang.

Benak Wanadri terus digumuli ketakjuban. Siapakah kamu, anakku? gumamnya dalam hati sambil memandangi wajah anaknya yang pulas tertidur. Tetapi perenungannya tidak tuntas. Sedari tadi ia terganggu oleh suara pertengkaran tetangga sebelah. Di pelataran, Wanadri melihat isteri Sokran si tukang becak, sedang mengusir suaminya,

"Macam bayi saja kamu! Uang sekolah anakmu kamu makan! Kemarin kamu curi gajiku, sekarang berani-beraninya kamu mau jual televisi hanya untuk berjudi!"

"Judi itu menganakkan uang. Nanti kalau menang juga untuk siapa!?" bantah Sokran.

"Kapan kamu menjadi pemenang!! Selamanya bayi ya tetap bayi! Minggat kamuu!"

Sementara mak dan bapaknya terlibat dalam baratayudha itu, Kopet, anak lelaki satu-satunya pasangan sangar itu terdiam sambil tangannya terus melap sepedanya. Drama pun selesai. Wanadri masuk.

Rasa takjub kepada anaknya mengalahkan peristiwa rumah tangga Sokran. Tiba-tiba terlintas kecemasan dalam diri Wanadri bahwa dia kelak tidak akan mampu menghadapi anaknya. Karena tiba-tiba saja ia merasa menjadi orang asing kepada anaknya. "Adakah antara anak dan orangtua itu sesungguhnya asing?" batin Wanadri. Adakah orangtua-anak yang sungguh-sungguh bisa memahami siapa mereka sesungguhnya, dan hubungan macam apa yang sesungguhnya berlangsung? Jika ketidaktahuan muncul, tidakkah sebaiknya sesama manusia saling menghormati, supaya tidak membuat kesalahan.

Wanadri meraih tangan anaknya di tengah lelap tidurnya. Ia cium punggung tangan anaknya, seperti ia mencium tangan kiai. Hatinya bergumam, "Kamu anakku, kamu bukan anakku. Mungkin saja kita ini kawan yang dijodohkan. Shubanallah.... (35)

Omahkebon, Juli 2007.


Sebatang Pohon Tomat dan Batu Nisan

Sebatang Pohon Tomat dan Batu Nisan
Hamdy Salad


LELAKI itu memang aneh. Hampir setiap hari ia datang ke kuburan dengan sebotol Aqua di tangan. Lalu menyiramkan air dalam botol itu ke atas gundukan tanah yang membujur di antara dua batu nisan. Memang, ada pohon tomat yang tumbuh di situ. Tetapi apa keistimewaan sebatang pohon tomat?

Begitulah, lelaki itu selalu datang dan kemudian pergi. Membuka dan menutup masa lalu antara tiga sampai jam enam sore. Seturut waktu ketika istrinya sedang sakaratul maut, dan kemudian mengembuskan napas terakhir kali bersamaan tenggelamnya matahari. Namun tak banyak yang tahu, kenapa ia begitu sayang dengan sebatang pohon tomat yang tumbuh di atas kubur istrinya.

Pada mulanya, orang-orang kampung mengira bahwa lelaki setengah baya itu sudah gila. Setidaknya sedang diserang oleh depresi dan putus asa karna tidak mampu melupakan beban berat kehidupan nyata, amanat bumi yang tak bisa diangkat, walau siang dan malam telah berganti berulang-ulang. Apalagi jika orang hanya melihat pada sosoknya. Pada penampilan yang terlihat oleh mata telanjang. Tak ada pilihan lain kecuali menyebutnya sebagai lelaki miring, kurang waras atau sinthing.

Memang, jika dilihat dari cara berjalan, langkah kakinya sedikit goyang dan miring. Menekan kuat sandal jepit warna merah. Kadang condong ke kiri, kadang juga ke kanan. Matanya cekung, menatap jauh ke alam lain yang tak bisa disentuh. Wajahnya kuyu dan berminyak. Pakaiannya sedikit kumal, kuning daun layu, karena selalu itu yang menempel di tubuhnya setiap kali datang ke kuburan. Dan seolah, bau keringat yang keluar dari lubang pori-pori kulitnya, sudah lama tak diingat. Dibiarkan leleh dan lekat seperti cairan lumpur warna cokelat.

Sepertinya, kecuali aku, tak ada orang lain yang pernah bertanya kenapa lelaki itu selalu datang dan pergi ke tempat yang sama. Melakukan kegiatan yang sama dari hari ke hari. Hingga aku mingintai sosoknya sampai ia melintasi pagar dan masuk ke dalam rumahnya yang sunyi. Sendiri. Sepertinya juga, hanya aku yang pernah mendekati dan mengajaknya bicara pada suatu ketika. Entah kapan, aku pun lupa, tanggal berapa dan hari apa saat kali pertama aku duduk di sampingnya. Berdua di antara batu nisan. Mendekap zaman yang telah berubah menjadi bayang-bayang.

"Di penghujung tahun lalu, istriku, istriku..."

Lelaki itu tergagap. Lalu memutar lidahnya sedikit demi sedikit dengan potongan kalimat yang sulit dipahami. Dan dengan potongan-potongan kalimat itu, aku mulai tertarik untuk menyusun kisahnya. Kisah lampau yang mengiang dalam ingatanku. Membuat aku lebih mengerti, dan memahami kelakuannya yang aneh itu sebagaimana adanya. Juga soal perempuan yang amat sangat dicintai, walau kini telah di alam baka dan belum memberi keturunan sampai akhir hayatnya.

"Kalau saja aku tahu bahwa penyakit itu dapat disembuhkan dengan tomat... mungkin saja sudah terwujud kebun tomat di belakang rumahku. Ya Tuhan..."

Serupa lembaran buku yang mulai terbuka, setiap orang boleh membaca dan menafsir segala abjad yang melintas di dekat pelupuk mata. Begitu pun aku, meski tak sesempurna telinga kelinci dalam menangkap sinyal mangsanya, kemampuanku untuk menyusun huruf dan kata-katanya, tidak sedikit orang yang percaya pada cerita ini.

"Kalau saja aku bisa membuat serbuk dari biji-biji tomat, mungkin saja bukan hanya istriku, tapi juga orang lain yang mengalami penderitaan serupa... kalau saja aku tahu ada penyakit yang telah menyerangnya, sejak sebelum kukenal cintanya. Ya Tuhan, kalau saja aku..."

Penyesalan itu kemudian mengalir ke dalam telingaku. Lalu menumpuk dan tersusun serupa benteng luka dalam kehidupan manusia. Kelahiran dan kematian. Pertemuan dan perpisahan. Begitu cepat, bak kilat menyembur di udara fana. Tak seorang pun yang bisa mengingat kecuali hanya menerka. Membayangkan kisah lama dalam kehidupan baru. Membayang juga akhirnya kisah mula lelaki itu.

Enam ratus menit sebelum malaikat Izrail mencabut nyawa istrinya, perempuan yang sangat dicintai itu meninggalkan wasiat kepadanya. "Jika kumati, tanamlah pohon tomat di atas kuburku, dan jangan biarkan pohon itu mengering tanpa buah, lalu rata ke tanah seperti tubuh dan jiwa dalam rahimku." Ketika itu, degup jantung sang istri merasuk ke dalam degup jantungnya. Hingga lelaki yang belum merasai nikmat menjadi bapak itu tak bisa menolak. Apalagi mangkir, meminta ralat atas permohonan sang istri untuk kali terakhir. Bahkan tak sempat juga ia mengingat kenapa wasiat itu diucapkan. Kenapa pula bukan soal harta gono-gini, soal adik dan perempuan lain yang mampu menghargai kepergiaannya ke hadirat ilahi.

"Aku menyesal, dan hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengingatnya. Aku menyesal, karena telah menolaknya untuk menanam tomat dalam sebuah pot bunga. Aku menyesal karena selalu menyangkal untuk menyediakan buah tomat dalam kulkas, dan di atas meja makan. Ya Tuhan...."

Lelaki itu kemudian runduk. Menyerupa bunga matahari yang telah tua. Menghadapkan wajahnya ke atas gundukan tanah. Memukuli dahi berulang-ulang dengan dua kepalan tangan. Lalu menepis cincin kenangan dari jari manis, dan menyelinapkannya di antara kering bunga. Kemudian bersijingkat, mendekap kayu nisan sembari berucap dengan penuh semangat. Tapi aku tak sempat bertanya, kecuali mendengarkan. Kadang menatap dan memperhatikan gumpalan sesal yang meleleh di pipinya. Mengurai yang ada dan tiada dengan air mata Sudah lebih dari sepuluh tahun, sesalnya lagi, belum tahu kesenangan istrinya. Belum tahu pula masalah penyakit yang diderita sampai beberapa hari sebelum meninggal.

"Kau memang tomat. Wajahmu ranum seperti tomat matang yang baru dipetik dari kebun...."

Lelaki itu memuji ke arah batu nisan, dan terdiam dalam impian. Lalu aku berkata sekenanya, mengisi kesempatan yang terbuka di dekatnya.

"Sebatang pohon tomat adalah satu di antara jutaan pabrik kimia raksasa yang diciptakan Tuhan di muka bumi ini...."

Entah apa. Kata-kata itu terdengar nyaring di telinganya seolah bunyi dan nasihat yang sedang dicari. Lalu ia mendongak, kedua matanya tebelalak. Seolah ada pesan dari langit yang baru turun ke bumi. Tergagap dan berharap lebih banyak, untuk mendengar suara yang sudah lama dinanti setiap kali datang di atas kuburan sang istri.

"Bagaimana jika bukan di atas kuburan ini, tapi di kebun atau di halaman rumah saja pohon tomat itu ditanam dan dirawat sebaik-baiknya," aku berbisik di dekat daun telinga kanannya.

"Oh... Istriku! Kalau saja aku tahu bahwa tubuhmu memerlukan tomat, tentu aku tak merasa ragu untuk mengatakan cintaku padamu. Sebab aku tak perlu menulis surat cinta yang panjang saat itu, saat pertama aku terpikat oleh cahaya jiwamu..."

"Buah dan sayur tumbuh dari tanah yang sama, dari air yang sama, dari tempat yang sama, tapi tetap saja beda rasa dan aromanya. Apa yang menyebabkan lombok, terong, dan tomat berbeda rasa, berbeda pula manfaatnya, tak ada yang tahu secara nyata. Tak ada juga yang mengerti kenapa buah-buah itu tidak bercampur warna dan keindahannya."

Kutambah kata di telinganya. Segala yang melintas di pikiran, kuucapkan begitu saja sebagai umpan. Karena memang aku pernah membaca bahwa pohon tomat atau solanum lycopersicum, disebut juga sebagai apel cinta. Love aplle. Sejenis buah yang mengandung sari obat bagi para pecinta.

"Aku ingin menyatakan cinta pada istriku dengan buah tomat. Lalu kutaman biji tomat dalam pot bunga... lalu kusiram setiap hari, sambil menunggu cintaku tergores di kulit buah yang ranum itu...."

"Dulu sekali ada orang menanam biji, lalu tumbuh dan disebut sebagai pohon tomat. Kemudian ada orang lain yang menanamnya lagi, dan menjadikan buahnya sebagai obat untuk menyembuhkan kanker usus."

"Aku tak mau! Aku tak ingin, sayang, jiwamu seperti tomat matang, yang lembek jika dibanting ke lantai, hingga lantai jadi becek oleh biji dan dagingnya...."

Lelaki itu menangis. Meneteskan air mata. Entah yang keberapa. Ia berteriak ke arah langit yang mulai gelap. Seolah ingin memanggil matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat. Mengharap dan menyayang segala yang akan dan telah menghilang. Kemudian bergerak mengelilingi kuburan sang istri. Berputar dan berputar lebih dari sepuluh kali. Sampai ambruk dalam separuh ingatan. Lalu duduk kembali sambil mendekap dan menciumi batu nisan.

"Kaulah tomat dalam mimpiku. Ranum dan segar untuk di makan para pecinta buah-buahan. Akulah pecinta buah tomat..." Dan senja pun pergi. Sebagaimana lelaki itu pergi dan berjalan gontai menuju rumahnya yang sunyi. Sendiri. Menunggu matahari yang terbit dan tenggelam. Meminang bulan dan bintang di tengah malam. Tanpa teman. Mungkin juga mengembara seperti para musyafir mencari cinta.

Sebab, sejak peristiwa senja itu, aku tak pernah lagi melihatnya datang ke kuburan. Bahkan juga tak ada baying-bayang melintas di sekitar rumahnya. Entah ke mana lelaki itu menghilang. Seperti zat dalam buah tomat, kewarasan dan kegilaan tak bisa bercampur. Tapi orang sering salah memandang dengan mata telanjang. Seolah dunia bukanlah buah sayuran. Bukan pula kalender dan hari-hari yang hanya tergantung di dinding sunyi. Yang selalu menipu diri dengan angka-angka mati.

Semingu, bulan dan tahun, lelaki itu belum juga kembali. Sedang aku, seperti orang-orang kampung lainya, tak pernah tahu ke mana ia pergi. Tapi aku tetap mengenangnya sebagai manusia. Bukan si gila atau orang yang hilang dari ingatan dunia. Mungkin itu sebabnya, lelaki itu tak pernah hilang dari ingatanku. Meninggalkan pesan padaku, sebelum akhirnya menjadi misteri. Antara ada dan tiada. Bahwa hidup harus dilanjutkan, dengan berbagai cara, meski hanya untuk menanam dan merawat sebiji tomat.

Yogyakarta, 2007