SELAMAT DATANG SAHABAT

SELAMAT DATANG SAHABAT

Anda adalah pengunjung yang ke .....

Counter

video denmas

Minggu, 06 Januari 2008

Jauhkan Bayi dari TV!

Jauhkan Bayi dari TV!

Lihat Gambar

KapanLagi.com - Meski sudah banyak diciptakan acara khusus televisi dan rancangan film untuk bayi, tetap tak bisa mengubah pemikiran bahwa televisi bisa membawa dampak buruk bagi otak si kecil. Menurut sejumlah dokter spesialis yang dimuat dalam majalah kedokteran Jerman awal pekan ini secara tegas menyebutkan bahwa televisi secara mendasar tidak baik bagi otak bayi.

"Acara khusus televisi dan DVD rancangan khusus bagi bayi yang mengklaim dapat meningkatkan perkembangan otak secara nyata lebih membawa pengaruh buruk bagi perkembangan otak bayi," demikian pernyataan dokter ahli yang dimuat dalam majalah Neu-Isenburg.

Bayi belajar mengalami gangguan dari televisi, kata laporan ilmuwan yang mengacu kepada daya kerja otak yang merupakan penelitian Profesor Manfred Spitzer dari Ulm. Menurut Manfred Spitzer bayi tak dapat memproses rangkaian dari tampilan benda maupun suara dari televisi.

Spitzer mengatakan dalam satu penelitian di Amerika Serikat sekelompok bayi yang memiliki kisaran umur sembilan hingga 12 bulan dibacakan cerita dalam bahasa China sementara sekelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi.

Bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan berselang dapat mengenali suara dalam bahasa China namun kelompok dua yang melulu hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di televisi tidak mempelajari apapun.

Para peneliti otak mengatakan bahwa letak televisi yang salah dapat berbahaya apabila seorang dewasa membacakan cerita bagi bayinya. Menurut satu penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8 persen lebih banyak dari rata-rata.

Jumlah perbendaharaan kata anak-anak yang banyak melihat acara Baby TV atau DVD yang khusus diperuntukkan bagi bayi adalah 20 persen lebih rendah dari jumlah kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. (kpl/boo)

Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa

Anak Teraniaya Berpotensi Jadi Miskin Saat Dewasa

Lihat Gambar






Dan kemalangan yang dialami seseorang di masa kanak-kanak memberikan kontribusi besar pada kemiskinan hidup yang dialaminya di saat dewasa, kata seorang peneliti Universitas Monash Australia.

Korelasi erat antara pengalaman buruk masa kanak-kanak dan kemiskinan itu diungkapkan Direktur Pusat Nasional Riset Pencegahan Penganiayaan Anak (NRCPCA) Universitas Monash, Prof.Chris Goddard, berdasarkan hasil riset terbaru pihaknya.

Hasil penelitian yang telah dipublikasikan di Jurnal Internasional Child Abuse Review itu, katanya, mendapati pengalaman buruk dan malang di masa kanak-kanak berhubungan erat dengan fungsi keluarga, seperti penganiayaan terhadap anak, kekerasan keluarga, kehidupan keluarga yang porak-poranda serta anak-anak lari dari rumah di usia belia mereka.

Prof.Goddard mengatakan, semua pengalaman buruk tersebut memberikan sumbangan besar terhadap terjadinya kemiskinan sebagaimana dialami sekelompok orang yang hidupnya miskin di usia dewasanya.

Dari hasil kajian yang menggunakan metode wawancara berkedalaman dengan para respondennya itu, terungkap bahwa akumulasi kemalangan hidup di masa kanak-kanak tersebut tidak hanya membawa masalah kesehatan fisik dan kejiwaan tetapi juga memengaruhi kemampuan orang bersangkutan untuk bisa mencapai sukses dalam mengikuti sistem pendidikan dan lapangan kerja.

Akibatnya, mereka yang mengalami kemalangan dan hal-hal buruk lainnya semasa kanak-kanaknya akan menghadapi persoalan dalam kemampuan fisik, kejiwaan dan ekonominya di dalam kehidupan mereka kelak, katanya.

Sementara itu, Peneliti senior NRCPCA, Dr.John Frederick berpendapat, untuk membantu mereka yang mengalami masa kanak-kanak yang suram sehingga terhindar dari kemungkinan masuk ke dalam jurang kemiskinan, instansi terkait, seperti lembaga pelayanan perlindungan anak, perlu memberikan dukungan kepada mereka secara efektif sejak dini.

Intervensi yang efektif semacam itu merupakan modal terbaik bagi mereka, katanya. (*/cax)

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Lihat Gambar

Khawatir merupakan salah satu aktivitas yang paling tak berguna yang biasanya kita lakukan. Rasa khawatir yang didasarkan emosi apalagi, malah akan membuat keadaan jadi semakin buruk. Bahkan, menurut sebuah penelitian menunjukkan kalau beberapa penyakit dan masalah kesehatan disebabkan oleh rasa khawatir ini. Setiap orang pasti merasakan khawatir akan banyak permasalahan kehidupan ini. Dan mengatasi emosi berbahaya ini adalah salah satu cara yang berguna untuk menjaga kesehatan Anda.

- Semua orang dalam hidup ini pasti pernah menghadapi situasi yang sulit. Orang-orang yang mampu mengatasi keadaan ini, lebih sukses, sehat dan bahagia. Tapi yang membiarkan dirinya ditelan habis-habis oleh rasa khawatir ini, akan mengalami kehidupan yang penuh dengan tekanan.

- Banyak guru spiritual sepanjang sejarah telah mengajarkan nilai pelajaran dari fokus pada saat ini. Melakukan hal ini akan mengurangi rasa khawatir secara instant. Orang biasanya merasa khawatir saat mulai memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari soal masalah yang dihadapi saat ini. Setiap individu tak punya pilihan tapi bukan berarti membayangkan hal-hal yang belum terjadi akan membut masalah jadi selesai. Akan lebih mudah bagi kita untuk bertahan pada SAAT INI. Sering-sering lah berlatih seperti ini.

- Pikiran manusia itu sebuah mesin yang kreatif. Saat orang membayangkan masa depan, mereka akan terdorong membayangkan juga 'skenario buruk.' Banyak pengalaman yang menunjukkan biasanya keadaan sebenarnya jauh berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan. Kebanyakan masalah yang kita hadapi terpecahkan dengan cara yang layak sesuai dengan penerimaan kita. Sebenarnya, kita sendiri yang selalu mendorong diri sendiri untuk merasa takut dan khawatir.

- Cara termudah mengatasi rasa khawatir adalah menjawab tiga pertanyaan. Menggunakan tiga proses ini akan membantu Anda mengambil tindakan penting mengatasi rasa takut dan melakukan tindakan. Lakukan dalam hidup Anda, dan lihat hasilnya. Tiga pertanyaan tersebut adalah:

1. Tanyakan pada diri Anda hal buruk apa yang akan terjadi dalam masalah ini? Biasanya, jawabannya datang secara alamiah. Dalam hal ini, proyeksi negatif juga membantu. Bayangkan hal buruk apa yang bisa terjadi.

2. Tanyakan pada diri Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi keadaan ini? Kalau muncul bayangan-bayangan buruk sebagai hasilnya, yakinkan diri Anda pasti mampu bertahan dengan keadaan itu. Apa pun yang terjadi yang bisa Anda bayangkan pasti lebih mudah untuk Anda atasi.

3. Akhirnya, tanyakan pada diri Anda langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk memastikan skenario-skenario buruk itu tak akan pernah terjadi? Dengan melakukan tindakan untuk mencegah kesimpulan buruk terjadi, kita bergerak ke hasil yang lebih baik. Kebetulan, tindakan adalah pemecahan paling konsisten dalam mengatasi rasa khawatir.

Saat kita menghadapi situasi buruk, biasanya memang cenderung terus-menerus memikirkan situasi yang salah itu, dan mendorong kita jadi stress berat. Jadi mudah saja, tiap kali kekhawatiran menyerang praktekkan langkah-langkah tadi. (kpl/erl)

Jari Manis Peneropong Segalanya

Jari Manis Peneropong Segalanya

Lihat Gambar

Wanita yang memiliki jari manis lebih panjang ada baiknya mulai berhati-hati, pasalnya penelitian terbaru menyebutkan wanita dengan ukuran jari manis lebih panjang dari jari telunjuknya rentan mengalami gangguan radang sendi (arthritis).

Pada umumnya jari telunjuk dan jari manis pada wanita memiliki panjang yang sama, sementara pada pria jari manis cenderung lebih panjang dari jari telunjuknya.

Ilmuwan mendapati wanita yang memiliki jari manis lebih panjang beresiko ganda mengidap osteoarthritis (penyakit degeneratif pada persendian), dibanding mereka yang memiliki jari berukuran standar.

"Wanita yang memiliki jari manis dengan pola pria atau jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk beresiko menderita osteoathritis pada lutut. Mekanisme dasarnya belum jelas dan masih dibutuhkan penelitian lebih jauh tentang hal ini," jelas Professor Michael Doherty, ketua penelitian, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Jumat (04/01/08).

Untuk riset ini, para peneliti dari Universitas Nottingham menganalisa jemari tangan 2 ribu penderita radang sendi dan seribu orang tanpa gangguan arthritis di usia ke-60.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism ini menggunakan bantuan sinar X pada kedua tangan responden dan mengukur panjangnya jari menggunakan tiga metode yang meliputi perbandingan jarak pangkal di antara dua jari, mengukur rasio dari pangkal sampai ujung jari, dan mengukur rasio panjang tulang jari manis dan telunjuk.

Faktor-faktor lain juga dilibatkan dalam riset ini, seperti kurangnya berolah raga atau kemungkinan cedera yang pernah dialami responden.

Dan hasilnya mayoritas penderita arthritis dijumpai pada wanita yang memiliki jari manis lebih panjang.

Panjang Jari dan Homoseksualitas

Studi perbandingan dua jari (jari manis dan jari telunjuk) dan radang sendi ini baru pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya penelitian tentang perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis terhadap tingkat kecerdasan pernah dilakukan pada awal 2007 lalu.

Meski belum bisa menemukan penyebab pastinya, namun ilmuwan yakin faktor genetik juga turut berperan. Sementara yang lainnya mengkaitkan hubungan hormon testosteron dalam kandungan.

Teori ini didasarkan pada kenyataan tingkat testosteron dan estrogen yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil, dan tentu saja juga berbeda pada tingkat pertumbuhan otak dan pertumbuhan jari bayi yang dikandung.

Sebelumnya ilmuwan dari University of Liverpool menyatakan hubungan panjang jari-jari manusia dengan kepribadian manusia. Mereka menemukan tendensi depresi dan homoseksual pada pria yang memiliki jari telunjuk lebih pendek dari jari manis, dan hal yang sama juga berlaku juga pada perempuan yang memiliki jari manis lebih panjang.

Sementara itu, sebuah studi di Kanada pada 2005 lalu menemukan jari telunjuk yang lebih pendek menunjukkan tingkat agresif pada anak-anak.

Dan tahun lalu, para psikolog dari Bath University mengukur tingkat kecerdasan anak-anak dilihat dari panjang jari mereka. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan berhitung lebih tinggi dibanding kemampuan verbal dan bahasa. Sebaliknya, anak yang jari telunjuknya lebih panjang memiliki kemampuan verbal dan membaca yang lebih baik. (dailymail/rit)

Kabar Penting

Bagi anda yang menginginkan kabar tentang sertifikasi guru, khususnya yang dari Kalimantan Barat. Cukup dari sini saja anda sudah dapat mengetahui semuanya.
Silahkan dicoba.