SELAMAT DATANG SAHABAT

SELAMAT DATANG SAHABAT

Anda adalah pengunjung yang ke .....

Counter

video denmas

Minggu, 06 Januari 2008

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Langkah Mudah Atasi Rasa Khawatir

Lihat Gambar

Khawatir merupakan salah satu aktivitas yang paling tak berguna yang biasanya kita lakukan. Rasa khawatir yang didasarkan emosi apalagi, malah akan membuat keadaan jadi semakin buruk. Bahkan, menurut sebuah penelitian menunjukkan kalau beberapa penyakit dan masalah kesehatan disebabkan oleh rasa khawatir ini. Setiap orang pasti merasakan khawatir akan banyak permasalahan kehidupan ini. Dan mengatasi emosi berbahaya ini adalah salah satu cara yang berguna untuk menjaga kesehatan Anda.

- Semua orang dalam hidup ini pasti pernah menghadapi situasi yang sulit. Orang-orang yang mampu mengatasi keadaan ini, lebih sukses, sehat dan bahagia. Tapi yang membiarkan dirinya ditelan habis-habis oleh rasa khawatir ini, akan mengalami kehidupan yang penuh dengan tekanan.

- Banyak guru spiritual sepanjang sejarah telah mengajarkan nilai pelajaran dari fokus pada saat ini. Melakukan hal ini akan mengurangi rasa khawatir secara instant. Orang biasanya merasa khawatir saat mulai memikirkan apa yang akan terjadi di kemudian hari soal masalah yang dihadapi saat ini. Setiap individu tak punya pilihan tapi bukan berarti membayangkan hal-hal yang belum terjadi akan membut masalah jadi selesai. Akan lebih mudah bagi kita untuk bertahan pada SAAT INI. Sering-sering lah berlatih seperti ini.

- Pikiran manusia itu sebuah mesin yang kreatif. Saat orang membayangkan masa depan, mereka akan terdorong membayangkan juga 'skenario buruk.' Banyak pengalaman yang menunjukkan biasanya keadaan sebenarnya jauh berbeda dari apa yang pernah kita bayangkan. Kebanyakan masalah yang kita hadapi terpecahkan dengan cara yang layak sesuai dengan penerimaan kita. Sebenarnya, kita sendiri yang selalu mendorong diri sendiri untuk merasa takut dan khawatir.

- Cara termudah mengatasi rasa khawatir adalah menjawab tiga pertanyaan. Menggunakan tiga proses ini akan membantu Anda mengambil tindakan penting mengatasi rasa takut dan melakukan tindakan. Lakukan dalam hidup Anda, dan lihat hasilnya. Tiga pertanyaan tersebut adalah:

1. Tanyakan pada diri Anda hal buruk apa yang akan terjadi dalam masalah ini? Biasanya, jawabannya datang secara alamiah. Dalam hal ini, proyeksi negatif juga membantu. Bayangkan hal buruk apa yang bisa terjadi.

2. Tanyakan pada diri Anda, apa yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi keadaan ini? Kalau muncul bayangan-bayangan buruk sebagai hasilnya, yakinkan diri Anda pasti mampu bertahan dengan keadaan itu. Apa pun yang terjadi yang bisa Anda bayangkan pasti lebih mudah untuk Anda atasi.

3. Akhirnya, tanyakan pada diri Anda langkah apa yang dapat Anda lakukan untuk memastikan skenario-skenario buruk itu tak akan pernah terjadi? Dengan melakukan tindakan untuk mencegah kesimpulan buruk terjadi, kita bergerak ke hasil yang lebih baik. Kebetulan, tindakan adalah pemecahan paling konsisten dalam mengatasi rasa khawatir.

Saat kita menghadapi situasi buruk, biasanya memang cenderung terus-menerus memikirkan situasi yang salah itu, dan mendorong kita jadi stress berat. Jadi mudah saja, tiap kali kekhawatiran menyerang praktekkan langkah-langkah tadi. (kpl/erl)

Jari Manis Peneropong Segalanya

Jari Manis Peneropong Segalanya

Lihat Gambar

Wanita yang memiliki jari manis lebih panjang ada baiknya mulai berhati-hati, pasalnya penelitian terbaru menyebutkan wanita dengan ukuran jari manis lebih panjang dari jari telunjuknya rentan mengalami gangguan radang sendi (arthritis).

Pada umumnya jari telunjuk dan jari manis pada wanita memiliki panjang yang sama, sementara pada pria jari manis cenderung lebih panjang dari jari telunjuknya.

Ilmuwan mendapati wanita yang memiliki jari manis lebih panjang beresiko ganda mengidap osteoarthritis (penyakit degeneratif pada persendian), dibanding mereka yang memiliki jari berukuran standar.

"Wanita yang memiliki jari manis dengan pola pria atau jari manis lebih panjang daripada jari telunjuk beresiko menderita osteoathritis pada lutut. Mekanisme dasarnya belum jelas dan masih dibutuhkan penelitian lebih jauh tentang hal ini," jelas Professor Michael Doherty, ketua penelitian, seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Jumat (04/01/08).

Untuk riset ini, para peneliti dari Universitas Nottingham menganalisa jemari tangan 2 ribu penderita radang sendi dan seribu orang tanpa gangguan arthritis di usia ke-60.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Arthritis & Rheumatism ini menggunakan bantuan sinar X pada kedua tangan responden dan mengukur panjangnya jari menggunakan tiga metode yang meliputi perbandingan jarak pangkal di antara dua jari, mengukur rasio dari pangkal sampai ujung jari, dan mengukur rasio panjang tulang jari manis dan telunjuk.

Faktor-faktor lain juga dilibatkan dalam riset ini, seperti kurangnya berolah raga atau kemungkinan cedera yang pernah dialami responden.

Dan hasilnya mayoritas penderita arthritis dijumpai pada wanita yang memiliki jari manis lebih panjang.

Panjang Jari dan Homoseksualitas

Studi perbandingan dua jari (jari manis dan jari telunjuk) dan radang sendi ini baru pertama kalinya dilakukan. Sebelumnya penelitian tentang perbedaan panjang jari telunjuk dan jari manis terhadap tingkat kecerdasan pernah dilakukan pada awal 2007 lalu.

Meski belum bisa menemukan penyebab pastinya, namun ilmuwan yakin faktor genetik juga turut berperan. Sementara yang lainnya mengkaitkan hubungan hormon testosteron dalam kandungan.

Teori ini didasarkan pada kenyataan tingkat testosteron dan estrogen yang berbeda-beda pada setiap ibu hamil, dan tentu saja juga berbeda pada tingkat pertumbuhan otak dan pertumbuhan jari bayi yang dikandung.

Sebelumnya ilmuwan dari University of Liverpool menyatakan hubungan panjang jari-jari manusia dengan kepribadian manusia. Mereka menemukan tendensi depresi dan homoseksual pada pria yang memiliki jari telunjuk lebih pendek dari jari manis, dan hal yang sama juga berlaku juga pada perempuan yang memiliki jari manis lebih panjang.

Sementara itu, sebuah studi di Kanada pada 2005 lalu menemukan jari telunjuk yang lebih pendek menunjukkan tingkat agresif pada anak-anak.

Dan tahun lalu, para psikolog dari Bath University mengukur tingkat kecerdasan anak-anak dilihat dari panjang jari mereka. Mereka yang memiliki jari manis lebih panjang dari jari telunjuk cenderung memiliki kemampuan berhitung lebih tinggi dibanding kemampuan verbal dan bahasa. Sebaliknya, anak yang jari telunjuknya lebih panjang memiliki kemampuan verbal dan membaca yang lebih baik. (dailymail/rit)

Kabar Penting

Bagi anda yang menginginkan kabar tentang sertifikasi guru, khususnya yang dari Kalimantan Barat. Cukup dari sini saja anda sudah dapat mengetahui semuanya.
Silahkan dicoba.

Senin, 19 November 2007

Rabb

Rabb
Dahulu, saat awal penciptaanku, aku takut turun ke bumi. Aku takut sendiri. Tapi Kau menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang selalu menjagaku dengan kelembutan dekapannya, bahkan sampai rela mengorbankan jiwanya.


Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku khawatir bahwa bumi tak seindah surga. Tapi, Allah menjanjikan aku, bahwa di bumi nanti, akan ada malaikat yang mengajakku menikmati indahnya dunia dengan iman.

Dahulu, aku takut turun ke bumi. Aku takut tidak bisa berjumpa denganMu lagi. Tapi Allah menjanjikanku, bahwa nanti di bumi, akan ada malaikat yang membimbingku tuk mengenal Islam.

Duhai jiwa, terkenanglah kembali sosok malaikat itu. Ibu...

Lahirku ke dunia, berhutang darah dan nyawa pada ibuku. Perjuangan yang melalui garis batas antara hidup dan mati. Pengorbanan yang bukan dilakukan oleh pria yang gagah-perkasa, tapi oleh wanita dengan segala kelemahannya.

Ibu, maafkan aku...

Lahirku ke dunia, belum mengenal rintihan sakit yang kau derita. Lahirku ke dunia, belum mengenal hebatnya perdarahan yang kau alami. Dan lahirku di dunia pun, belum mengenal perih yang kau rasa.

Ibu, maafkan aku...

Kecilku dulu, aku belum mengenal kantukmu yang terbangun karena tangisanku. Pun aku belum mengenal lelahmu merawat dan membesarkanku. Ya, aku masih belum mengenal air mata yang selalu mengalir tiap saat kau mendo'akanku.

Ibu, maafkan aku...

Saat ku mulai bersekolah, aku masih saja belum menyadari bahwa kenakalanku cukup menguras kesabaranmu. Kejengkelan hatiku saat kanak-kanak dahulu, pernah berbuah bentakan padamu. Ibu, aku belum menyadari bahwa hatimu terluka, teriris perih, tapi kau tetap membelaiku lembut tanpa ada beda dari sebelumnya. Kontras dengan kerasnya intonasi ucapanku saat itu padamu.

Ibu, maafkan aku...

Remajaku dulu, aku masih belum mengenal bahasa penjagaanmu padaku. Kau larang aku pergi malam, kau menyuruhku tuk tetap tinggal, menemanimu yang tengah sendiri di rumah. Tapi aku lebih memilih keceriaan bersama teman. Aku lebih memilih kebersamaan bersama mereka.

Duhai Ibu, sekali lagi, maafkan anakmu, aku belum mengerti betapa berharganya kehadiranmu dalam segmen-segmen hidupku.

***

Mendungnya kota Pontianak sore ini, mengajak hatiku tuk merindu. Kelembutan awan kali ini, mengingatkanku akan kelembutan kasih sayang ibu. Keteduhan langit kali ini, membawaku teringat kembali akan keteduhan sorot mata ibu. Dingin yang kurasa ini, mengingatkanku akan hangatnya pelukan ibu.

Rabb, aku tak ingin mengenalnya kala ia telah tiada. Dewasaku kini, tak ingin terlambat mengenalnya. Aku tak ingin terlambat lagi memahami kasih sayang, pengorbanan, dan ketulusannya.


Ibu...

Jagalah ia selalu, Rabb. Cintailah ia melebihi cintanya padaku. Hadirkan selalu keridhaanMu, sebagaimana ia selalu menghadirkan kebahagiaan dalam relung jiwaku. Tuntunlah ia menapaki jalan syurgaMu, sebagaimana ia selalu menuntunku tuk semakin mengenalMu. Dan baikkanlah akhir hayatnya, Rabb, melebihi baiknya kemuliaan akhlak yang ia ajarkan padaku.

Gaji Papa Berapa?

Untuk para orangtua yang selalu sibuk, mungkin bisa jadi renungan...
Untuk para calon orangtua, mungkin bisa dijadikan sebagai pegangan..


Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.

Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.

Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, "Aku
nunggu Papa pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?"

"Lho tumben, kok nanya gaji Papa ? Mau minta uang lagi, ya ?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja" ucap Sarah singkat.

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp. 400.000,-. Setiap bulan rata-rata dihitung 22 hari kerja. Sabtu
dan Minggu libur, kadang Sabtu Papa masih lembur. Jadi, gaji Papa dalam satu
bulan berapa, hayo ?"

Sarah berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar sementara
Papanya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Andrew beranjak
menuju kamar untuk berganti pakaian, Sarah berlari mengikutinya. "Kalo satu
hari Papa dibayar Rp. 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam Papa digaji
Rp.

40.000,- dong" katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, tidur" perintah Andrew

Tetapi Sarah tidak beranjak. Sambil menyaksikan Papanya berganti pakaian,
Sarah kembali bertanya, "Papa, aku boleh pinjam uang Rp. 5.000,- enggak ?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini
? Papa capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah".

"Tapi Papa..."

Kesabaran Andrew pun habis. "Papa bilang tidur !" hardiknya mengejutkan
Sarah. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Andrew nampak menyesali hardiknya. Ia pun menengok Sarah di
kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Sarah didapati sedang
terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp. 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Andrew berkata,
"Maafkan Papa, Nak, Papa sayang sama Sarah. Tapi buat apa sih minta uang
malam-malam begini ? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp.
5.000,- lebih dari itu pun Papa kasih" jawab Andrew

"Papa, aku enggak minta uang. Aku hanya pinjam. Nanti aku kembalikan kalau
sudah menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini".

"lya, iya, tapi buat apa ?" tanya Andrew lembut.

"Aku menunggu Papa dari jam 8. Aku mau ajak Papa main ular tangga. Tiga
puluh menit aja. Mama sering bilang kalo waktu Papa itu sangat berharga.
Jadi, aku mau ganti waktu Papa. Aku buka tabunganku, hanya ada Rp. 15.000,-
tapi karena Papa bilang satu jam Papa dibayar Rp. 40.000,- maka setengah jam
aku harus ganti Rp. 20.000,-. Tapi duit tabunganku kurang Rp. 5.000,-
makanya aku mau pinjam dari Papa" kata Sarah polos.

Andrew pun terdiam. ia kehilangan kata-kata.
Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat dengan perasaan haru. Dia baru
menyadari, ternyata limpahan harta yang dia berikan selama ini, tidak cukup
untuk "membeli" kebahagiaan anaknya.